Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Nyatakan Nota Kesepahaman AS-Iran Berakhir, Konflik Kembali Memanas!

Trump Nyatakan Nota Kesepahaman AS-Iran Berakhir, Konflik Kembali Memanas!
ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • Donald Trump menyatakan nota kesepahaman AS-Iran berakhir dan menegaskan tidak ingin lagi berurusan dengan Teheran, meski negosiasi masih mungkin dilakukan oleh perwakilan AS.
  • Ketegangan meningkat setelah saling serang antara militer AS dan Iran di Selat Hormuz, dengan kedua pihak melancarkan operasi besar yang menargetkan fasilitas strategis masing-masing.
  • Iran menuding serangan berulang AS membuat kesepakatan tidak berlaku lagi serta memperingatkan negara tetangga agar tidak membantu operasi militer Washington terhadap Teheran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani AS dan Iran telah berakhir. Pada Rabu (8/7/2026), Trump mengatakan bahwa dirinya tidak lagi ingin berurusan dengan Teheran.

"Bagi saya, saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka (Iran). Mereka sampah. Mereka orang sakit. Mereka dipimpin oleh orang-orang sakit. Sejauh yang saya ketahui, berurusan dengan mereka hanya membuang waktu," bunyi pernyataan Trump, dikutip dari CNA.

Trump mengatakan bahwa para perwakilan AS masih dapat melanjutkan negosiasi dengan Iran. Namun demikian, pemimpin Negeri Paman Sam itu meragukan hasil yang dapat dicapai dari upaya negosiasi tersebut.

1. AS dan Iran saling melancarkan serangan militer

Kapal AS di Selat Hormuz
Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer menyusul insiden terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Washington menuding Teheran menjadi dalang di balik sejumlah serangan yang terjadi di wilayah perairan vital tersebut.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan operasi militernya dimulai pada Selasa sebagai respons atas serangan Teheran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. CENTCOM menyebut pihaknya menghantam lebih dari 80 target di Iran menggunakan amunisi presisi. Operasi tersebut berlangsung sekitar empat jam sebelum akhirnya dihentikan.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang 85 fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Militer Iran juga mengatakan bahwa sebuah serangan drone menargetkan pasukan AS di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain, mengutip laporan Al Jazeera.

2. Iran sebut serangan berulang AS membuat nota kesepahaman tidak lagi berlaku

ilustrasi bendera Iran
ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa Washington harus bertanggung jawab atas runtuhnya nota kesepahaman yang disepakati kedua negara pada Juni lalu. Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS sepakat mencabut blokade laut terhadap Teheran sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz oleh negara Timur Tengah tersebut.

Dilansir The Guardian, Kementerian menilai serangan berulang Washington, pemberlakuan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran, campur tangan dalam pengaturan Selat Hormuz, serta berlanjutnya serangan Israel di Lebanon telah membuat kesepakatan kedua negara yang berkonflik tersebut tidak lagi efektif.

Pada Selasa (7/7/2026), Departemen Keuangan AS juga mencabut penangguhan sementara sanksi terhadap minyak Iran. Negara adidaya itu mencabut kembali lisensi yang memungkinkan Teheran memproduksi, menjual, dan mengirim minyak mentah berdasarkan pengecualian yang sebelumnya berlaku hingga 21 Agustus.

3. Iran peringatkan negara tetangga agar tidak membantu operasi militer AS

ilustrasi bendera Iran
ilustrasi bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Kementerian Luar Negeri Iran juga memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak mengizinkan wilayah maupun fasilitasnya digunakan AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Peringatan tersebut kemungkinan besar ditujukan kepada Bahrain dan Kuwait, yang sebelumnya menjadi sasaran serangan balasan Teheran terhadap operasi militer Negeri Paman Sam.

Kementerian menegaskan setiap negara memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional untuk mencegah wilayahnya digunakan sebagai pangkalan serangan terhadap Iran. Pihaknya mengatakan, negara mana pun yang memberikan dukungan terhadap operasi militer tersebut dapat dianggap ikut terlibat dalam tindakan agresi terhadap Teheran dan bertanggung jawab atas konsekuensi hukumnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More