Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Bantah Minta Gencatan Senjata ke AS

Iran Bantah Minta Gencatan Senjata ke AS
ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
Intinya Sih
  • Iran secara tegas membantah klaim Donald Trump bahwa Teheran meminta gencatan senjata, menegaskan posisi tetap dalam mempertahankan wilayahnya dari serangan.
  • Trump menyatakan gencatan senjata hanya akan dipertimbangkan jika Selat Hormuz kembali aman dan terbuka, sambil mengancam melanjutkan serangan terhadap Iran.
  • Konflik AS-Israel di Iran memicu lonjakan harga energi global dan tekanan politik di AS, sementara penutupan Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran ekonomi dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Iran menepis pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Teheran telah mengajukan permintaan gencatan senjata. Di sisi lain, operasi militer gabungan AS dan Israel di wilayah Iran masih terus berjalan.

Pada Rabu (1/3/2026), seorang pejabat tinggi Iran secara langsung membantah klaim tersebut setelah sebelumnya Trump menyampaikannya lewat media sosial.

“Presiden Rezim Baru Iran, jauh lebih tidak Radikal dan jauh lebih cerdas daripada pendahulunya, baru saja meminta Amerika Serikat untuk GENCATAN SENJATA!” tulisnya, dikutip New York Post.

Ia tak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksud sebagai “presiden rezim baru” dalam pernyataannya tersebut.

1. Iran tegaskan sikap melalui pernyataan resmi

Bendera Iran
Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Dari Teheran, koresponden Al Jazeera Ali Hashem melaporkan bahwa Iran dengan tegas menyangkal adanya permintaan gencatan senjata dalam bentuk apa pun.

Juru bicara kantor Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Seyyed Mehdi Tabatabaei, juga menyampaikan bantahan melalui unggahan di platform X. Ia menyatakan bahwa posisi Republik Islam Iran dalam membela wilayahnya dari serangan serta syarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan tetap tak berubah. Ia juga menegaskan bahwa Iran sama sekali tak menggubris “khayalan dan kebohongan para agresor kriminal”.

Selain itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menyebut Selat Hormuz tak akan dibuka bagi musuh Iran melalui apa yang mereka sebut sebagai “tontonan yang menggelikan” oleh presiden AS.

2. Trump kaitkan gencatan senjata dengan Selat Hormuz

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan pemerintahannya hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata apabila Selat Hormuz sudah kembali terbuka, aman, dan bebas dilalui.

“Sampai saat itu, kami akan membom Iran hingga hancur lebur atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!” tulis Trump.

3. Tekanan meningkat di tengah dampak perang

ilustrasi perang
ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Pemerintahan Trump kini menghadapi tekanan yang kian besar seiring berlanjutnya konflik Amerika Serikat dan Israel di Iran. Situasi ini mendorong lonjakan tajam harga energi global serta memicu penolakan luas di dalam negeri AS.

Pada awal pekan, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa harga energi akan turun drastis setelah perang dihentikan. Ia menyebut penurunan itu bisa terjadi dalam rentang 2-3 minggu.

Ancaman terbaru Trump untuk terus melanjutkan operasi militer hingga Selat Hormuz kembali dibuka memunculkan pertanyaan terkait kepastian berakhirnya konflik tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis di Teluk Persia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Jalur ini saat ini tertutup akibat konflik, sehingga memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global yang lebih luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More