Kenya Selidiki Kematian 15 Gajah di Taman Nasional Amboseli

- Otoritas Kenya menyelidiki kematian 15 gajah dalam sebulan di kawasan penyangga Taman Nasional Amboseli, dengan dokter hewan dan peneliti memeriksa bangkai serta mengambil sampel organ.
- Sepuluh gajah mengalami kelumpuhan hingga tak mampu berdiri sebelum mati dalam satu-dua hari; lima bangkai lain sudah membusuk. Mayoritas korban adalah gajah betina dan anak-anaknya.
- Uji laboratorium memberi hasil berbeda soal kemungkinan racun, sehingga penyelidikan meluas ke air dan lingkungan. KWS meningkatkan pengawasan dan menyatakan belum ada bukti kondisi ini menular ke manusia.
Jakarta, IDN Times - Otoritas konservasi Kenya menyelidiki kematian 15 gajah yang ditemukan di Taman Nasional Amboseli selama sebulan terakhir. Penyelidikan ini diumumkan pada Selasa (28/7/2026) untuk memastikan penyebab kematian satwa tersebut.
Tim dokter hewan dan peneliti telah diterjunkan ke lokasi untuk memeriksa bangkai gajah, mengambil sampel organ, serta meningkatkan pengawasan. Hingga saat ini, penyebab pasti kematian gajah-gajah tersebut masih dalam investigasi.
1. Gejala kelumpuhan sebelum kematian gajah

Dinas Satwa Liar Kenya (KWS) melaporkan 10 gajah menunjukkan gejala klinis yang sama sebelum mati. Satwa-satwa tersebut mengalami kelumpuhan sebagian hingga tidak mampu berdiri, lalu mati dalam kurun satu hingga dua hari.
Sementara itu, lima bangkai lainnya ditemukan dalam kondisi membusuk sehingga penyebab kematiannya belum dapat dipastikan. Sebagian besar gajah yang mati merupakan betina dan anak-anaknya, sedangkan gajah jantan hanya satu ekor.
Seluruh bangkai ditemukan di Suaka Kimana dan Peternakan Kuku. Kedua area ini merupakan kawasan penyangga yang mengelilingi Taman Nasional Amboseli sekaligus jalur pergerakan satwa liar.
"Sebanyak 10 gajah menunjukkan gejala yang sama, yakni kelumpuhan sebagian yang membuat mereka tidak bisa berdiri hingga mati dalam waktu satu sampai dua hari," kata pihak Dinas Satwa Liar Kenya.
2. Perbedaan hasil uji laboratorium

Pemeriksaan awal oleh laboratorium Universitas Nairobi mengindikasikan kemungkinan adanya zat beracun pada sampel organ gajah. Namun, analisis terpisah oleh Ahli Kimia Pemerintah Kenya tidak menemukan kandungan racun pada parameter yang diuji. Adanya perbedaan hasil ini membuat penyelidikan masih terus berjalan.
Selain memeriksa jaringan tubuh gajah, tim penyelidik juga menguji sumber air dan unsur lingkungan sekitar untuk mencari potensi pencemaran atau penyebab lainnya.
3. Pengetatan pengawasan kawasan konservasi

KWS memastikan belum ada bukti yang menunjukkan kondisi tersebut dapat menular ke manusia. Imbauan agar masyarakat tetap tenang juga telah disampaikan selama penyelidikan berlangsung.
Tim dokter hewan gabungan dari Nairobi, Tsavo, dan Amboseli terus menangani gajah yang masih hidup, melakukan otopsi bangkai, serta memantau pergerakan kawanan gajah di seluruh kawasan.
"Dinas Satwa Liar Kenya telah meningkatkan pengawasan di seluruh kawasan Amboseli dan terus memantau populasi gajah secara ketat," ujar pejabat KWS.
Taman Nasional Amboseli merupakan salah satu kawasan konservasi gajah terpenting di Afrika. Area ini menjadi habitat ribuan gajah savana dengan latar belakang Gunung Kilimanjaro di perbatasan Kenya dan Tanzania.



















