“Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terlibat dalam politik, kecuali bahwa kami populer. Hal yang utama adalah saya memang tidak ingin membantu mereka membela Israel," kata Trump dalam sebuah wawancara bersama majalah TIME yang dirilis pada Kamis (1/10/2026), seperti dikutip Anadolu Agency.
Trump Ogah Dukung Netanyahu Jelang Pemilu Israel Akhir Oktober

- Donald Trump menyatakan tidak akan memberi dukungan politik langsung kepada Benjamin Netanyahu menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober 2026.
- Trump menilai Netanyahu tetap berpeluang menang karena elektabilitasnya disebut 99 persen, tetapi mantan panglima militer Gadi Eisenkot dipandang sebagai rival berat.
- Penolakan Trump mencerminkan hubungan yang masih renggang dengan Netanyahu, dipicu perbedaan soal perang Iran serta serangan Israel ke Gaza dan Lebanon.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan dirinya tidak akan mendukung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pemilihan umum (pemilu) yang akan digelar pada 27 Oktober 2026 mendatang. Trump mengatakan, ia tidak mau terlibat lagi untuk memberi dukungan politik secara langsung terhadap pria yang kerap disebut Bibi itu.
1. Trump menilai Netanyahu berpotensi menang pemilu

potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/IsraelinUSA via commons.wikimedia.org/IsraelinUSA) Meski tidak mendapatkan dukungannya secara langsung, Trump menilai Netanyahu masih berpotensi menang dalam pemilu mendatang. Sebab, Trump menyebut elektabilitas Netanyahu kini berada di angka 99 persen. Hal ini karena warga Israel banyak yang mendukung kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan Netanyahu selama ia menjabat, terutama soal agresi militer ke Palestina.
Namun, Trump juga mengakui bahwa Netanyahu punya rival berat dalam pemilu kali ini. Ia adalah eks Panglima Militer Israel, Gadi Eisenkot. Menurut Trump, popularitas Eisenkot di mata publik Israel juga sangat baik. Oleh karena itu, Trump menilai Eisenkot akan menjadi lawan berat Netanyahu dalam pemilu mendatang.
2. Trump menyebut Netanyahu banyak diremehkan sejumlah pihak

potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House) Dalam pernyataannya, Trump juga menyoroti pihak-pihak yang meragukan Netanyahu untuk memenangi pemilu Israel. Menurutnya, Netanyahu memang banyak diremehkan sejumlah pihak, terutama pihak oposisi di Pemerintahan Israel. Sebab, mereka memang enggan Netanyahu terpilih lagi sebagai perdana menteri.
Namun, menurut Trump, Netanyahu sebetulnya punya kekuatan politik yang besar di Israel. Oleh karena itu, ia berpotensi berkuasa lagi di negara Yahudi tersebut. “Orang-orang telah meremehkan Bibi (Netanyahu) berkali-kali sama seperti mereka telah meremehkan saya berkali-kali. Namun, saya tidak akan meremehkan Bibi," lanjut Trump.
3. Hubungan Trump dan Netanyahu masih renggang

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri), sedang melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada Selasa (28/7/2026). (x.com/WhiteHouse) Dilansir The Hill, penolakan ini menunjukkan bahwa hubungan personal antara Trump dan Netanyahu saat ini masih renggang. Sebab, selama beberapa bulan terakhir, dua sejoli itu sudah saling berselisih pendapat soal perang di Iran serta soal serangan militer Israel ke Gaza dan Lebanon.
Di satu sisi, Trump ingin Israel berhenti menyerang Gaza dan Lebanon. Sebab, serangan Tel Aviv ke kedua negara tersebut akan menghambat upaya perdamaian di Timur Tengah. Namun, Netanyahu tidak mengindahkan permintaan Trump dan terus menyerang Gaza dan Lebanon hingga saat ini.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















