Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kekeringan, Hungaria Tutup PLTN untuk Pertama Kalinya dalam 44 Tahun

Kekeringan, Hungaria Tutup PLTN untuk Pertama Kalinya dalam 44 Tahun
ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) (unsplash.com/llehotsky)
Intinya Sih
  • PM Hungaria Peter Magyar mengumumkan penutupan PLTN Paks untuk pertama kalinya dalam 44 tahun setelah permukaan Sungai Danube turun akibat gelombang panas dan kekeringan.
  • Penutupan Paks menghilangkan 2.000 megawatt listrik, sekitar 25–30 persen produksi nasional, saat kebutuhan energi meningkat; pemerintah meminta warga dan bisnis menghemat listrik pada pukul 17.00–22.00.
  • Komisi Eropa menyiapkan pertemuan darurat dengan Grup Koordinasi Listrik karena penutupan satu-satunya PLTN Hungaria berpotensi menekan keseimbangan pasokan listrik regional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Hungaria, Peter Magyar mengumumkan penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Paks untuk pertama kalinya dalam 44 tahun. Penutupan ini menyusul semakin turunnya permukaan air Sungai Danube. 

“Karena terus menurunnya level permukaan air Sungai Danube, salah satu dari unit pembangkit listrik di PLTN Paks sudah ditutup dan akan ditutup sepenuhnya,” tuturnya, dikutip dari Euractiv, Senin (3/8/2026).

Beberapa bulan terakhir, Eropa sudah dilanda gelombang panas dan berujung pada kekeringan. Alhasil, Sungai Danube mengalami penurunan permukaan air terendah dalam sejarah yang mengganggu transportasi dan lainnya. 

1. Magyar peringatkan keadaan darurat akan dimulai Senin

Perdana Menteri Hungaria, Peter Magyar
Perdana Menteri Hungaria, Peter Magyar (kiri). (© European Union, 2026, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Magyar mengatakan bahwa Hungaria sudah dilanda krisis energi pada Senin. Ia menyatakan bahwa semua langkah sudah disiapkan untuk menghindari dampak yang lebih buruk imbas krisis energi di negaranya. 

Dilansir Politico, pemerintah sudah mendesak rumah dan bisnis untuk mengurangi konsumsi listrik pada jam sibuk pukul 17.00 hingga 22.00 waktu setempat. Ia meminta warga membatasi penggunaan pendingin ruangan dan mesin cuci. 

2. Hungaria akan kehilangan 2 ribu megawatt listrik

Panorama Sungai Danube di Budapest, Hungaria.
Panorama Sungai Danube di Budapest, Hungaria. (unsplash.com/lsgerbec)

Magyar mengungkapkan bahwa penutupan PLTN Paks ini berdampak besar. Sebab, hampir setengah pasokan listrik Hungaria berasal dari PLTN tersebut dan aliran Sungai Danube yang digunakan untuk mendinginkan reaktor nuklir. 

“Ini berarti 2 ribu megawatt listrik hilang dari produksi energi Hungaria. Pada saat yang sama kebutuhan listrik untuk permukiman dan konsumsi publik terus berlanjut dan naik akibat dari gelombang panas di Eropa,” terangnya. 

Pakar dari organisasi non-profit di Hungaria, Energiaklub, Andras Perger mengatakan, Hungaria kehilangan 25-30 persen dari produksi listrik. Menurutnya, kondisi ini akan menjadi ujian berat bagi warga Hungaria dan negara tetangganya. 

3. UE akan mengadakan pertemuan membahas krisis energi Hungaria

ilustrasi bendera Hungaria
ilustrasi bendera Hungaria (pexels.com/sara)

Sehari sebelumnya, Komisi Eropa sudah menyiapkan pertemuan darurat dengan Grup Koordinasi Listrik mengenai penutupan PLTN Paks. Pertemuan ini menanggapi peringatan dari Hungaria soal ancaman krisis energi di negaranya. 

“Meskipun semua operator sudah menerapkan keadaan darurat untuk menjamin keamanan nuklir. Peristiwa seperti ini dapat memperburuk dan menekan keseimbangan listrik regional,” ungkap Juru Bicara Komisi Eropa, Anna-Kaisa Itkonen, dilansir Euronews.

Sementara itu, PLTN Paks sudah dibangun oleh Uni Soviet pada masa kepemimpinan rezim komunis di Hungaria. Hingga kini, PLTN Paks menjadi satu-satunya PLTN yang beroperasi di Hungaria. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More