Siswi SD di Mandailing Natal Meninggal, Pemerintah Dalami Penyebabnya

KemenPPPA mendorong penyelidikan menyeluruh atas kematian siswi SD berusia 7 tahun di Mandailing Natal.
Polisi masih mendalami penyebab kematian untuk memastikan kemungkinan adanya unsur tindak pidana.
Keluarga korban mendapat pendampingan, sementara orang tua dan guru diminta lebih peka terhadap kondisi anak.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mendorong penyelidikan menyeluruh atas kematian siswi sekolah dasar berusia tujuh tahun di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara. Polres Mandailing Natal masih mendalami penyebab kematian korban, untuk memastikan ada atau tidaknya unsur tindak pidana.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan pemerintah juga berkoordinasi, untuk memastikan keluarga korban mendapatkan pendampingan.
“Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga atas kehilangan yang dialami. Tidak ada kata yang dapat menggantikan kehilangan seorang anak," ujar Arifah dikutip dari siaran pers, Senin (12/10/2026).
"Kami berharap keluarga diberikan kekuatan dalam menghadapi situasi yang sangat berat ini. Kemen PPPA telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, dan mendorong agar penanganan kasus dilaksanakan secara menyeluruh, serta megedepankan pemulihan bagi keluarga yang ditinggalkan,” sambungnya.
1. Polisi masih mendalami penyebab kematian

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi bicara pencegahan kekerasan seksual di lokasi bencana banjir. (IDN Times/Amir Faisol) KemenPPPA telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Mandailing Natal.
Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, polisi masih mendalami kasus ini untuk memastikan penyebab kematian siswi tersebut, sekaligus menelusuri kemungkinan adanya tindak pidana.
2. Keluarga korban mendapat pendampingan

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti) Dinsos P3A Kabupaten Mandailing Natal telah mendampingi keluarga korban, untuk menilai kebutuhan dan mengidentifikasi dukungan yang diperlukan. Instansi tersebut juga berkoordinasi dengan Polres Mandailing Natal dan Puskesmas Malintang, guna memantau perkembangan penanganan kasus.
“Saat ini, Dinsos P3A Kabupaten Mandailing Natal telah mendampingi keluarga korban untuk melakukan asesmen kebutuhan, dan mengidentifikasi dukungan yang diperlukan. Dinsos P3A juga terus berkoordinasi dengan Polres Mandailing Natal dan Puskesmas Malintang, untuk memantau perkembangan penanganan kasus serta memastikan kebutuhan pendampingan keluarga dapat ditindaklanjuti,” katanya.
3. Orang tua dan guru diminta peka terhadap kondisi anak

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti) KemenPPPA mengingatkan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar agar lebih peka terhadap kondisi emosional anak. Rumah dan sekolah diharapkan menjadi ruang aman yang bebas dari kekerasan fisik maupun verbal.
“Anak butuh ruang untuk bercerita dan merasa dipahami. Mari kita pastikan setiap anak memiliki orang dewasa yang dipercaya untuk bercerita ketika mereka merasa takut, sedih atau sedang tidak baik-baik saja,” kata Arifah.
Arifah menyebut KemenPPPA akan terus mengawal penanganan kasus bersama pemerintah daerah dan pihak terkait.





















