Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rusia Tarik Duta Besar dari Inggris, Protes Dukungan ke Ukraina

Rusia Tarik Duta Besar dari Inggris, Protes Dukungan ke Ukraina
bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)
  • Rusia menarik Duta Besar Andrey Kelin dari Inggris setelah lebih tujuh tahun bertugas; posisi sementara dipimpin kuasa usaha Vasily Tsyganov tanpa kandidat pengganti yang diumumkan.
  • Kremlin menuduh Inggris memilih konfrontasi dan terlibat dalam serangan Ukraina ke Rusia melalui pasokan drone, serta memperingatkan London akan menanggung konsekuensi.
  • Inggris menegaskan dukungan bagi Ukraina dan haknya membela diri, sementara Rusia membantah akan menurunkan hubungan diplomatik meski relasi bilateral disebut berada di titik terendah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Rusia telah menarik duta besarnya dari Inggris, Andrey Kelin, setelah lebih dari tujuh tahun bertugas. Keputusan tersebut diambil di tengah upaya berkelanjutan Kremlin untuk menekan London terkait dukungannya terhadap Ukraina.

Pada Minggu (23/8/2026), Kedutaan Besar Rusia di London mengonfirmasi bahwa saat ini tidak ada duta besar yang menjabat. Kremlin belum mengajukan kandidat pengganti maupun menunjukkan tanda-tanda mengenai kapan pengganti Kelin akan ditunjuk. Untuk sementara waktu, kedutaan dipimpin oleh kuasa usaha Vasily A. Tsyganov, dikutip dari The Independent.

  1. 1. Kremlin tuduh Inggris pilih jalan konfrontasi dengan Rusia

    bendera Rusia
    ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)

    Kedutaan menyebut Kelin telah berupaya mempertahankan saluran komunikasi dengan pemerintah Inggris selama menjalankan tugasnya. Namun, Moskow menilai London justru memilih jalur konfrontasi terhadap Rusia.

    Pada 17 Agustus lalu, Rusia memperingatkan Inggris bahwa negara itu akan menanggung akibat menyusul laporan bahwa drone yang dipasok ke Ukraina telah digunakan dalam serangan di Rusia. Pihaknya menuduh London menjadi kaki tangan dan pelaku bersama dalam serangan-serangan tersebut, serta secara sengaja memilih eskalasi dalam konflik tersebut.

    Kedutaan menuduh Inggris berupaya membendung Rusia dan menimbulkan kerusakan maksimal terhadapnya melalui pihak perantara. Kremlin memperingatkan bahwa semakin dalam keterlibatan London, semakin besar pula harga yang harus dibayarnya, mengutip The Guardian.

  2. 2. Inggris tegaskan dukungan ke Ukraina meski ditentang Rusia

    bendera Inggris
    ilustrasi bendera Inggris (unsplash.com/Chris Boland)

    Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan bahwa penarikan duta besar menjadi ranah Kementerian Luar Negeri Rusia. Pihaknya mengaku tetap memiliki duta besar di Moskow untuk menjalin komunikasi serta menyampaikan kekhawatiran kepada pemerintah Rusia.

    Pihaknya menambahkan bahwa akan terus berdiri bahu-membahu bersama Ukraina, yang memiliki hak untuk membela diri dari invasi ilegal dan tanpa provokasi yang dilakukan oleh Moskow. Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyatakan bahwa London tidak akan gentar menghadapi ancaman Rusia.

    Dikutip dari The Straits Times, Inggris telah menjadi salah satu pendukung terkuat Ukraina sejak invasi skala penuh Rusia pada 2022. Negara tersebut berkomitmen untuk memberikan dukungan senilai sekitar 25 miliar pound sterling (setara Rp603 triliun), yang mencakup bantuan militer sebesar 16 miliar pound sterling (setara Rp386 triliun).

  3. 3. Rusia bantah berniat turunkan hubungan diplomatik dengan Inggris

    bendera Inggris
    ilustrasi bendera Inggris (Qwexcxewq, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Kedutaan Rusia membantah bahwa Moskow berniat menurunkan tingkat hubungan diplomatik antara Rusia dan Inggris. Meski demikian, pihaknya menambahkan bahwa kondisi hubungan kedua negara di segala bidang telah merosot ke tingkat terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kremlin menyebut bahwa hal itu sepenuhnya merupakan akibat dari inisiatif London.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Kelin kerap mengulang narasi Kremlin yang menyatakan bahwa Rusia tidak mungkin kalah dalam perang di Ukraina. Menurut mantan atase pertahanan Inggris di Moskow dan Kiev, John Foreman, kekosongan posisi duta besar bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina telah meningkatkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia. Sementara itu, Moskow juga semakin mengintensifkan serangan rudal dan drone terhadap ibu kota Kiev.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More