AS Incar Ketua Parlemen Iran Jadi Sosok ‘Mitra’ untuk Berdamai

- Pemerintahan Trump mulai mempertimbangkan jalur diplomasi dengan Iran, menyoroti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai figur potensial untuk membuka negosiasi setelah periode ketegangan militer.
- Pendekatan baru AS dipengaruhi kepentingan minyak dan strategi mirip ‘Model Venezuela’, namun menuai perdebatan internal karena dinilai terlalu dini menentukan sosok mitra politik di Iran.
- Analis menilai Ghalibaf tetap terikat pada sistem politik Iran sehingga peluang kompromi terbatas, sementara Washington masih menguji opsi diplomasi di tengah tekanan konflik kawasan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai mengkaji pendekatan baru dalam menghadapi Iran. Setelah berminggu-minggu diwarnai tekanan militer, Washington kini diam-diam mempertimbangkan jalur diplomasi dengan mencari figur kunci di dalam sistem politik Iran yang dinilai bisa diajak bernegosiasi.
Salah satu nama yang mencuat adalah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Politisi berusia 64 tahun itu disebut-sebut sebagian sosok yang ‘bisa diajak bekerja sama’ dalam fase berikutnya dari konflik yang telah mengguncang kawasan dan pasar global.
Meski demikian, sumber internal menyebut pemerintah AS belum mengambil keputusan final. Mereka masih menguji sejumlah kandidat potensial yang dianggap memiliki pengaruh di dalam negeri Iran sekaligus peluang untuk membuka ruang kesepakatan dengan Washington.
Langkah ini mencerminkan perubahan arah dari strategi konfrontatif menuju upaya mencari jalan keluar dari konflik yang kian kompleks, di tengah lonjakan harga minyak, tekanan ekonomi global, dan kekhawatiran eskalasi yang lebih luas.
1. Ghalibaf masuk radar AS
Menurut dua pejabat pemerintahan AS, Ghalibaf dinilai sebagai salah satu opsi paling menonjol dalam daftar kandidat yang sedang dipertimbangkan. Namun, Gedung Putih masih berhati-hati dan tidak ingin terburu-buru menetapkan satu nama.
“Dia adalah opsi yang menarik,” ujar salah satu pejabat. Namun ia menegaskan, “kami harus mengujinya, dan kami tidak bisa terburu-buru.”
Laman Politico, Selasa (24/3/2026) melaporkan, pendekatan ini menunjukkan Washington sedang mencoba memahami dinamika internal Iran, terutama setelah struktur kepemimpinan negara itu mengalami tekanan akibat konflik dengan AS dan Israel. Pertanyaan besar yang kini muncul adalah siapa yang akan memegang kendali ke depan, dan apakah sosok tersebut bersedia bernegosiasi.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan proses ini berlangsung secara tertutup. “Ini adalah diskusi diplomatik yang sensitif dan Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui media,” ujarnya.
2. Kepentingan minyak dan strategi ‘Model Venezuela’
Selain faktor politik dan keamanan, kepentingan ekonomi—terutama terkait minyak—menjadi pertimbangan penting dalam pendekatan baru ini. Presiden Trump disebut tidak ingin menghancurkan fasilitas vital seperti Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Seorang pejabat menyebut pendekatan ini terinspirasi dari pengalaman AS di Venezuela. “Ini soal menempatkan seseorang seperti Delcy Rodríguez ‘kami akan mempertahankan Anda, Anda bekerja sama dengan kami, dan memberi kami kesepakatan minyak yang baik’,” ujarnya.
Namun, tidak semua pihak di Washington sepakat dengan pendekatan tersebut. Beberapa menilai gagasan AS dapat menentukan pemimpin Iran berikutnya terlalu dini, bahkan naif.
“Terlihat seperti upaya membentuk realitas melalui pernyataan,” kata seorang sumber yang dekat dengan tim keamanan nasional Trump. Ia menambahkan Iran telah terbukti mampu bertahan di bawah tekanan dan tidak akan dengan mudah menyerah pada tuntutan AS.
Sumber lain dari kawasan Teluk juga menilai Trump mungkin melebih-lebihkan kemajuan negosiasi. “Dia jelas sedang membeli waktu dan mencoba menstabilkan pasar,” ujarnya.
3. Skeptisisme dan batasan realitas politik Iran
Sejumlah analis meragukan bahwa Ghalibaf akan menjadi mitra yang mudah bagi Washington. Sebagai figur internal yang kuat, ia dinilai tetap berkomitmen pada sistem politik Iran saat ini.
“Ghalibaf adalah orang dalam sejati: ambisius dan pragmatis, tetapi tetap berkomitmen pada sistem Islam Iran,” kata analis International Crisis Group, Ali Vaez.
Ia menambahkan, bahkan jika Ghalibaf ingin membuka ruang kompromi, tekanan dari militer dan elite keamanan Iran kemungkinan besar akan membatasi langkahnya. Apalagi, suasana di Teheran saat ini dipenuhi ketidakpercayaan terhadap AS dan Israel.
Di sisi lain, opsi lain seperti tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, justru dianggap tidak realistis oleh Washington. “Dia tumbuh di luar negeri, itu hal terakhir yang ingin Anda pasang di sana. Itu akan berarti kekacauan,” kata seorang pejabat.
4. Diplomasi di tengah tekanan perang
Di tengah dinamika ini, Presiden Trump sebelumnya memberi sinyal adanya pembicaraan dengan pihak Iran dan bahkan menunda serangan terhadap infrastruktur energi selama lima hari. Langkah itu dilihat sebagai upaya membuka ruang diplomasi, meski belum ada konfirmasi dari Teheran.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan bahwa Trump menginginkan kemajuan nyata, terutama terkait Selat Hormuz dan kemungkinan gencatan senjata. “Presiden, seperti siapa pun, lebih memilih perdamaian daripada perang,” ujarnya.
Namun, proses menuju kesepakatan masih jauh dari pasti. Washington kini berada dalam fase “pengujian”, mencoba membaca siapa yang memiliki peluang naik ke puncak kekuasaan di Iran dan apakah mereka bersedia berkompromi.
Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, langkah ini menjadi indikasi bahwa jalur diplomasi—meski penuh ketidakpastian—mulai kembali dipertimbangkan sebagai jalan keluar dari krisis yang kian dalam.



















