Sekjen ASEAN: Rivalitas Global Bisa Bikin Kawasan Makin Terfragmentasi

- Kao Kim Hourn mengingatkan rivalitas strategis dan kerja sama baru berisiko membuat arsitektur Asia Tenggara semakin terfragmentasi.
- ASEAN diminta menjaga persatuan, solidaritas, dan sentralitas melalui penggunaan mekanisme dialog yang lebih strategis.
- Menjelang usia 60 tahun pada 2027, ASEAN dinilai perlu beradaptasi sambil tetap menentukan prioritas dan masa depannya sendiri.
Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengingatkan semakin tajamnya rivalitas strategis dan bermunculannya berbagai kerja sama baru dapat membuat arsitektur kawasan Asia Tenggara semakin terfragmentasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ASEAN untuk mempertahankan sentralitasnya di tengah lingkungan geopolitik yang semakin kompleks.
Kao menyampaikan hal itu saat membuka ASEAN Think Tanks Summit (ATTS) ke-3 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin (14/9/2026). Menurutnya, ASEAN perlu memastikan berbagai mekanisme yang dipimpinnya tetap relevan ketika negara-negara semakin banyak membentuk koalisi berdasarkan isu tertentu maupun kerja sama minilateral.
“Di bawah Presidensi Filipina dan temanya, ‘Navigating Our Future, Together’, ASEAN menghadapi lingkungan regional dan internasional yang semakin diperebutkan, kompleks, dan tidak terduga,” kata Kao dalam pidatonya di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan tantangan ASEAN bukan hanya menghadapi tekanan tersebut, tetapi juga menjaga persatuan, solidaritas, sentralitas, serta arah bersama dalam perjalanan menuju Komunitas ASEAN 2045.
1. Rivalitas geopolitik uji sentralitas ASEAN

Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn hadiri 3rd ASEAN Think Tanks Summit. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Kao mengatakan persaingan strategis yang semakin tajam terjadi bersamaan dengan munculnya berbagai institusi dan inisiatif baru di kawasan. Negara-negara juga semakin sering memilih membentuk koalisi berdasarkan isu tertentu atau kerja sama dalam kelompok yang lebih kecil.
Menurut Kao, perkembangan tersebut pada satu sisi menunjukkan dinamika baru dalam hubungan internasional. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, semakin banyaknya mekanisme kerja sama dapat membuat arsitektur kawasan menjadi terlalu terfragmentasi.
“Pertanyaannya bagi ASEAN adalah bagaimana memastikan arsitektur kawasan yang semakin kompleks ini tidak menjadi begitu terfragmentasi sehingga proses yang dipimpin ASEAN kehilangan koherensi, relevansi, atau daya untuk mempertemukan berbagai pihak,” ujarnya.
Ia menilai persoalannya bukan lagi apakah dialog masih relevan, melainkan bagaimana ASEAN dapat menggunakan instrumen dan mekanisme yang sudah dimiliki secara lebih strategis dan efektif.
2. 50 Tahun TAC jadi modal ASEAN

Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn dalam ASEAN Media Forum ke-10 (AMF) di Manila, Filipina. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Kao menyinggung Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) yang tahun ini memasuki usia 50 tahun. Menurutnya, perjanjian tersebut tetap menjadi salah satu fondasi penting bagi hubungan damai antarnegara di Asia Tenggara.
Selain TAC, ASEAN memiliki sejumlah mekanisme yang dapat digunakan untuk menjaga dialog dan membangun kepercayaan, termasuk ASEAN Regional Forum, East Asia Summit, ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM), dan ADMM-Plus.
ASEAN juga memiliki ASEAN Institute for Peace and Reconciliation yang dapat mendukung upaya dialog dan kerja sama. Kao mengatakan tantangannya adalah memastikan seluruh mekanisme tersebut tetap mampu merespons perubahan lingkungan strategis.
“Sentralitas, bagaimanapun, tidak dapat hanya bertumpu pada warisan kelembagaan, sentralitas harus terus diperoleh melalui kemampuan ASEAN untuk mempertemukan negara-negara, mengelola perbedaan, dan memungkinkan aksi bersama ketika hal tersebut penting,” kata Kao.
3. ASEAN menuju usia 60 tahun

Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn dalam perayaan ASEAN Day ke -59 di Sekretariat ASEAN, Jakarta. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) ASEAN akan memasuki usia 60 tahun pada 2027 di bawah keketuaan Singapura. Momentum tersebut, menurut Kao, dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan ASEAN sekaligus melihat apakah berbagai institusi dan pola kerja sama yang selama ini digunakan masih sesuai dengan lingkungan strategis yang telah berubah.
Ia mengatakan ASEAN harus terus beradaptasi tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan prioritas dan masa depannya sendiri. Menurutnya, ketahanan tidak semata-mata berarti kemampuan menghadapi guncangan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perubahan sambil tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan.
“Untuk ASEAN, itu berarti tetap terbuka sembari mengelola kerentanan, memperdalam kemitraan tanpa menciptakan ketergantungan yang berlebihan, serta melibatkan kekuatan besar dan mitra lainnya sembari mempertahankan kemampuan untuk menentukan prioritasnya sendiri dan membentuk masa depannya sendiri bagi masyarakatnya,” tutur Kao.
Kao menilai komunitas think tank melalui jalur Track 2 juga dapat membantu ASEAN menghadapi tantangan tersebut. Kajian independen dibutuhkan untuk menguji asumsi, melihat pilihan kebijakan secara kritis, serta memberikan rekomendasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan kebijakan ASEAN.






















