AS Hapus Venezuela dari Daftar Negara yang Gagal Berantas Narkoba

- AS mencabut Venezuela dari daftar negara yang gagal memberantas narkotika, mengakhiri status tersebut yang berlaku berturut-turut sejak 2005.
- Keputusan ini mengikuti koordinasi antinarkotika AS-Venezuela dan kerja sama keamanan dengan pemerintahan sementara Delcy Rodriguez, termasuk penindakan terhadap kartel Tren de Aragua.
- AS juga mengevaluasi status Kolombia setelah kampanye pemusnahan koka; Gedung Putih menuntut bukti terukur sebelum kemungkinan pencabutan predikat gagal tahun depan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (16/9/2026), resmi mencabut Venezuela dari daftar negara yang dinilai gagal memberantas peredaran narkotika. Perubahan status diplomatik ini menjadi yang pertama bagi Caracas setelah lebih dari dua dekade.
Langkah tersebut diambil berkat koordinasi baru kedua negara dalam memutus rantai peredaran obat terlarang di tingkat regional. Pada saat bersamaan, Washington juga mulai mengevaluasi status kepatuhan pemberantasan narkotika di negara tetangganya, Kolombia.
1. AS pulihkan status pengawasan narkotika Venezuela

Ilustrasi tulisan Venezuela (unsplash.com/Leonardo Guillen) Presiden AS, Donald Trump, menetapkan kebijakan ini melalui keputusan presiden tahun fiskal 2027 yang diserahkan kepada Kongres. Keputusan tersebut mengakhiri rapor merah Venezuela yang telah berlangsung secara berturut-turut sejak 2005.
Departemen Luar Negeri AS menilai Venezuela menunjukkan kemajuan nyata dalam memenuhi komitmen antinarkotika. Meski status gagal itu dicabut, Venezuela tetap bertahan dalam daftar 23 negara produsen utama maupun jalur transit narkoba.
"Saya menetapkan bahwa Venezuela tidak lagi dinilai gagal secara nyata dalam memenuhi komitmen pengendalian narkotikanya," kata Trump.
2. Kerja sama keamanan bilateral lumpuhkan kartel besar

ilustrasi Venezuela (pexels.com/Arthur A) Dinamika keamanan kawasan perlahan membaik usai penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu. Pemerintah AS kemudian menjalin kerja sama taktis dengan pemerintahan sementara pimpinan Delcy Rodriguez.
Kolaborasi ini berdampak langsung pada penindakan kelompok kriminal terorganisasi. Salah satunya adalah operasi militer yang menewaskan pemimpin kartel Tren de Aragua, Jose Antonio Tovar alias Nino Guerrero.
"Saya berharap dapat melihat kemajuan berkelanjutan dari pemerintah sementara dalam membongkar kelompok narkoteroris," ujar Trump.
3. Kolombia berpeluang ikuti jejak pemulihan Venezuela

ilustrasi bendera Kolombia (pexels.com/Flavia Carpio) Selain Venezuela, Trump memberi sinyal positif untuk meninjau ulang status Kolombia. Langkah ini menyulut harapan baru setelah Presiden Abelardo De La Espriella meluncurkan kampanye agresif untuk memusnahkan tanaman koka sejak Agustus lalu.
Sebelumnya, Washington memasukkan Kolombia ke dalam kategori negara gagal akibat lonjakan rekor produksi kokain. Kini, Pemerintah Kolombia berkomitmen memutus seluruh rantai bisnis terlarang tersebut dari hulu hingga hilir.
"Tujuan kami adalah melawan seluruh rantai perdagangan narkoba, mulai dari tanaman terlarang hingga jaringan keuangan internasional," tegas Duta Besar Kolombia untuk AS, Maria Consuelo Araujo, dikutip dari Hindustan Times.
Gedung Putih mensyaratkan adanya bukti terukur dalam pemusnahan ladang koka sebelum resmi mencabut predikat gagal bagi Kolombia pada tahun depan.




















