China Kecam Sikap PM Jepang yang Beri Persembahan ke Kuil Yasukuni

- PM Jepang Sanae Takaichi mengirim dana pribadi dan persembahan ke Kuil Yasukuni saat perayaan musim gugur, tanpa hadir langsung.
- Sejumlah pejabat senior Jepang, termasuk Menteri Pertanahan Tatsunori Ibayashi dan petinggi LDP Yasutoshi Nishimura, juga berziarah ke kuil tersebut.
- China mengecam tindakan itu dan melayangkan protes resmi, karena Kuil Yasukuni sensitif terkait sejarah perang serta pendudukan Jepang di China dan Korea.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengirimkan uang persembahan ke Kuil Yasukuni di Tokyo pada Senin (19/10/2026). Tindakan pemimpin pemerintahan ini langsung memicu protes keras dari pihak China karena kuil tersebut dinilai berkaitan erat dengan sejarah perang masa lalu.
Pengiriman dana persembahan ini dilakukan bertepatan dengan perayaan musim gugur yang digelar secara rutin di kuil tersebut. Selain perdana menteri, sejumlah anggota kabinet dan petinggi partai yang sedang berkuasa juga diketahui ikut memberikan penghormatan.
1. Pengiriman dana pribadi untuk perayaan musim gugur

Kuil Yasukuni (Kakidai, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Takaichi menggunakan uang dari kantong pribadinya untuk keperluan perayaan musim gugur tanpa mendatangi langsung kuil tersebut. Sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (LDP), ia juga telah mengirimkan persembahan berupa ranting pohon suci pada Sabtu sebelumnya.
Meskipun Takaichi tidak hadir secara langsung, sikap simbolis kepala pemerintahan ini tetap menimbulkan ketegangan hubungan antarnegara di kawasan Asia Timur.
2. Kontroversi ziarah pejabat ke makam penjahat perang

Kuil Yasukuni berfungsi sebagai tempat menghormati orang-orang Jepang yang tewas dalam perang. ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon Selain persembahan dari perdana menteri, sejumlah pejabat senior pemerintah dan tokoh penting partai penguasa memilih untuk berziarah langsung ke Kuil Yasukuni. Menteri Pertanahan Tatsunori Ibayashi bersama petinggi partai LDP, Yasutoshi Nishimura, tercatat mendatangi lokasi tersebut secara terpisah.
Kuil Yasukuni kerap menuai kecaman luas karena tidak hanya mengenang para prajurit yang gugur, tetapi juga menghormati para tokoh Perang Dunia II yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan kejahatan perang. Kehadiran para menteri aktif dinilai semakin memperlihatkan adanya dukungan politik terhadap tempat yang sarat masalah sejarah tersebut.
3. Protes resmi pemerintah China atas persembahan kuil

ilustrasi bendera China (commons.wikimedia.org/TurnOnTheNight) Rangkaian persembahan dan kunjungan para pejabat Jepang itu langsung menuai teguran keras dari pemerintah China. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan keberatan pihak Beijing atas tindakan para petinggi Jepang dan telah melayangkan surat protes resmi.
"Kami sangat menentang tindakan Jepang tersebut dan telah menyampaikan protes resmi yang tegas kepada mereka," kata Mao Ning dalam jumpa pers di Beijing, dilansir China Daily.
Kuil Yasukuni selalu menjadi persoalan yang sangat sensitif bagi masyarakat China dan Korea Selatan akibat penderitaan pada masa lalu. Jepang tercatat pernah menduduki sebagian besar wilayah China hingga akhir Perang Dunia II, serta menjajah Semenanjung Korea pada kurun 1910 hingga 1945. Oleh karena itu, negara-negara tetangga memandang penghormatan terhadap kuil tersebut sebagai bentuk pengabaian tanggung jawab atas luka sejarah masa lampau.























