Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Intelijen AS Sebut Cadangan Rudal Iran Masih Ada 70 Persen

Intelijen AS Sebut Cadangan Rudal Iran Masih Ada 70 Persen
potret rudal (pexels.com/Jaxon Matthew Willis)
Intinya Sih
  • Intelijen AS mengungkap cadangan rudal Iran masih 70 persen, membantah klaim Donald Trump bahwa persenjataan Iran telah habis akibat serangan Amerika Serikat.
  • Iran dilaporkan telah membangun kembali 30 dari 33 situs penyimpanan rudal yang rusak, menunjukkan pemulihan cepat kekuatan militernya pascaserangan AS dan Israel.
  • AS dan Israel terus menyerang fasilitas produksi senjata Iran untuk melemahkan kemampuan militernya, termasuk serangan udara ke 40 situs produksi pada akhir Maret lalu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Otoritas intelijen Amerika Serikat kembali merilis hasil penyelidikan rahasia terkait jumlah cadangan senjata yang dimiliki Iran pada Selasa (12/5/2026). Penyelidikan tersebut menemukan bahwa cadangan rudal Iran kini masih tersisa sangat banyak, yakni sebesar 70 persen.

Hasil penyelidikan ini membantah klaim Presiden Donald Trump soal cadangan senjata yang dimiliki Iran untuk berperang melawan AS. Sebab, beberapa waktu lalu, Trump mengklaim bahwa semua fasilitas persenjataan Iran sudah lenyap akibat diserang AS. Oleh karena itu, Trump mengklaim cadangan senjata Iran, termasuk cadangan rudal sudah habis tidak tersisa.

1. Iran berhasil membangun kembali sebagian besar fasilitas rudal

Pabrik rudal.
ilustrasi pabrik rudal (pexels.com/Dominik Gryzbon)

Intelijen AS menambahkan, berdasarkan penyelidikan yang telah dilakukan, Iran kini juga sudah membangun kembali 30 dari 33 situs penyimpanan rudal yang rusak imbas serangan AS. Ini membuktikan bahwa kecepatan pemulihan kekuatan militer Iran setelah diserang AS dan Israel pada 28 Februari lalu berjalan sangat cepat. 

Menurut intelijen AS, Iran berpotensi menggunakan seluruh cadangan rudalnya untuk meningkatkan blokade di Selat Hormuz. Jadi, Iran bakal menggunakan rudalnya untuk menyerang kapal dari negara mana pun yang berupaya melanggar blokade Selat Hormuz, termasuk kapal dari AS. Sebab, Iran hingga kini masih memblokade selat tersebut.

2. Iran memanfaatkan gencatan senjata untuk memproduksi lebih banyak rudal

Rudal untuk berperang.
potret rudal (unsplash.com/Gabor Szuts)

Sejumlah pejabat AS khawatir Iran telah memanfaatkan momen gencatan senjata dengan AS dan Israel untuk memproduksi lebih banyak rudal. Sebab, menurut mereka, waktu gencatan senjata yang diberikan AS kepada Iran sangat cukup untuk membangun kembali persediaan rudal. 

Kendati begitu, seorang pejabat Israel mengatakan, Iran kini masih belum bisa memproduksi lebih banyak rudal. Sebab, kondisi keuangan mereka belum stabil usai mengalami banyak kerugian akibat perang. Terlebih, banyak fasilitas produksi senjata Iran yang rusak imbas diserang AS dan Israel. 

3. AS dan Israel kerap menyerang fasilitas kritis milik Iran

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

AS dan Israel sendiri memang kerap menyerang fasilitas-fasilitas kritis milik Iran. Beberapa di antaranya, seperti fasilitas energi dan fasilitas produksi senjata. Fasilitas produksi senjata ini sangat berperan penting bagi Iran untuk membantu mereka memproduksi senjata agar bisa melawan AS dan Israel.

Pada akhir Maret lalu, pasukan militer Israel (IDF) mengklaim berhasil meluncurkan serangan udara ke 40 situs produksi senjata milik Iran. Serangan ini dilakukan agar Iran kehabisan senjata untuk menyerang mereka. Jika situs-situs tadi diserang, maka produksi senjata Iran akan berkurang sehingga kekuatan untuk menyerang AS dan Israel akan menurun.

Sebagai informasi, situs produksi senjata yang sudah diserang Israel di Iran dikabarkan memproduksi berbagai jenis senjata. Beberapa di antaranya, seperti rudal balistik hingga mesin peluncur rudal. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More