Rusia Evakuasi 175 Pegawai dari PLTN Bushehr Milik Iran

- Rusia mengevakuasi 175 pegawai dari PLTN Bushehr milik Iran dengan bantuan Armenia, dan mereka telah diterbangkan ke Moskow pada awal April 2026.
- Evakuasi warga Rusia dari Iran sudah dimulai sejak Maret, melibatkan lebih dari 500 orang akibat meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel.
- Negosiasi perdamaian antara Iran dan AS masih buntu karena perbedaan pandangan terkait pembukaan Selat Hormuz bagi kapal-kapal Amerika.
Jakarta, IDN Times - Rusia dilaporkan kembali mengevakuasi 175 pegawai yang merupakan warga negaranya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr milik Iran. Menurut keterangan Kedutaan Besar Rusia di Armenia pada Selasa (7/4/2026), mereka kini sudah diterbangkan ke Ibu Kota Moskow.
Sebelum diterbangkan ke Moskow, warga Rusia yang bekerja di PLTN Bushehr sudah dievakuasi oleh pemerintah Armenia melalui wilayah perbatasan Nurduz-Agarak. Setelah itu, mereka baru diterbangkan oleh Rusia ke Moskow pada Senin (6/4/2026).
Berkat bantuan ini, pemerintah Rusia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Armenia. Sebab, mereka telah membantu Rusia untuk mengevakuasi warganya dengan aman tanpa kurang apa pun.
1. Rusia sudah mengevakuasi sebagian besar pegawainya dari PLTN Bushehr

Saat ini, Rusia sudah mengevakuasi sebagian besar pegawainya dari PLTN Bushehr. Namun, sebagian warga Rusia masih ada yang bekerja di PLTN tersebut. Mereka rencananya akan dievakuasi pada pekan depan.
Evakuasi ini dilakukan Rusia untuk menyelamatkan warganya yang bekerja di PLTN Iran. Sebab, Amerika Serikat berencana untuk menyerang semua pembangkit listrik milik Iran karena mereka tidak kunjung menyepakati perdamaian.
“Setiap pembangkit listrik akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi,” ujar Presiden AS, Donald Trump, seperti dilansir Times of Israel.
2. Evakuasi pegawai Rusia dari PLTN Bushehr sudah dimulai sejak Maret

Proses evakuasi pegawai Rusia dari PLTN Bushehr ini sebetulnya sudah dimulai sejak Maret lalu. Namun, evakuasi sempat terhenti karena beberapa hal. Beruntungnya, Armenia selalu mengulurkan tangan kepada Rusia agar mereka bisa mengevakuasi warganya dari PLTN Bushehr.
Sejauh ini, Rusia sudah mengevakuasi 509 warganya dari Iran. Langkah ini dilakukan karena situasi di negara tersebut makin panas akibat serangan AS dan Israel. Proses evakuasi ini dilakukan melalui serangkaian penerbangan khusus yang dikoordinasikan langsung oleh Kementerian Situasi Darurat Rusia.
3. Negosiasi perdamaian Iran dan AS berjalan alot

Saat ini, Iran dilaporkan sedang menjalani negosiasi perdamaian dengan AS. Meski awalnya menolak, Iran kini bersedia melakukan langkah tersebut untuk mengakhiri perang.
Sayangnya, negosiasi antara Iran dan AS masih berjalan alot. Sebab, Iran tidak kunjung setuju terhadap syarat-syarat perdamaian yang diberikan oleh AS. Begitu pula sebaliknya.
Untuk mengakhiri perang, AS meminta Iran untuk membuka Selat Hormuz bagi semua kapal yang ingin melintas di sana, termasuk kapal dari AS. Namun, Iran menolak permintaan tersebut.
Sebetulnya, Iran kini sudah mengizinkan kapal dari sejumlah negara untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut untuk AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.
Ada sejumlah negara yang kini sudah mengantongi izin dari Iran agar kapalnya bisa berlayar di Selat Hormuz. Beberapa di antaranya, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, China, Jepang, Irak, dan Rusia.

















