AS Luncuran Serangan Besar-besaran ke ISIS di Suriah

- Serangan udara besar-besaran AS di Suriah melibatkan puluhan pesawat tempur dan lebih dari 90 amunisi presisi.
- Operasi Hawkeye Strike diluncurkan sebagai balas dendam atas penyergapan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil.
- Suriah masih belum stabil pasca kejatuhan Assad, dengan ISIS mempertahankan grup-grup kecil di wilayah gurun pasir yang luas.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara besar terhadap target ISIS di Suriah pada Sabtu (10/1/2026). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi militer ini melibatkan pasukan mitra koalisinya untuk menggempur puluhan lokasi musuh.
Serangan tersebut merupakan bagian dari kampanye lanjutan bernama "Operation Hawkeye Strike" sebagai respons atas tewasnya tentara AS bulan lalu. Operasi ini bertujuan mengikis kemampuan kelompok teror tersebut dalam mengancam keamanan pasukan koalisi AS di kawasan Timur Tengah.
1. Serangan melibatkan puluhan pesawat tempur

Seorang pejabat AS mengungkapkan, operasi Sabtu ini menembakkan lebih dari 90 amunisi presisi ke wilayah musuh. Gempuran udara tersebut sukses menghantam lebih dari 35 target ISIS yang tersebar di berbagai titik strategis Suriah.
Misi ini melibatkan lebih dari 20 pesawat tempur untuk memastikan kehancuran infrastruktur lawan. Armada yang terlibat mencakup jet tempur F-15E, A-10, AC-130J, MQ-9, serta jet F-16 milik Angkatan Udara Yordania.
Serangan dimulai sekitar pukul 12.30 waktu bagian timur AS atau malam hari waktu Suriah. Pihak CENTCOM menyatakan operasi penyerbuan dilakukan bersama kekuatan mitra koalisi internasional untuk memberantas sisa-sisa terorisme.
"Pesan kami tetap kuat: jika kalian menyakiti pejuang kami, kami akan menemukan dan membunuh kalian di mana pun di dunia, tidak peduli seberapa keras kalian mencoba menghindari keadilan," tegas CENTCOM, dilansir CNN.
2. Balas dendam atas penyergapan di Palmyra

Nama Operasi Hawkeye Strike diambil dari julukan negara bagian Iowa, "Hawkeye State", tempat asal dua tentara AS yang gugur. Kampanye militer ini dimulai sebagai respons terhadap serangan mematikan penembak ISIS di Palmyra pada 13 Desember 2025.
Insiden tersebut menewaskan Sersan Edgar Brian Torres Tovar dan Sersan William Nathaniel Howard yang merupakan anggota Garda Nasional Iowa. Seorang penerjemah sipil AS bernama Ayad Mansoor Sakat juga turut menjadi korban tewas dalam serangan mendadak tersebut.
AS sebelumnya telah melancarkan gelombang pertama serangan balasan pada 19 Desember 2025, hanya enam hari setelah penyergapan. Kala itu, pasukan koalisi menghantam 70 target termasuk infrastruktur logistik serta gudang senjata milik kelompok militan tersebut.
"Ini bukanlah awal dari sebuah perang, ini adalah deklarasi pembalasan dendam. AS di bawah kepemimpinan Presiden Trump tidak akan pernah ragu dan tidak akan pernah menyerah untuk membela rakyat kami," ujar Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dilansir BBC.
3. Suriah masih belum stabil pasca kejatuhan Assad

Serangan ISIS di Palmyra menjadi insiden keamanan besar pertama sejak kejatuhan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Pemerintahan baru Suriah kini dipimpin oleh Presiden Ahmed al-Sharaa di tengah stabilitas negara yang masih rapuh.
Kelompok militan ISIS telah kehilangan kendali teritorial utamanya tapi masih mempertahankan grup-grup kecil di wilayah gurun pasir yang luas. Mereka kerap melancarkan serangan gerilya terhadap pasukan keamanan lokal maupun asing untuk menunjukkan eksistensinya.
Presiden AS Donald Trump telah lama skeptis terhadap kehadiran militer AS di Suriah dan sempat memerintahkan penarikan pasukan pada masa jabatan pertamanya. Namun, sekitar seribu tentara Amerika masih bertahan di negara tersebut untuk mendukung misi Operation Inherent Resolve.
Washington kini semakin meningkatkan koordinasi keamanan dengan pemerintah pusat di Damaskus pasca pergantian rezim Assad. Suriah bahkan telah resmi bergabung dengan koalisi global melawan ISIS setelah tercapainya kesepakatan bilateral akhir tahun lalu.


















