Korsel: Pakta Perdagangan Bebas dengan AS Kurangi Dampak Tarif Trump

Jakarta, IDN Times - Korea Selatan (Korsel) akan meninjau seluruh hambatan non-tarif dan kerentanan lainnya untuk merespons rencana Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait tarif timbal balik.
"Dampak dari tindakan tarif timbal balik mungkin tidak terlalu besar terhadap perekonomian kita. Sebab, tarifnya rendah karena Perjanjian Perdagangan Bebas Seoul-Washington," kata menteri keuangan sekaligus penjabat presiden, Choi Sang-mok pada Jumat (14/2/2025), dikutip dari The Straits Times.
Pada 13 Februari, Trump menugaskan tim ekonominya untuk merancang rencana tarif timbal balik pada setiap negara yang mengenakan pajak impor AS. Target potensialnya termasuk menyasar Korsel, China, Jepang, dan Uni Eropa.
Pengumuman tersebut pun telah menjadi perhatian oleh para pembuat kebijakan di Seoul di tengah kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar keempat di Asia itu dapat menjadi sasaran pemerintahan Trump. Tahun lalu, surplus perdagangan Korsel dengan AS mencapai 55,7 miliar AS (sekitar Rp901,5 triliun).
1. Korsel pantau situasi perdagangan dengan AS
Choi menambahkan, pemerintah akan menanggapi rencana tarif Trump dengan mengidentifikasi area utama kepentingan AS dan menyiapkan materi penjelasan mengenai hambatan non-tarif Korsel untuk pemerintahan Trump.
"Namun, mengingat AS menyatakan akan menilai hambatan non-tarif termasuk pajak pertambahan nilai dan pajak atas layanan digital, maka perlu untuk memantau situasi tersebut," ujarnya.
Pejabat di badan bea cukai Korsel menuturkan hanya ada sedikit hambatan terkait kebijakan tarif Trump tersebut. Namun, jika pun ada, yang menghambat perdagangan barang dengan negara tersebut dan impor dari AS terkadang lebih diutamakan berdasarkan pakta perdagangan itu.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan Korsel mengungkapkan bahwa faktor-faktor selain tarif, pajak, subsidi, nilai tukar mata uang asing, dan praktik tidak adil dapat dipertimbangkan untuk tindakan timbal balik Trump.
2. Tarif Korsel tertinggi kedua di antara 15 mitra dagang AS

Menurut para ekonom, pakta perdagangan bebas kedua negara dapat membantu Korsel mengurangi dampak tarif timbal balik yang diancam oleh Trump, dengan patokan Korea Stock Price Composite Index (KOSPI) naik hampir 3 persen pekan ini ke level tertinggi sejak awal November.
"Dalam hal tarif timbal balik, Korsel akan menjadi prioritas yang lebih rendah bagi Trump, karena kami tidak memiliki tarif impor AS, selain mungkin beras," kata Huh Jae-hwan, ekonom di Eugene Investment Securities.
Kementerian Keuangan Korsel mengatakan tarif bea masuk rata-rata Korsel atas impor dari AS mencapai 0,79 persen pada 2024. Namun, pada 2025 diperkirakan akan lebih rendah, tanpa bea masuk atas barang-barang manufaktur.
Di antara 15 mitra dagang teratas Washington, tarif Seoul adalah yang tertinggi kedua setelah India. Akan tetapi, hampir semuanya dihilangkan oleh pakta perdagangan bebas yang pertama kali ditandatangani pada 2007 dan direvisi pada 2018 selama masa jabatan pertama Trump.
3. Sekilas tentang tarif timbal balik Trump
Trump menandatangani memorandum presiden pada Kamis (13/2/2025) guna merancang rencana komprehensif untuk menyesuaikan tarif timbal balik berdasarkan bea masuk mitra dagang, hambatan non-tarif, kebijakan nilai tukar dan elemen lainnya.
Instruksi terkait rencana adil dan timbal balik tersebut menugaskan Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan Perwakilan Dagang AS (USTR) untuk menyerahkan laporan dengan usulan penyelesaian di setiap negara. Sementara itu, Trump tengah berupaya menerapkan tarif baru pada impor AS agar sesuai dengan tarif yang dikenakan oleh mitra dagang lain pada ekspor AS.
Trump mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan adanya pengecualian atau keringanan tarif. Ia menekankan rencana tarif berlaku untuk semua orang secara menyeluruh. Kajian pemerintah terkait tarif baru direncanakan selesai pada 1 April.
"Saya telah memutuskan demi keadilan bahwa saya akan mengenakan tarif timbal balik Ini adil bagi semua. Tidak ada negara lain yang bisa mengeluh," ungkap Trump.
"Kurangnya timbal balik ini merupakan salah satu sumber defisit perdagangan barang tahunan yang besar dan terus-menerus di negara kita. Pasar tertutup di luar negeri mengurangi ekspor AS, dan pasar terbuka di dalam negeri mengakibatkan impor yang signifikan," sambungnya, dikutip dari Yonhap.
Trump menggarisbawahi bahwa selama bertahun-tahun, Washington telah diperlakukan tidak adil oleh para mitra dagangnya, baik kawan maupun lawan.



















