"Mereka jelas memiliki senjata kimia. Itu yang bisa saya pastikan dan itu adalah ancaman lain yang mereka timbulkan," kata Netanyahu dalam wawancara bersama Newsmax pada Selasa (7/7/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.
Netanyahu Sebut Iran Punya Senjata Kimia, Benarkah?

- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Iran memiliki senjata kimia selain nuklir, menyebutnya sebagai ancaman besar bagi keamanan global dalam wawancara dengan Newsmax.
- Netanyahu mengklaim pasukan Israel telah menghancurkan 20 fasilitas nuklir Iran dan melumpuhkan sejumlah ilmuwan, sehingga kemampuan nuklir Iran disebut menurun drastis sejak perang dimulai.
- Iran pernah dikaitkan dengan pengembangan senjata kimia dan biologis, namun membantah tuduhan AS yang menilai Teheran tidak mematuhi perjanjian internasional BWC dan CWC.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan, selain senjata nuklir, Iran juga punya senjata kimia. Menurutnya, senjata kimia juga menjadi ancaman besar dari Iran untuk keamanan global selain senjata nuklir.
1. Israel berhasil menghancurkan 20 fasilitas nuklir milik Iran

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga menyinggung soal senjata nuklir milik Iran. Netanyahu mengatakan bahwa pasukan Israel telah menghancurkan banyak fasilitas nuklir Iran sejak perang meletus pada 28 Februari lalu. Oleh karena itu, ia mengklaim persediaan senjata nuklir Iran kini sudah jauh berkurang.
"Kami menghancurkan banyak infrastruktur mereka, banyak sentrifuga mereka, banyak pabrik dan fasilitas terkait yang mereka gunakan untuk memproduksi senjata nuklir. Kami juga melumpuhkan 20 ilmuwan nuklir terbaik mereka. Jadi, kami telah mendorong mereka mundur secara signifikan," lanjut Netanyahu.
2. Iran dahulu pernah mengembangkan senjata kimia

Pernyataan Netanyahu soal senjata kimia Iran tadi sebetulnya ada benarnya. Sebab, Iran dahulu dikabarkan pernah mengembangkan senjata kimia. Pada era 90-an dan 2000-an, Iran pernah mengimpor banyak bahan untuk membuat senjata tersebut. Namun, tidak dijelaskan dari mana mereka mengimpor semua bahan itu. Bahkan, Iran dahulu juga dikabarkan pernah mengembangkan senjata biologis.
Meski demikian, pada 2011, Iran sudah menyatakan penolakannya untuk mengembangkan, memproduksi, mengakuisisi, dan menyimpan senjata nuklir. Sebab, Iran merupakan salah satu negara yang meratifikasi Biological Weapons Convention (BWC) pada 1992 dan Chemical Weapons Convention (CWC) pada 1997. Dilansir Bulletin of the Atomic Scientists, kedua perjanjian itu melarang negara mana pun untuk mengembangkan atau memproduksi senjata kimia.
3. AS menuding Iran tidak mematuhi BWC dan CWC

Namun, pada 2018, Pemerintah Amerika Serikat yang kala itu masih dipimpin Presiden Donald Trump pernah menuding Iran tidak mematuhi BWC dan CWC. Sebab, Trump menyebut Iran masih berupaya mengambangkan dan memproduksi senjata kimia. Tuduhan itu sempat membuat hubungan Teheran dan Washington saat itu memanas.
Kemudian, pada 2019, intelijen AS merilis laporan bahwa Iran juga masih berupaya mengembangkan senjata biologis. Kendati demikian, semua klaim itu kini masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Sebab, Iran kerap membantah bahwa mereka punya senjata nuklir, senjata kimia, apalagi senjata biologis. Bahkan, Teheran menyebut semua tuduhan itu hanya upaya asing untuk menodai citra mereka di kancah internasional.





















