Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Suhu Laut Dunia Cetak Rekor Tertinggi pada Juni 2026

Suhu Laut Dunia Cetak Rekor Tertinggi pada Juni 2026
ilustrasi kenaikan suhu laut (unsplash.com/richardpasquarellaphotography)
Intinya Sih
  • Suhu permukaan laut global pada Juni 2026 mencapai rekor tertinggi 20,98°C, dengan sekitar 82 persen samudra dunia mengalami gelombang panas laut yang ekstrem.
  • Fenomena El Nino dan emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia disebut sebagai pemicu utama lonjakan suhu laut serta perubahan pola cuaca global.
  • Kenaikan suhu laut memicu pemutihan karang, peningkatan kelembapan atmosfer, dan risiko bencana seperti banjir, kekeringan, serta kebakaran hutan di berbagai wilayah dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Suhu permukaan laut global kembali memecahkan rekor Juni tertinggi pada tahun ini. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terkait dampak perubahan iklim dan fenomena El Nino.

Copernicus Marine Service Uni Eropa mencatat suhu rata-rata permukaan laut bulan lalu menembus 20,98 derajat Celsius. Angka tersebut melampaui rekor suhu tertinggi sebelumnya pada 2023 dan 2024 di periode yang sama.

1. Data Copernicus tunjukkan lonjakan suhu ekstrem

ilustrasi kenaikan suhu laut
ilustrasi kenaikan suhu laut (unsplash.com/frankiefoto)

Sepanjang enam bulan pertama 2026, suhu rata-rata laut mencapai 20,04 derajat Celsius. Lonjakan panas ini memicu gelombang panas laut yang melanda sekitar 82 persen samudra di dunia.

Laut Mediterania menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh krisis ini. Suhu di kawasan tersebut memecahkan rekor Juni dengan menyentuh 24,3 derajat Celsius.

Hampir 98 persen wilayah cekungan Mediterania dilanda gelombang panas laut selama semester pertama tahun ini. Samudra Pasifik tropis juga mencatat rekor suhu tertinggi pada bulan yang sama di angka 27,26 derajat Celsius.

Pemanasan paling kuat dan persisten terpantau di Pasifik ekuatorial barat. Kondisi serupa juga melanda perairan di lepas pantai Peru dan California.

"Dengan kedatangan dan dimulainya tahun El Nino, kita dapat memperkirakan bahwa tahun 2026 akan menjadi salah satu tahun terhangat yang pernah tercatat," tutur Simon Van Gennip, ahli kelautan utama untuk Copernicus Marine Service pada Rabu (1/7/2026), dilansir The Straits Times.

2. El Nino dan emisi gas rumah kaca jadi pemicu utama

ilustrasi pencemaran udara
ilustrasi pencemaran udara (unsplash.com/Janusz Walczak)

Para ilmuwan menyoroti kemunculan pola cuaca El Nino yang dinilai sebagai pemicu lonjakan suhu ini. Fenomena cuaca ini ditandai oleh perairan yang sangat hangat di sebagian Samudra Pasifik.

El Nino secara natural melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer dan mengubah pola cuaca global. Meskipun demikian, aktivitas manusia melalui pembakaran bahan bakar fosil tetap menjadi akar masalah pemanasan jangka panjang.

Lautan berfungsi sebagai pengatur iklim bumi karena mampu menyerap sekitar 90 persen kelebihan panas. Kelebihan panas ini utamanya dihasilkan dari pelepasan emisi gas rumah kaca oleh aktivitas manusia, seperti karbon dioksida.

"Kondisi saat ini dapat mengindikasikan awal dari fase baru yang sekali lagi mengarah ke wilayah yang belum dipetakan," ujar Carlo Buontempo, direktur Copernicus Climate Change Service, dilansir Al Jazeera.

3. Kenaikan suhu laut dapat picu bencana di berbagai negara

ilustrasi banjir. (unsplash.com/Chris Gallagher)
ilustrasi banjir. (unsplash.com/Chris Gallagher)

Suhu laut yang lebih panas berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut global. Hal ini terjadi karena volume air memuai ketika mengalami peningkatan suhu.

Gelombang panas laut yang berkepanjangan turut menciptakan kondisi mematikan bagi terumbu karang tropis. Karang sangat rentan mengalami pemutihan dan mati akibat tekanan termal ekstrem tersebut.

Pemanasan samudra juga dapat meningkatkan kelembapan di atmosfer bumi. Kondisi ini dapat memicu pembentukan siklon tropis dan curah hujan yang merusak.

Dampak El Nino dan suhu laut ekstrem diprediksi dapat meningkatkan risiko bencana alam di daratan. Bencana tersebut bervariasi mulai dari banjir bandang di Peru, kekeringan di Afrika, hingga kebakaran hutan di Australia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More