Sedang Panen Buah Zaitun, Penduduk Palestina Dibunuh Pemukim Israel

Jakarta, IDN Times - Pemukim Israel yang secara ilegal menduduki Tepi Barat, dilaporkan telah menembak mati pria Palestina yang sedang memanen buah zaitun pada Sabtu (28/10/2023). Penembaknya diidentifikasi sebagai tentara yang sedang tidak bertugas.
Insiden itu terjadi di deas Sawiya, dekat Nablus. Korban bernama Bilal Mohammad Saleh dan berusia 40 tahun. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, korban ditembak di dada.
Penembakan itu terjadi ketika Saleh dan keluarganya sedang memanen buah zaitun. Kebun milik mereka berada di dekat pagar yang secara ilegal berdiri mengelilingi pemukiman ilegal Yahudi di dekat Rechelim.
1. Pengakuan paman korban

Paman korban yang bernama Tayseer Mahmoud, memberikan pengakuan pada Minggu. Dia mengatakan bahwa keponakannya yang bersama istri dan empat anak, sedang panen buah zaitun tapi kemudian dibunuh oleh pemukim Yahudi.
Dilansir Associated Press, Mahmoud menjelaskan, sekelompok pemukim Yahudi menyerang mereka. Saleh yang khawatir dengan keselamatan anak-anak, berusaha meninggalkan daerah tersebut tapi kemudian seorang pemukim menembaknya.
Dalam pengakuannya, Mahmoud mengatakan tidak menyaksikan secara langsung konfrontasi yang terjadi. Namun, dia berada di dekat daerah itu dan segera mencapai lokasi insiden beberapa menit usai kejadian. Saleh meninggal sebelum mendapat perawatan.
2. Pemukim Israel sebut membela diri dari serangan
Sejak Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober, telah terjadi peningkatan kekerasan pemukim ilegal Israel terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat. Kematian Saleh itu, dicatat sebagai korban ketujuh di pihak Palestina sejak perang terjadi.
Warga Palestina di Tepi Barat juga melaporkan adanya serangan terhadap warga dan properti. Mereka juga mendapatkan penolakan akses terhadap tanah mereka.
Dilansir Barron's, pemimpin pemukim Yossi Dagan, mengatakan bahwa pelaku penembakan awalnya diserang batu besar yang dianggap membahayakan nyawa. Mereka beralasan untuk membela diri, lalu melepaskan tembakan yang menewaskan Saleh.
Wali kota Sawiya, Mahmud Hassan, mengatakan Abu Saleh dan keluarganya diserang oleh empat pemukim ilegal Israel. Salah satunya bersenjatakan senapan M16 dan melepaskan tembakan tanpa memberi peringatan.
3. Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional desak Israel untuk hormati hukum internasional

Serangan Israel ke Gaza telah menewaskan ribuan orang. Penduduk sipil di wilayah itu juga menderita karena mengalami blokade. Baru-baru ini, jaringan telekomunikasi dan internet di wilayah itu terputus.
Dilansir Associated Press, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan jumlah korban penduduk sipil Palestina yang dibunuh secara brutal oleh tentara Israel saat ini telah melebihi 8.000 orang. Kebanyakan korban adalah perempuan dan anak-anak di bawah umur.
Saat ini, jaringan telekomunikasi telah kembali pulih di Gaza. Namun penduduk sipil yang menderita, hanya mendapatkan sedikit bantuan kemanusiaan karena Israel membatasi pasokan bantuan.
Pada Minggu, 33 truk yang membawa air, makanan dan obat-obatan berhasil memasuki wilayah itu dari perbatasan Mesir. Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional, Karim Khan, mengunjungi perbatasan Rafah. Dia menyebut penderitaan warga sipil sangat mendalam.
Khan meminta Tel Aviv untuk menghormati hukum internasional, namun tidak pernah menuduh Israel melakukan kejahatan perang. Dia sendiri mengatakan, serangan Hamas pada 7 Oktober merupakan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional.


















