Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bantuan Dana Menyusut, 19 Juta Warga Afghanistan Terancam Kelaparan

3 min read
Bantuan Dana Menyusut, 19 Juta Warga Afghanistan Terancam Kelaparan
Krisis pangan (Unsplash.com/99 19)
  • PBB memperingatkan 19,2 juta warga Afghanistan berpotensi mengalami kekurangan pangan parah saat musim dingin, termasuk lima juta orang yang mendekati bencana kelaparan.
  • Pada 2027, lebih dari empat juta anak di bawah enam tahun membutuhkan bantuan gizi darurat; sepertiga fasilitas penanganan gizi telah tutup akibat kekurangan dana.
  • Dana bantuan internasional menyusut hingga PBB baru menerima kurang dari 30 persen target, sementara kemiskinan, kekeringan, dan kepulangan pengungsi memperberat kemampuan warga membeli makanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan pada Selasa (20/10/2026), bahwa lebih dari 19 juta warga Afghanistan terancam mengalami kelaparan parah menjelang datangnya musim dingin. Kondisi genting ini terjadi seiring berkurangnya dana bantuan internasional yang memaksa penutupan berbagai fasilitas penanganan gizi di negara tersebut.

Badan kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan bahwa krisis kekurangan pangan ini akan membawa dampak buruk berkepanjangan bagi jutaan anak hingga tahun 2027 mendatang. Tanpa penanganan darurat yang cepat, jutaan keluarga diperkirakan tidak akan mampu bertahan di tengah cuaca ekstrem dan ketiadaan pasokan bahan makanan.

  1. 1. Ancaman kelaparan parah menjelang musim dingin

    ilustrasi Afghanistan
    ilustrasi Afghanistan (pexels.com/Mehdi Khoshnejad)

    Ancaman kelaparan kian memburuk menjelang masa sulit musim dingin yang berlangsung antara November hingga April. Pada September hingga Oktober 2026, tercatat 15,9 juta orang mengalami krisis pangan, dengan 3,4 juta di antaranya berada dalam kondisi darurat. Jumlah tersebut diperkirakan melonjak tajam menjadi 19,2 juta orang saat musim dingin tiba.

    "Sebanyak 19,2 juta warga diperkirakan akan menghadapi kekurangan pangan yang parah, dan lima juta di antaranya tinggal selangkah lagi menuju bencana kelaparan," kata Juru Bicara OCHA Afghanistan, Olga Cherevko, dilansir Arab News.

    Kelompok lima juta warga tersebut menjadi perhatian paling mendesak karena seluruh harta benda mereka telah habis terjual demi bertahan hidup.

  2. 2. Ancaman gizi buruk bagi jutaan anak balita

    anak perempuan Afghanistan
    anak perempuan Afghanistan (JT May III, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Krisis pangan ini memberikan pukulan paling berat bagi kondisi kesehatan anak-anak di Afghanistan. OCHA memperkirakan lebih dari empat juta anak di bawah usia enam tahun membutuhkan bantuan gizi darurat pada 2027. Dari jumlah tersebut, lebih dari satu juta balita menderita gizi buruk parah yang dapat membahayakan nyawa jika tidak segera diobati.

    "Angka ini menunjukkan banyaknya anak dari keluarga yang tidak mampu lagi membeli makanan bergizi akibat perang bertahun-tahun, kesulitan ekonomi, dan bencana kekeringan yang panjang," ujar Cherevko.

    Kondisi anak-anak semakin mengkhawatirkan karena sepertiga fasilitas penanganan gizi di Afghanistan terpaksa ditutup akibat kekurangan dana dari para penyumbang. Penutupan akses layanan kesehatan dasar ini berisiko menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak secara permanen.

  3. 3. Menipisnya dana bantuan kemanusiaan internasional

    ilustrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
    ilustrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (un.org)

    PBB menegaskan bahwa krisis ini tidak semata-mata persoalan ketersediaan stok pangan di pasar, melainkan juga hilangnya kemampuan warga untuk membeli makanan. Satu kali masa panen yang membaik dinilai belum cukup untuk memulihkan keadaan ekonomi masyarakat yang terpuruk akibat kekeringan selama bertahun-tahun. Beban hidup warga pun bertambah berat seiring kepulangan paksa jutaan pengungsi dari Iran dan Pakistan sejak 2023.

    Di sisi lain, aliran dana bantuan dari dunia internasional menyusut tajam setelah kelompok Taliban membatasi hak perempuan untuk sekolah dan bekerja pada 2021. Hingga akhir Agustus lalu, PBB tercatat baru menerima kurang dari 30 persen dari target dana bantuan yang dibutuhkan.

    "Bantuan kemanusiaan tidak bisa selamanya menggantikan ketiadaan lapangan kerja dan layanan umum bagi masyarakat. Bantuan ini harus segera disalurkan sebelum musim dingin memutus akses jalan warga," tegas Cherevko.

    Pihak OCHA kini mendesak penyaluran bantuan makanan darurat, bibit tanaman, perlindungan ternak, serta pembukaan kembali klinik gizi sebelum jalur transportasi tertutup salju tebal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More