Korsel Tolak Kirim Pasukan ke Timur Tengah

- Presiden Lee Jae-myung menolak mengirim pasukan atau aset militer Korea Selatan ke Timur Tengah karena risiko terseret perang AS-Iran, tetapi mempertimbangkan peran lebih besar untuk keamanan pelayaran.
- Kesepakatan investasi Korea Selatan senilai 350 miliar dolar AS di Amerika Serikat, sebagai imbalan penurunan tarif, masih terhambat perbedaan soal syarat kelayakan komersial.
- Popularitas Lee turun menjadi 37 persen di tengah krisis kabinet dan harga properti; 61 persen responden juga tidak menyetujui penanganan ekonominya.
Jakarta, IDN Times - Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae-myung, mengatakan bahwa Seoul tidak akan mengerahkan pasukan atau aset militernya ke Timur Tengah karena berisiko menyeret negara tersebut ke dalam perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Lee menyoroti kerentanan Korsel pada impor energi, serta risiko inflasi akibat konflik yang berkepanjangan.
Kendati demikian, pada Jumat (18/9/2026), Lee menambahkan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga keamanan pelayaran di Timur Tengah. Saat ini, Korsel telah menempatkan angkatan laut di lepas pantai Somalia sebagai bagian dari misi anti-pembajakan, dilansir The Guardian.
Sebelumnya, Trump mengkritik Seoul karena dianggap kurang memberikan dukungan terkait perang AS dengan Iran. Akibatnya, Washington mengurangi skala latihan militer gabungan kedua negara. Sejak saat itu, Korsel telah mempertimbangkan pengerahan militer ke Selat Hormuz, meskipun gagasan tersebut kurang mendapat sambutan positif di dalam negeri.
1. Kesepakatan investasi Korsel-AS terhambat

Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee) Pada akhir tahun lalu, Lee bertemu dengan Trump dan menyepakati bahwa Korsel akan menanamkan investasi sebesar 350 miliar dolar AS (sekitar Rp6.219 triliun) di AS sebagai imbalan atas penurunan tarif Washington. Sejak saat itu, inisiatif berskala besar tersebut tampaknya mengalami hambatan, mengingat belum ada proyek besar yang diumumkan secara resmi.
Lee mengakui adanya perbedaan pendapat antara kedua belah pihak terkait desakan Seoul agar kelayakan komersial ditetapkan sebagai syarat eksplisit bagi investasi tersebut. Pemimpin Korsel itu menyatakan bahwa mereka akan terus bernegosiasi demi mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.
2. Lee bantah posisi Korsel tersisihkan jika dialog AS-Korut digelar

Presiden AS, Donald Trump (kiri), dan Pemimpin Korut, Kim Jong Un (kanan), bertemu di zona demiliterisasi Korut-Korsel. (Callista Gingrich, Public domain, via Wikimedia Commons) Lee menepis kekhawatiran bahwa Korsel akan tersisih jika pembicaraan langsung antara AS dan Korut kembali digelar. Lee mengatakan bahwa pembicaraan Washington-Pyongyang mungkin lebih mudah dimulai dibandingkan dialog antar-Korea. Dia mengklaim dialog tersebut pada akhirnya dapat membantu membuka kembali komunikasi antara kedua negara Korea.
Pemimpin Korsel itu mengaku tidak dapat memastikan apakah pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump, dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, akan terlaksana. Namun, Lee mengatakan bahwa Seoul telah berupaya di balik layar untuk membantu merintis jalan bagi pembicaraan antara Washington dan Pyongyang, dikutip dari The Korea Times.
Sejauh ini, media pemerintah Korut sebagian besar tetap bungkam menanggapi seruan berulang kali dari Trump untuk mengadakan pertemuan tersebut. Menurut laporan Wall Street Journal, Trump telah mendesak para stafnya untuk mengupayakan pertemuan dengan Kim paling cepat pada musim gugur mendatang.
3. Tingkat kepuasan publik terhadap Lee merosot tajam

ilustrasi bendera Korsel (pexels.com/준섭 윤) Pernyataan Lee muncul di tengah merosotnya popularitas domestik akibat berbagai krisis terkait penunjukan anggota kabinet dan kenaikan harga properti. Sebagian besar pidato Lee pada Jumat bernada permintaan maaf. Lee berjanji untuk bekerja lebih keras demi memulihkan kepercayaan publik selama sisa masa jabatannya, mengutip Nikkei Asia.
Menurut jajak pendapat yang dirilis oleh Gallup pada Jumat, tingkat kepuasan publik terhadap Lee berada di angka 37 persen, menurun tajam dibandingkan angka sebelumnya yang berada di atas 60 persen selama berbulan-bulan. Selain itu, jajak pendapat terpisah oleh Realmeter menunjukkan bahwa 61 persen responden tidak menyetujui cara Lee menangani ekonomi.
Meski demikian, Lee mengklaim bahwa Korsel sedang mengalami lonjakan ekonomi berkat penjualan produk berteknologi tinggi, seperti semikonduktor yang diproduksi oleh perusahaan teknologi raksasa nasional SK Hynix dan Samsung Electronics. Namun, menurut para analis, sebagian besar keuntungan tersebut belum dirasakan dampaknya oleh sektor rumah tangga.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















