Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kim Jong Un Sebut Bisa Baikan dengan AS, tapi Ada Syarat

Kim Jong Un Sebut Bisa Baikan dengan AS, tapi Ada Syarat
Kim Jong-Un Bertemu Presiden Donald Trump di Singapura, 12 Juni 2018. (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Kim Jong Un membuka peluang memperbaiki hubungan dengan AS jika Washington mengakui Korut sebagai negara bersenjata nuklir dan menghentikan kebijakan yang dianggap bermusuhan.
  • Kepada Korsel, Kim bersikap keras dengan menyebutnya entitas paling bermusuhan, menegaskan tak ada urusan bersama, serta memerintahkan percepatan pengembangan senjata nuklir.
  • Pernyataan Kim muncul di tengah spekulasi pertemuannya dengan Donald Trump dan meningkatnya ketergantungan Korut pada Rusia untuk dukungan militer serta ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un membuka peluang perbaikan relasi dengan Amerika Serikat (AS), asalkan Washington mengakui status negaranya sebagai pemilik senjata nuklir dan menghentikan kebijakan yang dianggap bermusuhan. Sikap itu disampaikannya saat menutup Kongres ke-9 Partai Buruh Korea di Pyongyang, sebagaimana dilaporkan kantor berita KCNA pada Kamis (26/2/2026).

Dalam pidato tersebut, Kim menyampaikan pernyataan terbuka kepada Washington.

“Jika Washington menghormati status negara kami saat ini sebagaimana ditetapkan dalam Konstitusi … dan mencabut kebijakan bermusuhannya … tidak ada alasan mengapa kami tidak bisa menjalin hubungan baik dengan AS,” kata Kim, dikutip dari France 24.

1. Kim tegaskan Korsel sebagai entitas bermusuhan

Kim Jong Un dan Menteri Pertahanan Rusia berpartisipasi dalam serangkaian upacara resmi untuk merayakan peringatan 70 tahun Hari Kemenangan dalam Perang Pembebasan Tanah Air Besar. (Mil.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Kim Jong Un dan Menteri Pertahanan Rusia berpartisipasi dalam serangkaian upacara resmi untuk merayakan peringatan 70 tahun Hari Kemenangan dalam Perang Pembebasan Tanah Air Besar. (Mil.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Berbeda dengan pendekatannya terhadap AS, Kim menunjukkan sikap jauh lebih keras kepada Korea Selatan (Korsel). Ia menyebut Seoul sebagai entitas paling bermusuhan dan memastikan Korut akan menghapus Korsel dari daftar sesama bangsa secara permanen.

Kim kemudian menjelaskan syarat yang menurutnya harus dipenuhi Seoul.

“Selama Korea Selatan tidak bisa melepaskan diri dari kondisi geopolitik memiliki perbatasan dengan kami, satu-satunya cara untuk hidup dengan aman adalah menyerahkan segala hal yang berkaitan dengan kami dan meninggalkan kami sendirian,” kata Kim, dikutip dari Euro News.

Selain itu, ia menegaskan Korut tak memiliki urusan apa pun dengan Korsel dan mengklaim mampu menghancurkan sepenuhnya negara tersebut jika keamanannya terancam. Pernyataan tersebut sejalan dengan perubahan konstitusi Korut pada 2024 yang secara resmi menetapkan Korsel sebagai negara bermusuhan.

2. Kim percepat pengembangan senjata nuklir

ilustrasi area nuklir
ilustrasi area nuklir (pexels.com/Dan Meyers)

Di bidang pertahanan, Kim memerintahkan percepatan program nuklir negaranya. Agenda itu mencakup peningkatan jumlah hulu ledak, pengembangan rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam, serta perluasan senjata nuklir taktis seperti artileri dan rudal jarak pendek yang diarahkan terutama ke Korsel.

Kongres Partai Buruh Korea yang digelar sekitar lima tahun sekali itu ditutup dengan parade militer besar di Pyongyang. Kim hadir dalam parade tersebut bersama putrinya, Kim Ju-ae, yang diperkirakan berusia sekitar 13 tahun, sementara badan intelijen Korsel menyatakan Kim Ju-ae kemungkinan besar telah ditunjuk sebagai penerusnya, dilansir dari BBC.

3. Spekulasi pertemuan Kim dengan Trump menguat

Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead)
Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Pernyataan Kim muncul ketika spekulasi mengenai peluang pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump kembali mencuat. Pertemuan itu disebut-sebut dapat berlangsung di sela kunjungan Trump ke China, setelah sebelumnya ia menyatakan 100 persen terbuka untuk bertemu Kim lagi dan menyebut Korut sebagai semacam kekuatan nuklir, serta dalam peta jalan keamanan global terbarunya tak lagi mencantumkan denuklirisasi Korut sebagai tujuan kebijakan AS.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai Korut kini sangat bergantung pada Rusia. Pyongyang dilaporkan telah mengirim ribuan tentara dan perlengkapan militer untuk membantu Rusia di Ukraina.

Sebagai imbalannya, Korut diyakini memperoleh teknologi militer, pasokan pangan, dan energi. Dukungan tersebut membuat sanksi internasional terasa lebih ringan sehingga Korut dinilai tak terlalu mendesak merespons ajakan dialog dari Washington, meski jika perang di Ukraina berakhir nilai strategisnya bagi Rusia bisa berkurang dan membuka peluang komunikasi kembali dengan AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More