Todung Mulya Lubis: Pemilu 2024 Paling Banyak Masalah sejak Reformasi

Jakarta, IDN Times - Deputi Hukum TPN Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis menilai Pemilu 2024 merupakan pesta demokrasi dengan masalah terbanyak setelah era-reformasi. Menurutnya, pemilu yang lain bukan tanpa masalah, tapi kali ini yang paling banyak.
"Menurut saya Pemilu 1999, 2004, 2009, 2014, 2019 bukan tanpa masalah, ada masalah. Tapi, pemilu 2024 ini menurut saya paling banyak masalah, paling banyak kecurangan, paling sistematik, paling terstruktur, paling masif," ujar Todung dalam Real Talk with Uni Lubis, Senin (26/2/2024).
1. Seharusnya demokrasi Indonesia sudah kuat

Todung mengaku sedih dengan Pemilu 2024. Sebab, seharusnya Indonesia sudah melaksanakan demokrasi yang lebih kuat.
"Menurut saya 2024 ini kita sudah bisa mengkonsolidasikan demokrasi lebih kuat lebih bagus dan Indonesia tetap sebagai negara demokratis yang dilihat dunia," ujarnya.
2. Pemilu 2024 dinilai langkah mundur demokrasi

Todung bermimpi Indonesia menjadi negara paling demokratis dibandingkan yang lainnya. Namun, Pemilu 2024 merupakan sebuah langkah mundur dalam demokrasi di tanah air.
"Buat saya tidak mudah memulihkan kembali," ujarnya.
3. Ganjar-Mahfud dan Prabowo-Gibran selisih 53,6 juta suara

Diketahui, pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD saat ini masih menempati nomor urut tiga dalam rekapitulasi sementara Komisi Pemilhan Umum. Ganjar-Mahfud sejauh ini baru mengumpulkan 21.271.360 suara atau 16,71 persen.
Jumlah tersebut selisih 53,6 juta suara dengan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di peringkat pertama. Prabowo Gibran saat ini telah mengumpulkan 74.923.175 suara atau setara 58,84 persen.
Jumlah itu masih bisa berubah karena KPU masih melakukan rekapitulasi suara. Sejauh ini sudah ada suara dari 636.269 TPS yang masuk atau 77,29 dari jumlah TPS yang ada.


















