Kebijakan China di Indo-Pasifik Disoroti, Quad Kecam Pemaksaan Ekonomi

- Menteri luar negeri Jepang, AS, Australia, dan India menyuarakan keprihatinan atas pembatasan ekspor sepihak serta praktik nonpasar yang dinilai mengganggu rantai pasokan global.
- Quad menegaskan komitmen menjaga Indo-Pasifik bebas dan terbuka, menolak perubahan status quo melalui kekerasan atau paksaan di Laut China Timur dan Selatan.
- Quad menyiapkan bantuan AI lebih dari 85 juta dolar AS, memetakan kerentanan semikonduktor, dan melanjutkan koordinasi menuju KTT berikutnya di Manila.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang, Amerika Serikat (AS), Australia, dan India menyatakan keprihatinan serius terhadap praktik pemaksaan ekonomi yang dinilai mengancam stabilitas rantai pasokan global. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan tingkat menteri Dialog Keamanan Quadrilateral (Quad) di Atlanta, AS, pada 31 Oktober 2026.
Pertemuan itu dihadiri oleh Menlu Jepang Toshimitsu Motegi, Menlu AS Marco Rubio, Menlu Australia Penny Wong, dan Menlu India Subrahmanyam Jaishankar. Para menlu menyoroti pembatasan ekspor sepihak dan kebijakan nonpasar yang tidak disebutkan secara langsung, tetapi dipandang mengarah pada China. Mereka juga membahas perkembangan strategis di kawasan Indo-Pasifik, dilansir NHK News pada Minggu (1/11/2026).
1. Quad kritik pembatasan ekspor dan kebijakan nonpasar

Ilustrasi kegiatan ekspor-impor. (unsplash.com/Wolfgang Weiser) Dalam pernyataan bersama, keempat negara tersebut menyoroti pembatasan ekspor secara sewenang-wenang dan praktik perdagangan nonpasar yang memicu kelebihan kapasitas produksi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasokan global, khususnya di sektor industri strategis.
Sorotan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan ekonomi antara Tokyo dan Beijing, menyusul pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh China. Ketegangan ini turut dipicu oleh dinamika geopolitik setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa negaranya dapat melakukan intervensi militer dalam situasi tertentu terkait krisis Taiwan.
2. Perkuat kerja sama keamanan dan teknologi AI

Ilustrasi desain chip. (unsplash.com/Igor Omilaev) Selain membahas tentang ekonomi, para menteri juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, sekaligus menyelaraskan pandangan strategis terkait situasi keamanan di Laut China Timur dan Laut China Selatan. Sikap ini mempertegas penolakan terhadap segala upaya sepihak yang hendak mengubah status quo melalui jalur kekerasan maupun paksaan.
Dalam sektor teknologi, aliansi Quad mengumumkan bantuan teknis dan keuangan senilai lebih dari 85 juta dolar AS (sekitar Rp1,5 triliun). Dana tersebut untuk mendukung pengembangan dan penyebaran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terpercaya di kawasan. Mereka juga berencana mengidentifikasi titik-titik kerentanan dalam rantai pasokan semikonduktor dan AI untuk mengantisipasi potensi gangguan sebelum berdampak pada industri-industri penting.
3. Rubio tegaskan Quad bukan aliansi anti-China

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. (x.com/SecRubio) Dalam konferensi pers, Rubio menegaskan bahwa Quad bukanlah koalisi yang dibentuk untuk menentang China maupun negara tertentu. Namun, ia menyebut bahwa aktivitas dan perilaku yang menjadi perhatian keempat negara tersebut berulang kali berasal dari satu negara, tanpa menyebutkan identitasnya secara langsung. Sementara itu, Motegi menyebut pertemuan tersebut sebagai kesempatan penting untuk menunjukkan hasil nyata kerja sama Quad, terutama dalam bidang ekonomi, The Japan Times melaporkan.
Keempat menteri juga menerbitkan dokumen bersama yang merangkum sejumlah inisiatif. Mereka menyepakati kelanjutan koordinasi menjelang pertemuan puncak para pemimpin Quad berikutnya. Belum ada tanggal pasti yang diumumkan secara resmi, tetapi pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di sela-sela KTT ASEAN ke-49 di Manila, Filipina, pada 16-18 November 2026.






















