Israel Tarik Pasukan dari Hebron Usai 10 Hari Pengepungan

- Israel menarik seluruh pasukan dari Hebron setelah pengepungan 10 hari pasca-penembakan di pos Farsh al-Hawa; keamanan Otoritas Palestina mengambil alih area terdampak.
- Operasi meluas ke seluruh provinsi, memaksa 537 keluarga atau 3.361 warga mengungsi; sejumlah rumah, jalan, kendaraan, dan properti rusak serta akses kota diblokade.
- Blokade menghentikan aktivitas ekonomi dan pendidikan: 327 toko serta 4.000 pabrik tutup, sementara 262 ribu pelajar kehilangan sembilan hari belajar akibat penutupan sekolah dan universitas.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel menarik mundur seluruh pasukannya dari Kota Hebron di wilayah pendudukan Tepi Barat bagian selatan pada Senin (2/11/2026). Penarikan ini mengakhiri pengepungan ketat selama 10 hari yang memaksa ribuan warga Palestina mengungsi dan menghancurkan berbagai infrastruktur kota. Operasi militer tersebut diluncurkan sejak 23 Oktober lalu setelah dua warga Palestina menembak mati dua tentara Israel dan melukai tiga personel lainnya di pos pemeriksaan militer Farsh al-Hawa.
Gubernur Hebron, Khaled Dudin, mengonfirmasi penarikan penuh militer Israel dari seluruh lingkungan kota pada Senin pagi. Pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) kini mengambil alih kendali di area terdampak dan memantau situasi lapangan agar warga yang mengungsi dapat pulang dengan aman. Wali Kota Hebron, Youssef al-Jabari, menyebutkan pihak berwenang menerima pemberitahuan resmi terkait penarikan tentara tersebut pada pukul 06.00 waktu setempat.
1. Operasi militer Israel mengusir 537 keluarga

Tentara Israel di Tepi Barat. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit) Militer Israel awalnya berdalih operasi di Hebron hanya menargetkan rumah dua pelaku penembakan yang telah ditembak mati oleh tentara di lokasi kejadian. Namun, militer memperluas jangkauan operasi ke seluruh provinsi berpenduduk 800 ribu jiwa itu dengan menutup pos pemeriksaan serta memblokade jalan masuk desa sekitar. Pengamat urusan Israel, Mohamed Helles, menilai operasi yang dimulai beberapa hari jelang pemilu Israel itu bertujuan mendulang suara bagi blok sayap kanan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.
"Pagi ini, setelah menyelesaikan seluruh kegiatan operasional, para tentara ditarik dari area operasi di Hebron. Kegiatan kontraterorisme di seluruh Yudea dan Samaria terus berlanjut," ujar seorang pejabat militer Israel yang menggunakan nama Alkitabiah untuk merujuk wilayah Tepi Barat, dilansir Arab News.
Selama operasi berlangsung, tentara menggeledah berbagai lokasi, menahan sejumlah tersangka, serta menyita empat senjata dan perlengkapan militer. Pasukan Israel juga menutup area luas di Al-Jalda, Ein Deir Baha, serta Khallat al-Maghariba, lalu mengambil alih sekitar 540 rumah warga untuk dijadikan barak militer. Catatan pemerintah kota dan komite bantuan menunjukkan 537 keluarga yang terdiri dari 3.361 warga Palestina terpaksa mengungsi di tempat kerabat setelah diusir paksa pada tengah malam hanya dengan waktu lima menit untuk mengemas dokumen pribadi.
2. Properti warga rusak dan kerugian ekonomi mencapai jutaan dolar

pemandangan Tepi Barat, Palestina (Travel 2 Palestine, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Keluarga pengungsi mulai kembali ke lingkungan mereka menggunakan kendaraan beberapa menit setelah pasukan Israel meninggalkan kota untuk memeriksa kondisi rumah. Muhannad al-Tamimi, seorang warga lokal yang rumahnya diduduki tentara, mendapati apartemennya berantakan dengan perabotan dan pakaian berserakan di lantai, kasur terbalik, serta sepeda anak yang rusak. Sejumlah warga lain turut melaporkan kehilangan uang tunai dan barang pribadi, sementara Pertahanan Sipil Palestina mengimbau masyarakat tidak menyentuh benda mencurigakan di bangunan yang rusak sebelum diperiksa petugas.
Selain merusak isi bangunan, pasukan Israel menghancurkan 15 rumah dan bangunan lain, termasuk meledakkan rumah dua pelaku penembakan serta menyegel ruang bawah tanah di dekatnya. Tentara juga merusak jalanan beraspal menggunakan buldoser dan menghancurkan kendaraan warga di area pemukiman. Pemerintah Kota Hebron berjanji akan memperbaiki seluruh kerusakan dan tengah mengerahkan tim ke lingkungan terdampak untuk mendata total kerugian.
Penutupan akses kota turut melumpuhkan Hebron yang menyumbang 40 persen perekonomian Palestina dan memiliki 220 dari total 940 pos pemeriksaan militer Israel di Tepi Barat. Blokade ini memaksa 327 toko tutup dan menghentikan operasional 4 ribu pabrik di pusat ekonomi utama tersebut. Kerugian ekonomi langsung akibat penutupan ini melampaui 12 juta shekel (sekitar Rp69,5 miliar) per hari, ditambah kerusakan infrastruktur senilai 1,9 juta dolar AS (sekitar Rp34,5 miliar) serta kerugian sektor kesehatan dan lingkungan sekitar 160 ribu dolar AS (sekitar Rp2,9 miliar).
"Beberapa dari mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengosongkan gudang sebelum dihancurkan. Itu adalah bisnis keluarga skala kecil dan menengah yang dibangun selama puluhan tahun tanpa asuransi, sehingga pemiliknya kehilangan bisnis tetapi tetap menanggung utang bank," kata Yousuf Daas, ekonom pembangunan dan ketenagakerjaan di Institut Penelitian Kebijakan Ekonomi Palestina, dilansir Al Jazeera.
3. Sektor pendidikan di Hebron lumpuh
Pengepungan militer selama 10 hari memutus akses layanan publik dan melumpuhkan aktivitas pendidikan di seluruh penjuru Hebron. Persatuan Guru Umum Palestina mencatat hampir 80 ribu siswa di pusat kota tidak dapat bersekolah pekan lalu akibat penutupan 220 sekolah negeri, swasta, dan sekolah kelolaan PBB. Lima universitas juga terpaksa tutup selama operasi berlangsung, sementara total 262 ribu pelajar di seluruh provinsi tersebut kehilangan sembilan hari waktu belajar.
"Penutupan jalan dan penahanan guru serta siswa merupakan serangan terhadap hak atas pendidikan, serta terhadap kehidupan dan martabat manusia," demikian pernyataan Persatuan Guru Umum Palestina, dilansir The Palestine Chronicle.
Gangguan terhadap sektor pendidikan juga diwarnai penahanan 10 guru Sekolah Dasar Campuran Jinba selama beberapa jam oleh tentara Israel di Jalan Khallat al-Dabaa, Masafer Yatta, pada Minggu. Selain operasi di Hebron, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan pemukim ilegal Israel melancarkan 397 serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat sepanjang Oktober yang menjadi angka bulanan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2006. Sebanyak 57 warga Palestina terluka akibat serangan pemukim dan tembakan militer pada akhir Oktober, sementara Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok mencatat otoritas Israel telah mengeluarkan 344 surat perintah pembongkaran properti warga Palestina dalam sembilan bulan pertama tahun ini.






















