"Kami mulai menghubungi para pemandu dan anggota pramuka yang bisa membantu membawa masuk pasokan bantuan," kata Torpey.
Lebih dari 11 Ribu Orang Diselamatkan Pascabanjir Nepal

- Lebih dari 11.379 orang telah diselamatkan pascabanjir Nepal, sementara 3.925 lainnya belum diketahui keberadaannya; bantuan menjangkau hampir 3.700 orang dan listrik pulih di 30 persen rumah di Rasuwa.
- Pemerintah memprioritaskan jembatan sementara di Nuwakot dan Rasuwa setelah banyak jembatan hancur. Kerusakan jalan membuat lembaga bantuan mengandalkan helikopter serta pemandu dan pramuka untuk membawa pasokan.
- Banjir Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 955 orang dan menyebabkan lebih dari 4.000 orang hilang. Runtuhnya gletser memicu banjir, sementara pencarian pekerja PLTA terhambat medan, air tinggi, dan cuaca buruk.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, pada Senin (31/8/2026), mengatakan bahwa upaya penanganan bencana di wilayah terdampak banjir terus ditingkatkan. Sejauh ini, lebih dari 11 ribu orang telah diselamatkan.
“Beberapa saat yang lalu, sebanyak 11.379 orang telah diselamatkan, sementara 3.925 orang masih belum diketahui keberadaannya. Jumlah orang yang hilang atau belum diketahui keberadaannya terus berubah,” kata Shah dalam sebuah pernyataan, dikutip CNN.
Ia menambahkan bahwa bantuan kini telah menjangkau hampir 3.700 orang, yang penyalurannya turut dibantu oleh komunitas internasional. Di Rasuwa, salah satu distrik yang terdampak parah, sekitar 30 persen rumah juga telah kembali dialiri listrik.
1. Pemerintah juga prioritaskan pembangunan jembatan sementara

ilustrasi pekerja bantuan (pexels.com/RDNE Stock project) Pembangunan jembatan sementara juga menjadi salah satu prioritas pemerintah, termasuk di distrik Nuwakot dan Rasuwa, di mana banyak jembatan hancur akibat banjir.
“Saat ini kami memiliki enam jembatan Bailey sepanjang 48 meter dan satu jembatan Bailey sepanjang 70 meter,” kata Shah, merujuk pada jenis jembatan portabel yang dirancang agar dapat dirakit dengan cepat.
Infrastruktur jalan yang hancur menjadi salah satu hambatan besar dalam penyaluran bantuan. Direktur respons World Central Kitchen, John Torpey, mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi banyak lembaga bantuan untuk menjangkau wilayah terdampak bencana adalah dengan menggunakan helikopter. Organisasinya hingga kini terus berupaya mencari bantuan dari berbagai pihak.
2. Lebih dari 900 orang tewas dan 4 ribu lainnya hilang akibat banjir di Nepal-Tibet

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie) Data terbaru menunjukkan sedikitnya 939 orang tewas akibat banjir di Nepal dan 16 lainnya tewas di Tibet. Lebih dari 4 ribu orang juga masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan, termasuk ratusan warga negara asing (WNA).
Sementara itu, upaya pencarian dan penyelamatan terhadap lebih dari 900 pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang hilang, termasuk ratusan orang yang dikhawatirkan terjebak di dalam terowongan dan area bawah tanah, masih terus berlangsung. Namun, upaya penyelamatan terhambat oleh medan yang sulit, tingginya air banjir dan kondisi cuaca yang buruk. Sementara itu, para ahli khawatir peluang menemukan korban selamat di dalam terowongan semakin menipis akibat menurunnya kadar oksigen.
“Sejumlah besar material puing telah menumpuk dan hal itu menjadi tantangan besar bagi kami untuk membuka terowongan,” kata juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet.
3. Perubahan iklim sebabkan gletser mencair

gunung Himalaya (unsplash.com/Ben Lowe) Menurut Survei Geologi AS (USGS), banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-Tibet pekan lalu dipicu oleh runtuhnya gletser. Perubahan iklim telah menyebabkan gletser mencair di seluruh dunia sehingga meningkatkan risiko terjadinya bencana semacam ini.
Para ilmuwan mengatakan bahwa gletser di Pegunungan Himalaya, yang merupakan rangkaian pegunungan tertinggi di dunia, mencair lebih cepat seiring meningkatnya suhu global. Nepal, yang memiliki populasi sekitar 30 juta jiwa, hanya berkontribusi kecil terhadap emisi yang mendorong pemanasan global. Namun, negara tersebut turut menanggung dampak perubahan iklim.
“Rakyat Nepal merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan dampaknya,” kata Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, dikutip France24.






















