Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Ingin Tutup Konsulat di Medan dan Sejumlah Negara, Kenapa?

AS Ingin Tutup Konsulat di Medan dan Sejumlah Negara, Kenapa?
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrew Patrick Photo)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Departemen Luar Negeri AS memberi tahu Kongres soal rencana menutup lima misi diplomatik, termasuk Konsulat AS di Medan, sebagai bagian penataan jaringan diplomatik global.
  • Penutupan juga mencakup Kedutaan AS di St. George’s serta misi di Nagoya, Douala, dan Winnipeg; langkah ini dikaitkan dengan agenda efisiensi pemerintahan Trump.
  • Rencana tersebut dikritik Demokrat dan mantan pejabat AS karena dinilai berpotensi melemahkan pengaruh diplomatik Washington, sementara Departemen Luar Negeri belum mengonfirmasi penutupan secara langsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) memberi tahu Kongres mengenai rencana penutupan lima misi diplomatik di luar negeri, termasuk Konsulat AS di Medan, Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya efisiensi jejak diplomatik Washington di berbagai negara.

Selain Medan, misi yang masuk dalam daftar penutupan adalah Kedutaan Besar AS di St. George’s, Grenada, Konsulat AS di Nagoya, Jepang, Kantor Cabang Kedutaan Besar AS di Douala, Kamerun, serta Konsulat AS di Winnipeg, Kanada.

Pemberitahuan itu disampaikan kepada sejumlah komite di Kongres pada akhir pekan lalu. Informasi tersebut diungkap sejumlah sumber yang mengetahui isi pemberitahuan tersebut, namun meminta identitasnya tidak disebutkan karena dokumen itu belum dipublikasikan.

Jika direalisasikan, penutupan lima misi tersebut menjadi salah satu langkah langka yang dilakukan AS karena tidak berkaitan dengan peristiwa geopolitik tertentu, melainkan bagian dari kebijakan penataan jaringan diplomatik.

1. Bagian dari agenda efisiensi pemerintahan Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengikuti wawancara dengan Trey Yingst, koresponden luar negeri Fox News, di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, Washington D.C., pada 14 Juli 2026.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengikuti wawancara dengan Trey Yingst, koresponden luar negeri Fox News, di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, Washington D.C., pada 14 Juli 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Rencana tersebut melanjutkan upaya yang telah dimulai sejak awal pemerintahan Presiden Donald Trump pada tahun lalu. Saat itu, Departemen Luar Negeri AS mulai menyiapkan penutupan hampir selusin misi diplomatik sebagai bagian dari agenda America First yang mendorong restrukturisasi birokrasi pemerintahan.

Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih (Office of Management and Budget/OMB) bahkan disebut sempat mengusulkan penutupan yang lebih besar dengan menargetkan hingga 30 misi diplomatik di luar negeri.

Dikutip dari Japan Times, Selasa (4/8/2026), sejumlah pejabat pemerintahan secara internal menilai beberapa misi diplomatik berukuran kecil tidak lagi esensial dan dinilai kurang efisien dari sisi biaya operasional.

Meski pada tahun lalu Departemen Luar Negeri AS telah melakukan restrukturisasi besar dengan memangkas puluhan biro dan ratusan pegawai, tidak ada misi diplomatik yang ditutup pada periode tersebut.

2. Menuai kritik soal pengaruh diplomatik AS

Bendera Amerika Serikat sedang berkibar.
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Robert So)

Rencana penutupan misi diplomatik mendapat kritik dari Partai Demokrat serta sejumlah mantan pejabat kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS.

Mereka menilai pengurangan kehadiran diplomatik, ditambah pembubaran Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) yang sebelumnya menyalurkan bantuan miliaran dolar ke berbagai negara, berpotensi melemahkan kepemimpinan global Washington.

Menurut mereka, kondisi tersebut juga dapat membuka ruang bagi negara lain seperti China dan Rusia untuk memperluas pengaruhnya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS belum mengonfirmasi secara langsung rencana penutupan lima misi tersebut. Dalam pernyataannya, lembaga itu hanya menyatakan fokus memastikan jaringan diplomatik AS tetap berjalan secara efisien dan efektif serta berkomitmen mengikuti prosedur pemberitahuan kepada Kongres.

3. Konsulat Medan masuk daftar penutupan

Perayaan 75 tahun hubungan AS-Indonesia di dua kampus Kota Medan (Dok. Konsulat AS di Medan)
Perayaan 75 tahun hubungan AS-Indonesia di dua kampus Kota Medan (Dok. Konsulat AS di Medan)

Dari lima perwakilan yang direncanakan ditutup, misi di St. George’s merupakan kedutaan besar, sedangkan Medan, Nagoya, dan Winnipeg berstatus konsulat. Adapun kantor di Douala merupakan kantor cabang kedutaan besar.

Konsulat dan kantor cabang kedutaan umumnya bertugas mewakili kepentingan Amerika Serikat di wilayah di luar ibu kota negara tempat kedutaan besar berada.

Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, AS justru membuka beberapa misi diplomatik baru di kawasan Pasifik sebagai bagian dari persaingan pengaruh dengan China.

Meski China tidak memiliki perwakilan diplomatik aktif di Douala maupun Winnipeg, Beijing memiliki kehadiran diplomatik di St. George’s, Nagoya, dan Medan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More