"Kami memastikan setiap perkembangan perkara akan ditangani secara akuntabel dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap masyarakat," ujar dia.
Polisi Sebut 5 Warga Sipil di Tolikara Tewas Akibat Dianiaya OPM

- Lima warga sipil tewas akibat penembakan dan penganiayaan di Tolikara pada 2 Agustus 2026; jenazah dievakuasi ke RSUD Mulia dan Karubaga, sementara lima korban selamat dirawat.
- Polisi masih memverifikasi dugaan keterlibatan OPM pimpinan Rambo Botak melalui saksi dan bukti lapangan, meski Satgas TNI Habema menyebut kelompok tersebut sebagai dalang.
- Komnas HAM mencatat 59 orang tewas dalam 42 konflik bersenjata di Papua sepanjang Januari-Juni 2026, termasuk 43 warga sipil; 50 orang lainnya mengalami luka-luka.
Jakarta, IDN Times - Satgas Damai Cartenz-2026 mengatakan, lima warga sipil meninggal pada Minggu (2/8/2026) akibat ditembak dan dianiaya oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Jenazah kelimanya sudah berhasil dievakuasi ke RSUD Mulia. Selain itu, ada pula lima warga lainnya yang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
"Empat korban meninggal dunia masing-masing berinisial A.S, E.A, B yang telah berhasil dievakuasi ke RSUD Mulia dan A.C.R yang telah berhasil dibawa ke RSUD Karubaga, Kabupaten Tolikara," ujar Kepala Satgas Humas Ops Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, dalam keterangan dikutip Rabu (5/8/2026).
Sementara, satu korban meninggal dunia lainnya merupakan masyarakat asli Papua yang masih dalam proses identifikasi.
"Di sisi lain, lima korban selamat yang berhasil dievakuasi masing-masing berinisial W.R, S.S, H.M, S.U dan J.J.M. Para korban telah mendapat penanganan medis dan dirujuk ke RSUD Mulia untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," kata dia.
1. Polisi masih telusuri keterlibatan OPM pimpinan Rambo Botak

Yusuf mengatakan, informasi awal yang menyebut dugaan keterlibatan OPM pimpinan Rambo Botak masih terus ditelusuri dan diverifikasi. Personel kepolisian masih terus menyelidiki berdasarkan keterangan saksi, bukti dan hasil penyelidikan di lapangan.
"Kami tidak ingin mendahului hasil penyelidikan. Identitas dan pihak yang bertanggung jawab akan disampaikan setelah didukung oleh hasil penyelidikan dan alat bukti yang memadai," kata dia.
Sementara, data yang disampaikan oSatgas TNI Habema justru tegas menyebut OPM pimpinan Rambo Botak yang menjadi dalang tewasnya lima warga sipil di Tolikara.
Kapolsek Illu, Iptu Rajab Ilyas, mengatakan, proses evakuasi lima korban di Tolikara tidak mudah. Sebab, personel satgas Damai Catenz-2026 menghadapi kontak tembak dengan pihak yang belum teridentifikasi.
"Proses evakuasi tetap dilaksanakan secara terukur dengan keselamatan sebagai prioritas," kata dia.
2. Satgas Damai Cartenz-2026 menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban

Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol Faizal Ramadhani, turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban. Dia mengatakan, petugas akan melakukan pengusutan secara menyeluruh berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
"Saat ini petugas kepolisian yang tergabung di dalam Operasi Damai Cartenz-2026 bersama jajaran kewilayahan terus bekerja secara maksimal untuk mengungkap pelaku maupun motif di balik peristiwa ini. Seluruh proses penanganan dilakukan secara profesional, terukur dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," kata Faizal.
Dia mengatakan, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas dalam setiap penanganan kejadian di wilayah operasi.
3. Komnas HAM catat 59 orang tewas dalam kekerasan bersenjata di Papua sepanjang 2026

Berdasarkan data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), sebanyak 59 orang tewas akibat eskalasi konflik dan kekerasan bersenjata di Papua sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43 korban di antaranya merupakan warga sipil.
Data statistik konflik pada semester I 2026 yang dirilis Komnas HAM menunjukkan 42 peristiwa konflik terjadi di berbagai wilayah Papua. Sebanyak 21 di antaranya merupakan serangan kelompok sipil bersenjata (KSB) terhadap sipil, 11 operasi aparat keamanan, 8 kontak tembak, 4 serangan KSB ke aparat, dan 6 konflik lainnya.
"Situasi ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka, pengungsian internal, serta akses pelayanan dasar yang terganggu," ujar Komisioner Komnas HAM, Atnike Nova Sigiro, dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
Dari 42 konflik tersebut, Komnas HAM mengungkap 59 orang meninggal dunia. Rinciannya, 43 orang merupakan warga sipil. 8 orang adalah aparat TNI dan Polri, sedangkan 8 orang merupakan KSB atau kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Komnas HAM juga melaporkan ada 50 orang luka-luka. Rinciannya, 40 orang di antaranya merupakan warga sipil, 5 aparat TNI dan Polri, serta 5 orang KSB.
"Komnas HAM memberikan atensi terhadap dampak dari konflik dan kekerasan bersenjata terhadap masyarakat khususnya warga sipil," ujar dia.



















