Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Iran Keluarkan Ancaman Baru di Selat Hormuz, Kapal Diminta Patuhi Rute

Iran Keluarkan Ancaman Baru di Selat Hormuz, Kapal Diminta Patuhi Rute
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Intinya Sih
  • Iran mengeluarkan peringatan keras kepada kapal di Selat Hormuz agar tidak keluar dari rute resmi, dengan ancaman respons militer langsung bagi pelanggar protokol navigasi.
  • Ancaman muncul di tengah upaya damai antara AS dan Iran di Doha, sementara aktivitas pelayaran mulai pulih meski masih jauh dari kondisi normal sebelum konflik.
  • Ketegangan meningkat setelah Iran menolak keterlibatan militer AS dalam menjaga stabilitas kawasan, menegaskan bahwa keamanan Teluk Persia harus tanpa intervensi asing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal yang keluar dari rute resmi di Selat Hormuz pada Kamis (2/7/2026). Otoritas militer tersebut menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap protokol navigasi Iran akan langsung direspons secara kuat oleh angkatan bersenjata, sehingga dapat membahayakan keamanan kapal yang melanggar.

"Setiap kegagalan untuk mematuhi dan keluar dari rute yang ditentukan, atau mengabaikan protokol navigasi Republik Islam Iran di Selat Hormuz, akan disambut dengan tanggapan langsung dan kuat dari angkatan bersenjata," sebut pernyataan resmi Markas Besar Khatam al-Anbiya melalui kantor berita Tasnim, sebagaimana dilansir dari laporan First Post.

Ancaman ini muncul di tengah upaya kawasan untuk pulih setelah sempat mengalami blokade oleh Iran di awal konflik. Blokade tersebut sebelumnya telah mengganggu jalur perdagangan global dan memicu lonjakan harga energi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS).

1. Perundingan damai berjalan bersamaan dengan ancaman baru

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Peringatan militer Iran mencuat hanya sehari setelah mediator Qatar mengumumkan adanya perkembangan positif dalam perundingan tidak langsung antara pejabat AS dan Iran di Doha. Pembicaraan tersebut ditujukan untuk mengubah gencatan senjata yang masih rapuh menjadi kesepakatan damai permanen demi mengakhiri konflik regional yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sebenarnya mulai menunjukkan peningkatan setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026. Dalam MoU tersebut, Teheran berkomitmen mengupayakan keamanan pelayaran, dengan catatan kapal-kapal harus mengikuti rute khusus yang dekat dengan garis pantai Iran.

Meski mulai pulih dengan mencatatkan 45 pelayaran pada Rabu (1/6/2026), angka tersebut masih berada jauh di bawah rata-rata sebelum perang yang mencapai 130 pelayaran per hari.

2. Risiko keamanan jalur pasokan energi dunia

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kondisi keamanan di Selat Hormuz tetap menjadi sorotan tajam bagi komunitas internasional. Dilansir dari Al Jazeera, berdasarkan data dari platform pelacakan maritim MarineTraffic, sedikitnya sudah ada 49 serangan terhadap kapal niaga yang tercatat sejak konflik dimulai.

Beberapa insiden teranyar mencakup serangan pesawat tanpa awak (drone) terhadap kapal kargo berbendera Singapura dan kapal niaga berbendera Panama. Sebagian besar dari rentetan serangan tersebut dituduhkan kepada pihak Teheran.

3. Iran tolak keterlibatan militer AS dalam stabilitas kawasan

Bendera Iran
Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Ketegangan rute ini juga dipicu oleh pertemuan dialog keamanan di Bahrain yang dipimpin oleh Komando Pusat AS (CENTCOM). Dalam forum tersebut, para pemimpin militer regional menegaskan komitmen mereka untuk menjaga kelancaran perdagangan di Selat Hormuz.

Merespons hal tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melayangkan kritik keras. Melalui unggahannya di media sosial X, ia menegaskan bahwa forum CENTCOM tidak memiliki otoritas hukum untuk mengatur keamanan di Teluk Persia. Menurutnya, stabilitas kawasan hanya bisa terwujud jika intervensi asing dihentikan, pasukan militer AS ditarik sepenuhnya, dan realitas geopolitik baru dihormati.

Hingga saat ini, pembukaan penuh Selat Hormuz serta pencairan aset keuangan Iran yang dibekukan masih menjadi poin krusial yang belum mencapai titik temu dalam perundingan Doha. Putaran negosiasi selanjutnya dilaporkan akan ditunda sementara dan baru dilanjutkan setelah upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 9 Juli 2026 mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More