Zelenskyy Tolak Perjanjian dengan AS soal Eksplotasi Mineral Langka

Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, pada Minggu (16/2/2025), menolak perjanjian eksploitasi mineral langka yang diminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sebagai imbalan atas bantuan militer kepada Ukraina melawan agresi Rusia.
Sebelumnya, Zelenskyy sudah meminta AS ikut menjamin keamanan di Ukraina dan diperbolehkan masuk NATO. Jika tidak diizinkan, Ukraina harus menciptakan NATO sendiri dengan meningkatkan jumlah militer yang menyamai jumlah militer Rusia.
1. Sebut perjanjian tersebut hanya berfokus pada kepentingan AS
Zelenskyy mengatakan, dokumen mengenai ekspliotasi mineral langka di Ukraina hanya berfokus pada kepentingan AS. Ia mengklaim bahwa keputusan tidak menyetujuinya karena perjanjian tersebut hanyalah untuk jangka pendek.
"Saya tidak memperbolehkan menteri saya untuk menandatangani perjanjian itu karena menurut pandangan saya dalam perjanjian itu tidak ada jaminan keamanan sesuai dengan kepentingan negara kami," tuturnya, dilansir Euronews.
Ia menambahkan, proposal tersebut hanya berfokus pada bagaimana AS mengeksploitasi mineral langka Ukraina sebagai kompensasi atas dukungan yang diberikan kepada Ukraina selama ini.
Zelenskyy mengungkapkan bahwa eksploitasi sumber daya alam Ukraina harus memiliki hubungan dengan jaminan keamanan di Ukraina. Ia menginginkan adanya investasi keamanan dari AS di Ukraina untuk mencegah serangan Rusia di kemudian hari.
2. AS sebut perjanjian tersebut adalah jaminan keamanan terbaik bagi Ukraina

Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Brian Hughes mengungkapkan bahwa perjanjian terkait eksploitasi mineral langka di Ukraina adalah rencana bagus dari pemerintahan Trump.
"Kami percaya bahwa membangun hubungan ekonomi dengan AS adalah jaminan terbaik dalam melawan agresi di masa yang akan datang dan ini sebagai bagian dari perdamaian jangka panjang di Ukraina. AS mengakui ini, Rusia mengakui ini, dan Ukraina harus mengakui ini," terang Hughes.
Pendiri Asosiasi Industri Tambang Ukraina, Kseniia Orynchak, mengatakan bahwa kesepakatan tersebut membutuhkan dukungan dari rakyat Ukraina yang sesuai dengan hukum di negara Eropa Timur tersebut.
Melansir The Kyiv Independent, AS disebut berencana mendapatkan 50 persen dari cadangan mineral langka Ukraina. Washington juga memberikan sinyal kesediaannya untuk mengirim pasukan dalam menjaga sumber daya alam tersebut setelah perang berakhir.
3. Berharap Trump lebih prioritaskan Ukraina dibanding Rusia

Pada hari yang sama, Zelenskyy mengatakan bahwa dia berharap Trump menjadikan Ukraina sebagai prioritas dalam upaya negosiasi perdamaian dengan Rusia.
"Saya sangat menginginkan Ukraina adalah prioritas bagi Trump, bukan Rusia. Saya berharap bahwa kami jauh lebih penting bagi AS. Kami memang tidak sebesar Rusia, tapi secara strategis, Ukraina jauh lebih penting bagi AS karena kami adalah sekutu penting dan memiliki nilai yang sama," tuturnya, dikutip Ukrainska Pravda.
Ia mengaku percaya bahwa Trump akan sangat baik dalam bernegosiasi untuk mengakhiri perang di Ukraina. Presiden keenam Ukraina itu pun sangat menggantungkan pada keputusan Trump terkait masalah ini.



















