Karhutla di Banyumas, Bromo hingga Rinjani, 219 Hektare Ludes Terbakar

- Lima wilayah di Indonesia dilanda karhutla pada 7-8 Agustus 2026: Banyumas, Ponorogo, Trenggalek, Gunung Rinjani, dan Gunung Bromo. BNPB melaporkan sedikitnya 219 hektare terdampak.
- Kebakaran di Banyumas, Ponorogo, dan Trenggalek telah dipadamkan setelah menghanguskan masing-masing sekitar 2, 10, dan 1,5 hektare; tidak ada korban jiwa dilaporkan.
- Di Rinjani, api yang membakar sekitar 30 hektare telah dikendalikan. Penanganan Bromo masih berlangsung melalui operasi darat-udara setelah 176,20 hektare terbakar dan sebagian wisata ditutup.
Jakarta, IDN Times - Lima wilayah di Indonesia dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sehari pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Lima wilayah tersebut yakni Banyumas, Jawa Tengah; Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur; Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur; kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur; dan kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (9/8/2026), melaporkan 119 hektare lebih lahan dan hutan hangus terbakar akibat dilalap api. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dibantu pemerintah daerah setempat bahu-membahu menanggulangi karhutla.
1. Kebakaran lahan 2 hektare melanda Kabupaten Banyumas

Masih di Provinsi Jawa Tengah, karhutla juga terjadi di Kabupaten Banyumas, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kebakaran dipicu aktivitas pembakaran lahan yang kemudian menjalar dengan cepat ke area di sekitarnya.
Berdasarkan laporan yang diterima BNPB, karhutla terjadi di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2 hektare. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.
"Dalam upaya penanganan, BPBD Kabupaten Banyumas bersama tim pemadam melakukan pemadaman dan penanganan di lokasi kejadian. Upaya tersebut melibatkan unsur TNI, Polri, dan masyarakat guna mempercepat proses pemadaman sekaligus mencegah api kembali meluas," kata Muhari.
Muhari menjelaskan berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu, 8 Agustus 2026, api di lokasi kejadian telah berhasil dipadamkan. Petugas dan unsur terkait tetap melakukan penanganan di lapangan untuk memastikan kondisi aman dan mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api.
Penanganan karhutla di Kabupaten Banyumas, kata Muhari, dilaksanakan dalam kerangka status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas Nomor 530 Tahun 2026, yang berlaku mulai 3 Juli hingga 31 Oktober 2026.
"Di tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 yang berlaku mulai 1 Juni hingga 31 Desember 2026," kata dia.
2. Lahan seluas 10 hektare ludes terbakar di Kabupaten Ponorogo

Di Provinsi Jawa Timur, karhutla terjadi di wilayah Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Berdasarkan laporan yang diterima BNPB, kebakaran lahan terjadi di dua desa, yaitu Desa Bancangan dan Desa Campurejo, Kecamatan Sambit. Lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
"Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut," kata Muhari.
BPBD Kabupaten Ponorogo melakukan kaji cepat dan penanganan kebakaran di lokasi terdampak. Upaya pemadaman dilakukan di Dukuh Tengger, Desa Bancangan, dan Dukuh Kabatan, Desa Campurejo, Kecamatan Sambit untuk memastikan api tidak kembali meluas ke area lain.
"Berdasarkan kondisi mutakhir pada Sabtu (8 Agustus 2026), api telah berhasil dipadamkan pada pukul 17.00 WIB. Petugas tetap melakukan pemantauan di lokasi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi munculnya kembali titik api," kata dia.
3. Kebakaran lahan seluas 1,5 hektare juga melanda Kabupaten Trenggalek

Di wilayah lainnya, karhutla terjadi di kawasan hutan milik Perum Perhutani, petak 114 A, Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu, 8 Agustus 2026 sekitar pukul 12.30 WIB. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih belum diketahui.
"Berdasarkan laporan yang diterima BNPB, kebakaran berdampak pada lahan seluas sekitar 1,5 hektare. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut," ujar Muhari.
BPBD Kabupaten Trenggalek bersama tim gabungan segera melakukan penanganan di lokasi. Upaya pemadaman dilakukan secara manual dengan metode gepyok, sekaligus membuat sekat bakar atau ilaran untuk menghambat pergerakan api dan mencegah kebakaran meluas ke area lainnya.
"Berkat penanganan yang dilakukan tim gabungan, api berhasil dipadamkan pada pukul 16.30 WIB pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Petugas melakukan penanganan di lokasi untuk memastikan kondisi benar-benar aman dan mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api," kata dia.
Muhari menjelaskan penanganan karhutla di Kabupaten Trenggalek dilaksanakan dalam kerangka status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan berdasarkan Keputusan Bupati Trenggalek Nomor 100.3.3.2/269/406.001.3/2026 yang berlaku mulai 19 Mei hingga 30 September 2026.
Di tingkat provinsi, kata Muhari, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menetapkan status Siaga Darurat melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 yang berlaku selama 180 hari, terhitung mulai 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.
4. Resor Sembalun Gunung Rinjani seluas 30 hektare juga dilalap api

