Iran Mulai Pulihkan Layanan Internet secara Bertahap usai Kerusuhan

- Konektivitas internet pada Sabtu masih sangat terbatas.
- Belum ada jadwal mengenai pemulihan akses internet.
- Sekitar 3 ribu orang dilaporkan tewas selama kerusuhan.
Jakarta, IDN Times - Iran mulai melonggarkan pembatasan komunikasi dan internet yang diberlakukan menyusul kerusuhan selama protes anti-pemerintah yang melanda negara itu sejak akhir bulan lalu. Proses ini akan dilakukan secara bertahap.
Kantor Berita Fars, pada Sabtu (17/1/2026), melaporkan bahwa layanan pesan singkat (SMS) telah diaktifkan kembali sebagai langkah awal. Akses penuh ke jaringan internet nasional dan aplikasi domestik akan menyusul pada tahap kedua, sebelum akses internet internasional dipulihkan pada tahap ketiga.
Keputusan ini diambil setelah Teheran mengklaim telah berhasil mengendalikan situasi keamanan. Para pejabat mengatakan telah menahan tokoh-tokoh kunci yang dituduh terkait dengan kelompok teroris dan dalang kerusuhan.
"Pembatasan akses internet secara signifikan melemahkan koneksi internal jaringan oposisi di luar negeri serta mencegah operasi sel-sel teroris," kata pejabat.
1. Konektivitas internet pada Sabtu masih sangat terbatas

Sumber-sumber lokal mengonfirmasi bahwa akses ke aplikasi pesan dalam negeri, seperti Eita dan Bale, telah dipulihkan setelah mengalami gangguan selama beberapa hari.
Sementara itu, kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa konektivitas secara keseluruhan masih sangat terbatas. Data mereka menunjukkan adanya sedikit peningkatan konektivitas pada Sabtu pagi, tapi akses internet secara keseluruhan masih berada di kisaran 2 persen dari kondisi normal.
“Tidak ada indikasi pemulihan yang signifikan,” kata kelompok tersebut dalam unggahan di X, mengindikasikan bahwa sebagian besar warga Iran masih offline.
2. Belum ada jadwal mengenai pemulihan akses internet

Koresponden Al Jazeera, Resul Serdar Atas, mengatakan belum ada jadwal yang jelas terkait pemulihan akses internet. Satu-satunya pernyataan resmi sejauh ini datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut layanan internet akan dipulihkan dalam waktu dekat, sebuah janji yang menurut Atas masih bersifat samar.
Ia menjelaskan bahwa pemadaman internet tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari warga Iran, tapi juga memperparah tekanan ekonomi yang sejak awal menjadi pemicu protes.
"Tentu saja, hal ini juga berdampak besar pada dunia usaha. Pemicu utama protes ini adalah kesulitan ekonomi yang dihadapi warga Iran setiap hari, dan pemadaman internet besar-besaran ini semakin memperumit dan mengganggu stabilitas perekonomian di sini. Selama pemadaman internet masih berlangsung, kondisi normal tidak akan kembali," ujar Atas
3. Sekitar 3 ribu orang dilaporkan tewas selama kerusuhan

Pembatasan layanan komunikasi diberlakukan setelah unjuk rasa terkait kesulitan ekonomi berubah menjadi kerusuhan mematikan pada 8 Januari. Belum ada angka resmi mengenai korban jiwa, tapi kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat (AS), HRANA, melaporkan sekitar 3 ribu orang meninggal dalam protes tersebut. Sementara itu, pejabat pemerintah menyebut sekitar 3 ribu orang lainnya ditangkap.
Meski protes relatif tenang dalam beberapa hari terakhi, ketegangan di Iran masih tetap tinggi. Pada Sabtu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut Presiden AS, Donald Trump, sebagai kriminal karena dianggap bertanggung jawab atas jatuhnya korban, kerusakan, dan fitnah terhadap rakyat Iran selama aksi protes berlangsung.
“Hasutan anti-Iran terbaru ini berbeda karena Presiden AS secara pribadi terlibat,” kata Khamenei, dikutip dari Al Jazeera.


















