Trump Ultimatum Iran, Beri Kesempatan Terakhir untuk Negosiasi

- Trump menyebut negosiasi dengan Iran sebagai kesempatan terakhir untuk mengakhiri konflik, mencakup pembukaan Selat Hormuz dan denuklirisasi, meski Teheran membantah adanya pembicaraan langsung.
- Iran menyatakan hanya berdiskusi dengan Oman tentang masa depan Selat Hormuz, termasuk jalur sementara bagi pelayaran komersial dan skema perusahaan gabungan untuk layanan kapal.
- Trump menuntut denuklirisasi Iran sebagai syarat penyelesaian konflik yang berlangsung sejak 28 Februari; Iran tetap membantah program nuklirnya bertujuan militer.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperingatkan Iran bahwa putaran terbaru negosiasi menjadi kesempatan terakhir untuk mengakhiri konflik antara Washington dan Teheran. Pada Senin (3/8/2026), Trump mengklaim pembicaraan antara kedua negara tengah berlangsung atas permintaan Iran dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya.
Pembicaraan tersebut berfokus pada upaya membuka kembali Selat Hormuz dan melakukan denuklirisasi Iran. Trump mengatakan pembukaan kembali jalur perairan vital tersebut dapat dilakukan kemungkinan esok hari, sementara proses denuklirisasi Teheran disebut membutuhkan waktu lebih lama, mengutip France24.
Meski demikian, Teheran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington maupun rencana untuk menggelar pembicaraan tersebut di masa mendatang. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa Teheran saat ini hanya melakukan pembicaraan dengan Oman terkait masa depan Selat Hormuz.
1. Trump sebut Iran munafik karena bantah adanya pembicaraan

Trump menuduh para pemimpin Iran bersikap sangat munafik karena membantah adanya pembicaraan dengan AS. Dalam unggahan di Truth Social pada Senin, Trump mengatakan Teheran meminta pertemuan dan pembicaraan telah dimulai, bahkan dengan agenda lanjutan yang dijadwalkan dalam waktu dekat.
Trump juga menyinggung klaim Iran mengenai pengoperasian Selat Hormuz yang berada di bawah kendalinya. Dia mengatakan bahwa jalur tersebut saat ini telah sepenuhnya dikendalikan oleh Angkatan Laut AS melalui blokade yang diberlakukan Washington.
Pada pekan lalu, Trump mengancam akan menghantam Iran dengan serangan terbesar sejak Perang Dunia ke-2. Namun, rencana tersebut dibatalkan pada Sabtu setelah mengatakan bahwa garis besar kesepakatan telah tercapai.
Trump mengklaim keputusan tersebut diambil setelah Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), meneleponnya dan mendesak agar jalur diplomasi diutamakan. Meski demikian, Trump menegaskan pembatalan serangan tersebut bergantung pada kesediaan Teheran mencapai kesepakatan dalam waktu cepat.
2. Iran bahas masa depan Selat Hormuz dengan Oman

Dilansir The Guardian, Iran telah berunding dengan Oman mengenai kemungkinan pembentukan jalur sementara di Selat Hormuz agar pelayaran komersial dapat kembali berjalan. Namun, Teheran belum kembali melakukan pembicaraan dengan AS.
Baghaei mengatakan salah satu proposal yang dibahas adalah pembentukan perusahaan gabungan Oman-Iran. Perusahaan tersebut nantinya menyediakan berbagai layanan yang sebelumnya diberikan perusahaan asuransi dengan biaya tinggi. Melalui skema tersebut, layanan akan ditawarkan dengan harga lebih rendah serta tarif khusus bagi sejumlah negara.
Persoalan Selat Hormuz menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang. Sejak gencatan senjata runtuh, Teheran kembali memberlakukan blokade di jalur tersebut seperti yang dilakukan pada awal perang. Blokade itu menghambat kapal-kapal yang berusaha melintas dan diikuti serangan terhadap kapal komersial.
Sebelum perang, kapal-kapal dapat melintas bebas melalui Selat Hormuz. Namun, Iran kini bersikeras mempertahankan kendali atas jalur tersebut dan akan mengenakan biaya atas perairan tersebut. Teheran juga menolak memberikan izin bagi kapal yang melintas untuk menggunakan jalur selain rute yang berada dekat dengan pesisir Iran.
3. Trump bersikeras desak denuklirisasi Iran

Trump kembali menegaskan bahwa denuklirisasi Iran merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam proses penyelesaian konflik. Sejumlah negara Barat menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir, meski negara Teluk tersebut bersikeras bahwa program nuklirnya sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Washington dan Teheran telah berperang sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran. Meski demikian, diplomasi yang berlangsung secara putus-putus selama berbulan-bulan sempat menciptakan sejumlah periode ketenangan relatif di tengah konflik.
Lebih dari lima bulan setelah perang dimulai, Iran masih mampu meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target AS serta sekutunya di kawasan. Teheran juga masih memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya, dilaporkan oleh France24.





















