Pengantin Baru Asal Sulsel Pergi Haji, Gantikan Ibu yang Wafat

- Inayatul, dokter muda, pergi haji bersama ayahnya ke Jabal Uhud dan Masjid Syuhada.
- Inayatul menggantikan ibunya yang wafat, merasa perjalanan haji sebagai pengalaman spiritual yang amat dalam.
- Ayah Inayatul mendaftarkan diri untuk berhaji bersama almarhumah istrinya pada 2011, namun digantikan oleh anaknya setelah sang istri meninggal di Malaysia.
Madinah, IDN Times - Pagi itu, Senin, 12 Mei 2025, matahari sangat terik. Inayatul bersama ayahnya seperti tak merasakan sengatan matahari yang mencapai 39 derajat celsius itu.
Perempuan 28 tahun itu terus menggandeng sang ayah, menapaki bebatuan Gunung Uhud, situs bersejarah sakis bisu perang Uhud masa Nabi Muhammad SAW.
Inayatul juga mengajak sang ayah yang berusia 57 tahun itu melihat-lihat Masjid Syuhada kompleks Jabal Uhud.
Inayatul adalah seorang dokter umum di Kabupaten Bulukumba yang bertugas sejak 2024.
1. Inayatul badalkan sang ibu yang wafat sebelum berangkat haji

Kedua mata Inayatul berkaca-kaca, tak kuasa membendung air matanya, saat menceritakan sang ibu, Darmin Majid, yang wafat pada 2021. Ibunya meninggal karena sakit gula.
"Kebetulan saya menggantikan ibu, haji ini kan perjalanan spiritual ya, jadi amat dalam ke hati," ungkapnya, seraya menunduk di bahu sang ayah, menutupi wajahnya yang dibasahi air mata.
2. Jabal Uhud jadi pelajaran pengorbanan Inayatul

Bagi Inayatul, Jabal Uhud simbol keikhlasan dan pengorbanan. Seperti perasaan Nabi Muhammad SAW kehilangan sang paman, Hamzah, dalam perang Uhud, namun harus tetap tegar, sabar dan menguatkan hati kaum muslimin dari rasa kecewa mengalami kekalahan.
Tidak mudah bagi Inayatul pergi berhaji menemani sang ayah, karena baru tiga minggu ia menikah. Ia harus rela meninggalkan suaminya dalam waktu yang cukup lama. Ia berharap selalu sehat dan bisa kembali bertemu suami.
3. Ibunda meninggal di Malaysia

Ayah Inayatul, Syafaruddin Pagising, menceritakan dirinya bersama almarhumah istrinya merantau sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia pada 1996.
Syafaruddin mendaftarkan diri untuk berhaji bersama istrinya pada 2011. Namun, Allah berkehendak lain, sang istri harus menghadap sang Illahi lebih awal.
"Istri saya meninggal di Malaysia. Saya kebumikan di Bulukkumba, selepas itu saya urus surat di Kementerian Agama, agar hajinya digantikan anaknya," tutur dia.
Syafaruddin dan Inayatul yang tergabung dalam kloter 14 Makassar (UPG), berangkat ke tanah suci pada Sabtu, 10 Mei 2015 pukul 12.00 WIT, melalui Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Inayatul bersama sang ayah tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) di Madinah, Sabtu malam jam 22.00 Waktu Arab Saudi (WAS).
Inayatul bersama ayah menilai pelayanan pada jemaah haji tahun ini baik. "Alhamdulillah, saya senang karena pelayanannya baik, petugas yang melayani juga semangat kak," ujar Inayatul dan sang ayah, kompak.



















