Jakarta, IDN Times - Abelardo de la Espriella resmi dilantik menjadi Presiden Kolombia yang baru di Kota Cali pada Jumat (7/8/2026). Pria yang kini berusia 48 tahun itu naik tahta untuk menggantikan Gustavo Petro yang sudah menjabat sebagai Presiden Kolombia sejak 2022 silam.
Abelardo de la Espriella Resmi Dilantik Jadi Presiden Kolombia

- Abelardo de la Espriella dilantik sebagai Presiden Kolombia di Cali pada 7 Agustus 2026, menggantikan Gustavo Petro dan mematahkan tradisi pelantikan di Bogota.
- Pelantikan dihadiri pejabat internasional, termasuk Menlu Israel Gideon Sa’ar; De la Espriella berjanji menormalisasi hubungan dengan Israel serta memprioritaskan kerja sama ekonomi.
- Pemenang pemilu dengan selisih kurang dari 1 persen ini menghadapi perdagangan narkoba, kartel, penambangan ilegal, dan konflik milisi di Cali, meski belum berpengalaman di pemerintahan.
Tidak seperti presiden-presiden sebelumnya yang dilantik di Ibu Kota Bogota, De la Espriella memutuskan untuk melawan tradisi turun temurun dengan memilih Kota Cali sebagai tempat pelantikannya. Padahal, kondisi kota tersebut saat ini sedang tidak aman buntut konflik internal antara pemerintah kota dengan milisi pemberontak.
1. Pelantikan De la Espriella dihadiri sejumlah pejabat asing

Dilansir Times of Israel, pelantikan De la Espriella digelar di aula sebuah universitas yang ada di Cali. Sejumlah pejabat asing turut hadir di acara pelantikannya. Mereka adalah Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar, Raja Felipe VI dari Spanyol, Pelaksana Tugas Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Todd Blanche, Presiden FIFA Gianni Infantino, dan para presiden negara Amerika Latin, seperti Presiden Argentina Javier Milei, Presiden Ekuador Daniel Noboa, dan Presiden Chile Jose Antonio Kast.
Sa’ar menyambut baik pelantikan De la Espriella sebagai Presiden Kolombia. Ia mengatakan, dilantiknya De la Espriella menjadi presiden akan menjadi momen baik bagi Kolombia dan Israel untuk memulihkan hubungan. Sebab, De la Espriella sudah berjanji akan menormalisasi hubungan Kolombia dan Israel yang diakhiri oleh Petro akibat agresi ke Gaza.
“Pemilihannya merupakan kabar baik bagi negaranya, tetapi juga bagi hubungan antara Israel dan Kolombia. De la Espriella adalah sahabat baik bangsa Yahudi dan Negara Israel,” tulis Sa’ar dalam sebuah unggahan di laman X pribadinya.
2. De la Espriella dan Sa’ar sudah bertemu empat mata sebelum pelantikan

Sebelum dilantik, De la Espriella sudah bertemu dengan Sa’ar di kantornya yang ada di Kota Barranquilla. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas normalisasi hubungan Kolombia dan israel serta membahas kerja sama ekonomi di antara kedua negara. Sebab, kerja sama ekonomi akan menjadi prioritas De la Espriella dalam menjalin hubungan dengan Israel.
Usai dilantik, De la Espriella lantas pergi ke markas militer Kolombia yang ada di Cali. Pada kesempatan itu, presiden yang dikenal dengan sebutan El Tigre (Sang Singa) itu memberikan pembekalan moral kepada para tentara Kolombia dan meminta mereka untuk sigap dalam memerangi milisi pemberontak atau organisasi teroris yang ada di Cali.
3. De la Espriella punya tantangan berat usai resmi menjabat Presiden Kolombia

De la Espriella sendiri resmi terpilih menjadi Presiden Kolombia dalam pemilihan umum (pemilu) yang dihelat pada 21 Juni lalu. Kala itu, ia mengalahkan seorang politisi kawakan sekaligus anggota senat Kolombia, Ivan Cepeda, dengan selisih suara kurang dari 1 persen. Hasil ini membuat De la Espriella jadi kandidat presiden yang menang dengan selisih suara tertipis dalam sejara pemilu Kolombia.
Kemenangan De la Espriella dalam pemilu pada Juni lalu menuai kecaman banyak pihak, termasuk dari Petro. Sebab, De la Espriella merupakan seorang yang pro-Israel dan pro-AS. Ia mendukung normalisasi hubungan Kolombia dan Israel yang dibekukan oleh Petro. Selain itu, Petro juga menyebut kemenangan De la Espriella tidak sah karena diintervensi oleh Israel. Menurut Petro, Israel sengaja memanipulasi hasil voting agar De la Espriella bisa menang.
Tugas De la Espriella sebagai Presiden Kolombia yang baru sebetulnya tidak mudah. Sebab, ia harus menyelesaikan sejumlah masalah pelik yang ada di negaranya, seperti perdagangan narkoba, kartel narkoba, dan penambangan ilegal. Banyak pihak yang meragukan kemampuan De la Espriella untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab, De la Espriella sebelumnya sama sekali tidak punya pengalaman birokrasi dan pemerintahan. Ia hanya seorang pengacara dan pengusaha kaya yang kemudian terpilih menjadi orang nomor satu di Kolombia.





















