PBB Sebut Iran Eksekusi 21 Orang sejak Perang dengan AS Pecah

- PBB melaporkan Iran telah mengeksekusi 21 orang dan menahan lebih dari 4.000 sejak perang dengan AS dan Israel, disertai tuduhan pelanggaran HAM berat.
- Komisaris Tinggi HAM PBB mengecam penyiksaan, penghilangan paksa, serta kondisi penjara yang memburuk di Iran, termasuk kasus Narges Mohammadi dan insiden berdarah di Penjara Chabahar.
- Presiden AS Donald Trump menolak mencabut blokade pelabuhan Iran, memicu ketegangan di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak global hingga melampaui 119 dolar AS per barel.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Rabu (29/4/2026), melaporkan bahwa Iran telah mengeksekusi sedikitnya 21 orang sejak pecahnya perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Otoritas setempat juga tercatat menahan lebih dari empat ribu orang atas tuduhan ancaman keamanan nasional.
Sembilan orang yang dieksekusi memiliki kaitan dengan aksi protes antipemerintah pada Januari lalu. Eksekusi lainnya dijatuhkan kepada 10 orang yang dituduh sebagai anggota oposisi dan dua orang atas tuduhan spionase.
1. PBB kecam tindakan brutal rezim Iran terhadap warga

Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, mengecam tindakan otoritas Iran yang merampas hak asasi warganya secara sewenang-wenang. Turk mendesak pemerintah setempat untuk segera menghentikan hukuman mati dan menjamin peradilan yang adil bagi para tahanan.
"Saya sangat terkejut melihat hak-hak rakyat Iran terus direnggut dengan cara yang kejam di tengah konflik. Saya mendesak otoritas untuk menghentikan semua eksekusi lanjutan dan membebaskan mereka yang ditahan secara sewenang-wenang," ujar Turk, dilansir The Hill.
Laporan PBB juga menyoroti penggunaan penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan paksa dari para tahanan. Sejumlah orang bahkan dilaporkan mengalami penghilangan paksa dan eksekusi pura-pura selama masa penahanan.
Otoritas Iran turut menyita aset milik ratusan warganya menggunakan sistem pelacakan elektronik baru bernama Sahm. Penyitaan ini menargetkan pihak-pihak yang dituduh mendukung serangan militer terhadap negara tersebut.
2. Pelanggaran HAM dan kondisi penjara yang memburuk di Iran

Kelompok minoritas dan para tokoh pejuang hak asasi manusia (HAM) kini menghadapi risiko tinggi di bawah penindasan rezim. Puluhan tahanan, termasuk pengacara HAM Nasrin Sotoudeh, telah dipindahkan ke lokasi yang tidak diketahui.
PBB juga menyoroti kondisi kesehatan peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi, yang semakin memburuk di penjara. Mohammadi dilaporkan mengalami serangan jantung di tengah kurangnya akses ke perawatan medis yang memadai.
Insiden berdarah baru-baru ini terjadi di Penjara Chabahar ketika para tahanan memprotes penghentian distribusi makanan. Pasukan keamanan dilaporkan membunuh sedikitnya lima orang dan melukai 21 tahanan lainnya dalam peristiwa tersebut.
Situasi ini diperparah dengan pemutusan akses internet hampir secara total selama lebih dari enam puluh hari. Pemadaman internet ini menjadi salah satu yang terlama di dunia dan sangat menyulitkan warga untuk mengakses informasi.
3. Trump menolak akhiri blokade pelabuhan Iran

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menegaskan akan terus mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump telah menolak tawaran Iran yang ingin menukar pembukaan Selat Hormuz dengan pencabutan blokade tersebut.
"Blokade ini jauh lebih efektif daripada sekadar pengeboman karena mereka mulai tercekik akibat kebijakan ini. Situasi ini akan jadi jauh lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh punya senjata nuklir," tegas Trump, dilansir Al Jazeera.
AS dinilai sedang tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Teheran. Militer AS sejauh ini tercatat telah menyita setidaknya dua kapal komersial yang terhubung dengan Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan pada harga energi global. Harga minyak mentah berjangka Brent bahkan sempat melonjak hingga melampaui 119 dolar AS (sekitar Rp2 juta) per barel akibat konflik.


















