Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Arab Saudi Tutup Jalur Pipa Minyak Usai Serangan Drone dari Irak

Arab Saudi Tutup Jalur Pipa Minyak Usai Serangan Drone dari Irak
potret bendera Arab Saudi (unsplash.com/Akhilesh Sharma)
  • Arab Saudi menutup sementara pipa minyak Timur-Barat setelah drone dari Irak melukai sejumlah orang dan menimbulkan kerusakan yang masih dinilai.
  • Pipa sepanjang 1.200 kilometer ini mengalirkan 4–5 juta barel per hari, menjadi jalur vital ekspor Saudi saat Selat Hormuz sulit dilalui.
  • Irak menyelidiki peluncuran drone dari Maysan, sementara Arab Saudi belum membalas; di Yaman, Houthi dilaporkan merebut Pulau Perim dekat Bab el-Mandeb.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times  -Arab Saudi menutup sementara jalur pipa minyak Timur-Barat setelah serangan drone dari Irak. Pemerintah Arab Saudi menyatakan serangan itu menyebabkan sejumlah orang terluka dan kerusakan yang dampaknya masih dinilai. 

Kelompok Islamic Resistance in Iraq (IRI) membantah terlibat dalam serangan tersebut. Laman Tehran Times melansir bahwa kelompok ini siap berpartisipasi dalam komite pencari fakta pemerintah, sedangkan Palestine Chronicle menyebut mereka juga meminta Baghdad membentuk penyelidikan resmi untuk menentukan pihak mana yang bertanggung jawab. 

  1. 1. Pipa Timur-Barat menopang ekspor minyak Arab Saudi

    bendera Arab Saudi
    potret bendera Arab Saudi (pexels.com/Engin Akyurt)

    Dilansir Reuters, pipa Timur-Barat membentang sepanjang 1.200 kilometer melintasi Semenanjung Arab. Pipa ini mengalirkan sekitar 4–5 juta barel minyak per hari atau setara 4 hingga 5 persen pasokan minyak global. 

    Pipa tersebut menjadi jalur utama pengiriman minyak dari Timur Tengah dalam enam bulan terakhir ketika Selat Hormuz sebagian besar tidak dapat dilalui akibat perang. Jalur ini membantu Arab Saudi menyalurkan minyak tanpa melewati Selat Hormuz. 

    International Energy Agency (IEA) menyatakan pasokan minyak mentah Arab Saudi pada Jumat (11/9/2026) turun ke tingkat terendah dalam lebih dari tiga dekade. Penurunan itu sebagian dipicu oleh serangan kelompok yang berafiliasi dengan Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas di Bab el-Mandeb. 

  2. 2. Irak menyelidiki serangan, sedangkan Arab Saudi belum membalas

    bendera Irak
    potret bendera Irak (pexels.com/Engin Akyurt)

    Dilansir BBC, pemerintah Irak mencopot komandan operasi di Provinsi Maysan setelah mengonfirmasi bahwa drone penyerang diluncurkan dari wilayah tersebut. Pemerintah Irak juga membuka penyelidikan atas serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi itu. 

    Arab Saudi menyatakan belum akan membalas serangan tersebut setelah berkomunikasi dengan perdana menteri Irak. Riyadh menyebut akan mendukung upaya pemerintah Irak untuk mencegah serangan dari wilayahnya terhadap negara tetangga, tetapi tetap berhak mengambil langkah guna melindungi keamanan serta fasilitasnya. 

    Sementara itu, di Yaman, pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi menyatakan telah menyerang posisi Houthi di sekitar Kota Mokha. Juru bicara pasukan itu mengatakan serangan tersebut telah menghancurkan kendaraan dan senjata serta menewaskan beberapa pejuang Houthi. 

  3. 3. Houthi dilaporkan merebut Pulau Perim

    citra satelit Selat Bab el-Mandeb dan Pulau Perim, Yaman
    citra satelit Selat Bab el-Mandeb dan Pulau Perim, Yaman (commons.wikimedia.org/Koordenação-Geral de Observação da Terra/INPE)

    NBC News melansir bahwa Houthi telah menyelesaikan serangan cepat untuk menguasai pesisir Laut Merah Yaman. Kelompok itu dilaporkan merebut Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb, setelah sebelumnya menguasai Kota Mokha dan bergerak ke Kota Dhubab. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dilaporkan mundur dari pulau tersebut. 

    Houthi menyatakan pelayaran tetap aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal Arab Saudi. Penguasaan Pulau Perim berpotensi memperkuat kemampuan kelompok tersebut mengancam pelayaran di Bab el-Mandeb, salah satu jalur penting pengiriman energi dunia. 

    Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman juga dilaporkan meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil tindakan militer terhadap Houthi. Trump belum menyetujui serangan langsung, tetapi AS disebut membantu Arab Saudi menyusun dan mengoordinasikan target militer di Yaman serta berbagi informasi. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More