Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Survei: 92 Persen Warga Israel Nilai Iran Menang Perang

Survei: 92 Persen Warga Israel Nilai Iran Menang Perang
protes di Tel Aviv, Israel pada 2024 (עמיעד סלטון Amiad Salton, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Survei Hebrew University menunjukkan 92,1 persen warga Israel menilai Iran memenangkan perang dan menganggap operasi militer gagal memperkuat keamanan jangka panjang negara mereka.
  • Dukungan publik terhadap PM Benjamin Netanyahu turun drastis menjadi 29,4 persen, sementara mayoritas warga juga kecewa pada penanganan krisis oleh Presiden AS Donald Trump.
  • Meskipun pesimistis terhadap hasil perang dengan Iran, hampir separuh warga Israel tetap mendukung rencana operasi militer besar di Lebanon untuk menghadapi Hizbullah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mayoritas warga Israel meyakini Iran telah memenangkan perang. Hal ini terungkap dari hasil jajak pendapat terbaru setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Survei ini dilakukan oleh Hebrew University of Jerusalem bersama Agam Institute pada Rabu hingga Sabtu (17-20/6/2026). Temuan ini menyoroti krisis kepercayaan publik terhadap para pemimpin Israel.

1. Israel dinilai gagal mencapai tujuan perang

serangan Israel ke Teheran pada Juni 2025
serangan Israel ke Teheran pada Juni 2025 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebanyak 92,1 persen responden meyakini bahwa Iran telah memenangkan konflik ini. Angka ini juga sangat tinggi di kalangan pendukung koalisi sayap kanan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

Lebih dari 82 persen warga merasa operasi militer ini telah melemahkan keamanan jangka panjang Israel. Sebagian besar dari mereka juga memandang negatif kesepakatan yang dibuat oleh Washington dan Teheran.

Hampir 88 persen responden menilai Israel gagal mencapai target perang atau hanya memenuhi sebagian kecil saja. Publik merasa ancaman eksistensial dari Iran belum berhasil dihilangkan.

"Publik Israel telah berubah menjadi sangat pesimistis, khawatir, dan kecewa setelah melihat hasil perang," ujar analis Agam Labs Dr Nimrod Nir, dilansir The Independent.

2. Kepercayaan pada Netanyahu dan Trump merosot

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Ketidakpuasan publik ini berdampak pada posisi politik Netanyahu. Dukungan masyarakat terhadap kepemimpinannya anjlok dari 40,5 persen pada bulan Maret menjadi 29,4 persen di bulan Juni.

Sekitar 72,5 persen warga tidak percaya klaim pencapaian perang yang digaungkan Netanyahu. Sebanyak 56,4 persen responden menganggap manajemen perangnya gagal atau buruk.

Kekecewaan publik juga mengarah pada Presiden AS Donald Trump atas penanganannya terhadap krisis tersebut. Hampir 70 persen warga Israel menilai kinerja Trump dalam menangani perang ini sangat buruk.

Kesepakatan antara AS dan Iran juga sangat tidak populer di mata warga Israel. Kebijakan ini dianggap diambil tanpa melibatkan aspirasi keamanan Israel.

3. Mayoritas publik Israel mendukung operasi militer di Lebanon

tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)
tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

Meski pesimistis dengan hasil di Iran, publik Israel tetap mendukung tindakan militer lanjutan. Sebanyak 48,2 persen warga sepakat untuk memperbarui aksi militer skala besar terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Mereka bersedia mengambil risiko memicu ketegangan dengan pihak AS demi mengamankan wilayah perbatasan utara. Hanya 21 persen warga yang menolak rencana operasi militer tersebut.

Negosiasi lanjutan telah berlangsung di Swiss untuk memperkuat nota kesepahaman antara AS dan Iran. Perundingan bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan menetapkan gencatan senjata di berbagai front, termasuk Lebanon. Hal ini memicu penolakan keras dari para politikus sayap kanan Israel yang menolak gencatan senjata.

"Untuk setiap air mata ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis," ujar Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dilansir The Independent.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More