Ratusan Warga AS Gelar Demo Anti-Israel di New York

- Ratusan warga AS menggelar demo anti-Israel di New York dipimpin kelompok Jewish for Peace, menuntut penghentian dukungan dan pasokan bom AS ke Israel saat gencatan senjata berlangsung.
- Polisi New York menangkap sekitar 90 peserta demo yang bertindak anarkis, sementara Presiden Donald Trump menyebut aksi tersebut sia-sia dan mengganggu keamanan publik.
- Survei Pew Research Center menunjukkan 60 persen warga AS kini memiliki sentimen negatif terhadap Israel, meningkat tajam sejak 2022 akibat keterlibatan Israel dalam konflik regional.
Jakarta, IDN Times - Ratusan warga Amerika Serikat dilaporkan menggelar aksi demonstrasi anti-Israel besar-besaran di Kota New York pada Minggu (12/4/2026) siang waktu setempat. Demo tersebut dipimpin oleh kelompok anti-Zionis bernama Jewish for Peace.
Dalam demo tersebut, para peserta membawa poster bertuliskan no war, no fascism, no genocide, dan free Palestine. Mereka memprotes dukungan AS terhadap Israel yang terus melancarkan serangan ke Palestina dan Lebanon. Padahal, gencatan senjata kini sedang berlangsung.
1. Sebanyak 90 peserta demo ditangkap oleh polisi New York

Selain memprotes dukungan AS terhadap Israel, para peserta juga meminta dua anggota senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer dan Kirsten Gillibrand, untuk mendesak pemerintah agar berhenti memasok bom ke Israel. Sebab, bom-bom tersebut digunakan oleh Israel untuk menyerang Palestina dan Lebanon.
“Inilah saatnya Schumer dan Gillibrand harus mendengarkan konstituen mereka. Mayoritas warga Amerika (Serikat) dan New York menginginkan solusi atas apa yang dilakukan Pemerintah Israel,” kata Direktur Komunikasi Jewish Voice for Peace, Sonya Meyerson-Knox, seperti dilansir Times of Israel.
Dilansir Times of Israel, Selasa (14/4/2026), kepolisian New York berhasil menangkap sekitar 90 peserta demo yang berlaku anarkis. Mereka yang ditangkap langsung dimasukkan ke dalam tiga bus untuk dibawa ke pengadilan.
2. Demo anti-Israel sering terjadi di New York

Sejak 2024, New York memang sering menjadi tempat aksi demo anti-Israel yang dilakukan oleh warga AS. Di sana, mereka kerap melakukan protes dan bahkan sampai berujung anarkis. Maraknya aksi demo anti-Israel di New York ini lantas menuai respons dari Presiden AS, Donald Trump. Ia mengatakan demo tersebut merupakan hal yang sia-sia dan hanya mengganggu keamanan warga setempat.
Untuk meredam aksi demo anti-Israel di AS, Trump sudah melakukan berbagai langkah kontroversial. Beberapa di antaranya, seperti mendeportasi mahasiswa asing, mengancam akan membekukan pendanaan untuk universitas tempat protes diadakan, dan memerintahkan pihak berwenang untuk menyaring komentar media sosial dari para imigran. Sebab, Trump menilai komentar-komentar tersebut berpotensi menggiring massa untuk berdemo.
3. Banyak warga AS yang punya sentimen negatif terhadap Israel

Demo anti-Israel yang terjadi di New York ini menjadi salah satu gambaran bahwa warga AS kini makin geram dengan Israel. Hal ini diperkuat oleh sebuah survei yang menunjukkan bahwa 60 persen warga AS kini punya sentimen negatif terhadap Israel. Jumlah ini naik dari yang semula 20 persen pada 2022 karena Israel turut membantu AS menyerang Iran.
Survei tersebut dilakukan oleh Pew Research Center sejak Maret 2026 lalu. Dalam melakukan survei, lembaga tersebut menyebarkan pertanyaan ke 3.500 warga AS. Hasilnya, 6 dari 10 warga AS punya pandangan negatif soal Israel. Mereka menganggap Israel sebagai negara yang bengis karena terus memulai perang.

















