Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di PBB, Negara Berkembang Tuntut Peran Lebih Besar dalam Regulasi AI

4 min read
Di PBB, Negara Berkembang Tuntut Peran Lebih Besar dalam Regulasi AI
ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin menuntut keterlibatan setara dalam penyusunan aturan AI agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi dan penerima standar dari negara kaya.
  • Perdebatan AI di PBB meningkat tajam: 128 delegasi membahas siapa yang merancang, diuntungkan, menanggung risiko, dan bertanggung jawab atas dampak teknologi tersebut.
  • AI berpotensi mempercepat pembangunan dan ekonomi, tetapi membutuhkan listrik, internet, serta keterampilan; tata kelola buruk dapat memperlebar ketimpangan, menggeser pekerja, dan menciptakan ketergantungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sejumlah negara berkembang di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin mendesak peran yang lebih besar dalam perumusan aturan tata kelola kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tuntutan tersebut mengemuka dalam rangkaian debat diplomasi tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada September 2026.

Para pemimpin dari kawasan belahan bumi selatan tersebut memperingatkan bahwa AI berisiko memperdalam ketimpangan global apabila pengembangan dan pengaturannya hanya terpusat di negara-negara kaya. Kekhawatiran para pemimpin tersebut mencuat menyusul terjadinya sejumlah pelanggaran keamanan, serta adanya peringatan dari peneliti terkemuka bahwa teknologi AI berpotensi memusnahkan umat manusia.

  1. 1. Peringatan negara berkembang agar tidak sekadar jadi pengguna teknologi

    ilustrasi bendera Kongo
    ilustrasi bendera Kongo (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Menteri Luar Negeri Republik Demokratik Kongo, Therese Kayikwamba Wagner, menegaskan bahwa negara berkembang tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemakai teknologi rancangan pihak luar. Sikap tersebut ia sampaikan di hadapan forum PBB saat menyoroti posisi tawar negara-negara berkembang dalam gelombang transformasi teknologi. Wagner menekankan pentingnya keadilan partisipasi bagi seluruh negara dalam merumuskan standar dan norma global.

    Wagner mengingatkan agar era modern tidak mengulang ketidakseimbangan ekonomi masa lalu. "Negara berkembang tidak dapat direduksi menjadi sekadar pengguna teknologi yang dirancang di tempat lain, ataupun sekadar penerima standar dan norma yang perumusannya tidak mereka ikuti secara memadai," ujar Wagner. Dia menegaskan bahwa dunia harus memastikan transformasi teknologi abad ke-21 tidak mereproduksi ketimpangan ekonomi dari dekade-dekade sebelumnya.

  2. 2. Lonjakan perhatian dan perdebatan tata kelola AI di sidang PBB

    ilustrasi AI
    ilustrasi AI (pexels.com/Aerps.com)

    Perhatian para delegasi internasional terhadap isu kecerdasan buatan melonjak tajam dalam sidang PBB tahun 2026 ini. Dilansir The Straits Times, Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman yang memimpin jalannya debat mengungkapkan bahwa empat tahun lalu hanya ada lima delegasi yang mengangkat isu AI di aula tersebut. Jumlah delegasi yang membahas persoalan AI pada pertemuan tahun 2026 ini meningkat drastis hingga mencapai 128 delegasi.

    Rahman memaparkan bahwa banyak delegasi membingkai AI sebagai pertanyaan mendasar mengenai tata kelola global. Isu yang disorot meliputi siapa pihak yang merancang, siapa yang memetik keuntungan, pihak yang menanggung risiko, serta siapa yang bertanggung jawab saat terjadi kerugian.

    Selain itu, sesi tingkat tinggi di Dewan Keamanan PBB pada Rabu (23/9/2026) turut menghadirkan CEO OpenAI Sam Altman serta CEO Anthropic Dario Amodei—yang berbicara secara daring—untuk mengimbau pemerintah bekerja sama mengelola teknologi tersebut.

  3. 3. Peluang percepatan ekonomi versus ancaman ketergantungan baru

    tampilan AI Claude di smartphone
    tampilan AI Claude di smartphone (unsplash.com/Aerps.com)

    Kecerdasan buatan diakui membawa potensi percepatan ekonomi sekaligus ancaman risiko yang nyata bagi negara berkembang. Laporan Bank Dunia pada Agustus menyebutkan bahwa AI dapat memampukan negara berkembang mengejar kemajuan pembangunan selama satu abad hanya dalam kurun satu dekade. Namun, percepatan itu hanya bisa terjadi jika negara-negara berkembang bergerak cepat memangkas kesenjangan pasokan listrik, konektivitas internet, dan keterampilan tenaga kerja.

    Kajian Dana Moneter Internasional atau IMF pada Juli turut memaparkan bahwa AI berpeluang mendongkrak ekonomi kawasan Afrika Sub-Sahara sekitar empat persen dalam satu dekade mendatang di bawah kondisi yang tepat.

    Sementara itu, Perdana Menteri Belize John Briceño menyatakan bahwa AI yang dikelola dengan baik dapat memperluas akses pengetahuan dan memperbaiki layanan publik. Namun, Briceño memperingatkan bahwa tata kelola yang buruk dapat memperdalam ketimpangan, membahayakan sistem-sistem penting, menyingkirkan pekerja, serta membuat negara berkembang tergantung pada teknologi dan aturan buatan luar.

  4. 4. Seruan kesetaraan Sekjen PBB dan perbedaan sikap Donald Trump

    Sekretaris Jendral PBB António Guterres
    Sekretaris Jendral PBB António Guterres (Xuthoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyamakan risiko AI dengan krisis iklim yang menuntut tindakan bersama secara global dan bukan respons nasional yang terisolasi. Dilansir TRT World, Guterres menegaskan bahwa negara-negara berkembang harus memiliki hak suara yang setara dalam tata kelola AI maupun penanganan perubahan iklim. Guterres menyatakan bahwa AI melaju dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan para perancangnya sendiri.

    "Ini bukanlah krisis yang terpisah, melainkan bab-bab dari kisah yang sama, yakni kisah tentang kekuasaan: Siapa yang memilikinya, siapa yang tidak mendapatkannya, bagaimana kekuasaan itu digunakan, dan bagaimana ia berubah," tutur Guterres. Sikap Guterres ini bertolak belakang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut risiko AI sebagai hoax dan konspirasi yang memuakkan (sick conspiracy). Di depan forum PBB, Trump menyatakan ancaman AI sangat dibesar-besarkan sebagaimana halnya ramalan pihak-pihak yang menyebut manusia akan mati dalam 12 tahun akibat pemanasan global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More