Warga Alberta Tolak Usulan Referendum Pemisahan Diri dari Kanada

- Sebanyak 76 persen dari lebih 1,5 juta pemilih Alberta memilih tetap bersama Kanada, sementara hampir 24 persen mendukung proses hukum menuju pemisahan diri.
- PM Mark Carney dan Pemimpin Alberta Danielle Smith menyambut hasil tersebut; Smith menyatakan kemenangan kubu federalis menutup peluang referendum pemisahan selama masa pemerintahannya.
- Kelompok separatis tetap melanjutkan gerakan, yang dipicu ketidakpuasan terhadap kebijakan federal atas industri minyak dan dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi Alberta.
Jakarta, IDN Times - Warga Provinsi Alberta menolak rencana pelaksanaan referendum mengikat untuk memisahkan diri dari Kanada berdasarkan hasil perhitungan awal pada Selasa (20/10/2026). Hasil pemungutan suara yang digelar pada Senin (19/10/2026) ini menjadi kemenangan penting bagi Perdana Menteri (PM) Kanada, Mark Carney, dalam menjaga persatuan nasional di tengah perang dagang dan ancaman aneksasi dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Berdasarkan data komisi pemilihan umum setempat, Elections Alberta, dari lebih 1,5 juta suara yang dihitung, sebanyak 76 persen pemilih mendukung Alberta tetap menjadi bagian Kanada. Sementara itu, hampir 24 persen pemilih mendukung dimulainya proses hukum menuju pemisahan diri. Pemungutan suara tidak mengikat ini memuat 10 pertanyaan, dengan sembilan pertanyaan membahas imigrasi, layanan kesehatan, pendidikan, dan konstitusi, serta satu pertanyaan utama terkait kemerdekaan yang dihitung lebih dulu.
1. PM Kanada dan pemimpin Alberta sambut kemenangan kubu persatuan

PM Kanada Mark Carney (Prime Minister of Canada, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons) Carney, yang tumbuh besar di ibu kota Alberta, Edmonton, menyambut baik hasil pemungutan suara tersebut. Ia menilai hasil ini memungkinkan warga Kanada bergerak maju bersama untuk mempercepat diversifikasi perdagangan, membangun proyek infrastruktur besar, dan menjadikan Kanada kekuatan energi global dengan Alberta sebagai pusatnya.
"Warga Alberta telah membuat pilihan jelas. Mereka memilih persatuan, membangun bersama, dan saling menjaga satu sama lain," kata Carney melalui platform X, dilansir The Guardian.
Pemimpin Provinsi Alberta, Danielle Smith, juga menyambut baik tingginya dukungan warga untuk tetap bergabung dengan Kanada. Politisi konservatif dari Partai Konservatif Bersatu (UCP) ini menggelar pemungutan suara guna meredam perpecahan di wilayahnya, menyusul adanya petisi publik pro-kemerdekaan yang mengumpulkan sekitar 300 ribu tanda tangan serta petisi tandingan pro-persatuan dengan lebih dari 400 ribu tanda tangan. Smith sebelumnya menegaskan bahwa kemenangan kubu federalis akan menutup peluang diadakannya referendum pemisahan diri selama masa pemerintahannya.
2. Kelompok separatis akan terus lanjutkan gerakan kemerdekaan

Bendera Kanada. (unsplash.com/Praveen Kumar Nandagiri) Kekalahan dalam pemungutan suara ini tidak menghentikan langkah kelompok pro-kemerdekaan di Alberta. Pengacara asal Calgary sekaligus petinggi kelompok separatis Alberta Prosperity Project, Jeffrey Rath, memandang pemungutan suara ini sebagai langkah awal yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi gerakan mereka.
"Sejauh yang saya pahami, kami sudah menang karena berhasil menciptakan gerakan besar di provinsi ini. Kami telah mengedukasi warga Alberta tentang manfaat kemerdekaan, dan kami akan terus melangkah maju," ujar Rath, dilansir The Straits Times.
Para pemimpin separatis kini berencana menurunkan Smith dari kursi kepemimpinan UCP untuk digantikan dengan tokoh yang lebih mendukung agenda kemerdekaan. Rath bahkan menyebut partai berkuasa tersebut berpotensi pecah dan melahirkan partai baru yang pro-kemerdekaan. Mantan Pemimpin Provinsi Alberta, Jason Kenney, mencatat bahwa partai separatis dulunya hanya meraih satu hingga dua persen suara, tetapi kemarahan warga atas pembatasan COVID-19 turut memobilisasi aktivis hingga memperbesar gerakan ini.
3. Gerakan kemerdekaan dipicu isu pengelolaan industri minyak

ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Zbynek Burival) Dorongan pemisahan diri di Alberta dipicu oleh ketidakpuasan warga terhadap pengelolaan industri minyak oleh pemerintah federal di Ottawa. Kelompok separatis merasa pertumbuhan ekonomi Alberta terhambat oleh kebijakan lingkungan pemerintah pusat. Smith sempat menyalahkan pendahulu Carney, Justin Trudeau, karena dinilai menekan produksi minyak demi agenda iklimnya.
Sejak menjabat pada 2025, Carney berupaya memperbaiki hubungan pemerintah pusat dengan Alberta. Ia bekerja sama dengan Smith untuk memajukan proyek pembangunan pipa baru guna mengekspor lebih banyak bitumen Alberta ke luar negeri, sebuah proyek yang sempat terhenti pada era pemerintahan Trudeau.
Wacana kemerdekaan Alberta juga menarik perhatian sekutu Presiden AS Donald Trump. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut Alberta sebagai mitra alami bagi Washington, sedangkan CEO Tesla, Elon Musk, sempat mengunggah pernyataan di X pada Oktober 2026 bahwa Alberta sebaiknya memisahkan diri. Selain itu, Rath diketahui sempat mengadakan pertemuan di Departemen Luar Negeri AS dan kelompok separatis menerima masukan dari para politisi Partai Republik AS.
