Selanjutnya, karhutla terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 20.00 WITA. Penyebab kebakaran hingga saat ini belum diketahui dan masih dalam proses penelusuran pihak terkait.
Berdasarkan laporan yang diterima BNPB, kebakaran terjadi di kawasan Resor Sembalun, SPTN Wilayah II Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 30 hektare, namun angka tersebut masih dalam proses pendataan. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Muhari menyebut sebanyak 22 personel dikerahkan untuk melakukan penanganan dan pemadaman pada Jumat malam, 7 Agustus 2026. Tim gabungan yang terdiri atas unsur TN Gunung Rinjani, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), masyarakat, siswa PKL SKMA, Polsek Sembalun, Koramil Sembalun, serta Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur bersama-sama melakukan pemantauan, penanganan titik api, serta koordinasi perkembangan penanganan karhutla.
"Pada Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 01.30 WITA, api berhasil dikendalikan. Sebelum meninggalkan lokasi, tim melakukan pemeriksaan pada area yang telah ditangani untuk memastikan tidak terdapat titik api aktif yang masih terpantau," kata Muhari.
Sebagai langkah lanjutan, kata Muhari, tim akan melakukan mopping up atau penyisiran dan pemadaman terhadap sisa material yang masih berpotensi menyala kembali. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi benar-benar aman sekaligus mencegah terjadinya penyalaan ulang.
"Tim gabungan juga terus melakukan koordinasi, pemantauan, dan pelaporan perkembangan penanganan di lokasi," kata dia.
5. Karhutla hanguskan 176 hektare kawasan Gunung Bromo selama sepekan

Muhari mengatakan tim gabungan masih melakukan penanganan karhutla di kawasan Gunung Bromo, Provinsi Jawa Timur, hingga Sabtu, 8 Agustus 2026 malam. Kebakaran yang terjadi sejak Senin, 3 Agustus 2026 tersebut meliputi kawasan Gunung Bromo Watu Gede di Kabupaten Probolinggo dan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jantur di Kabupaten Malang.
Berdasarkan pemutakhiran penanganan hingga pukul 21.30 WIB, Tim Gabungan masih berada di area JLKT, untuk menangani api yang mendekati ruas jalan tersebut. Sementara, sempat muncul titik api di jalur Jemplang menuju Watu Gede yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Malang.
"Titik api tersebut telah dikondisikan oleh tim darat, sehingga saat ini tidak terdapat lagi titik api di lokasi tersebut," kata Muhari.
Muhari menyebut hot spot masih terpantau mengeluarkan asap di area Pusung Ledok Bedor. Kondisi cuaca di wilayah Bromo terpantau cerah dengan kecepatan angin sedang. Tim gabungan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan arah atau penyebaran api akibat kondisi medan dan angin.
"Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara. Tim gabungan yang terdiri dari BNPB, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, TNBTS, Polhut, Perhutani, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat melakukan pemadaman menggunakan satu unit truk pemadam, metode manual gepyok, serta sprayer," jelasnya.
Untuk mempercepat penanganan pada area yang sulit dijangkau melalui jalur darat, kata Muhari, operasi udara juga dilakukan dengan mengerahkan dua unit helikopter. Satu helikopter merupakan dukungan dari Provinsi Jawa Timur melalui Puspenerbal TNI AL dengan kapasitas angkut air 1.000 liter, sedangkan satu helikopter lainnya merupakan dukungan BNPB dengan kapasitas angkut air 1.000 liter.
BNPB juga telah melakukan koordinasi dengan Danlanud untuk persiapan posko dan pelaksanaan operasi udara di Lanud Abdulrachman Saleh. BPBD Provinsi Jawa Timur turut memberikan dukungan logistik dan personel guna mempercepat penanganan karhutla di kawasan tersebut.
Penanganan di lapangan masih menghadapi kendala berupa kontur lereng Kaldera Bromo yang terjal, kondisi angin, serta lokasi titik api yang berada di kawasan hutan dengan akses yang sulit dijangkau petugas pemadam darat.
"Kondisi tersebut menyebabkan operasi udara menjadi salah satu upaya penting untuk menjangkau area yang tidak dapat diakses secara optimal melalui jalur darat," kata Muhari.
Sebagai bagian dari upaya pengamanan, Muhari melanjutkan, Balai Besar TNBTS telah melakukan penutupan sementara sebagian kawasan wisata Gunung Bromo sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan tersebut mencakup pintu masuk wisata Gunung Bromo dari arah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.
"Luas lahan yang terbakar hingga saat ini diperkirakan mencapai sekitar 176,20 hektare, dan masih dalam proses pendataan. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut," kata dia.
Muhari menambahkan BNPB bersama seluruh unsur terkait akan terus melakukan pemantauan dan penanganan secara terpadu, baik melalui operasi darat maupun udara, untuk mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya.





















