Cegah Virus Corona di Masjid, Anies Imbau Jemaah Bawa Sajadah Sendiri

Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berpesan kepada umat Islam di Ibu Kota agar terus waspada terhadap virus corona atau COVID-19 saat menjalankan ibadah salat Jumat. Imbauan agar waspada, ungkap mantan Menteri Pendidikan itu memang terkesan sederhana, tapi sebaiknya tidak diremehkan.
"Kewaspadaan terhadap wabah ini harus kita tingkatkan. Prinsipnya memang sederhana. Jangan panik, tapi jangan pula menganggap enteng, jangan meremehkan," ungkap Anies dalam pesan suara yang diterima awak media di Jakarta pada Jumat (13/3).
Lalu, apa saja imbauan yang disampaikan Anies dan bisa diterapkan di dalam masjid?
1. Gubernur Anies minta jemaah agar hindari berjabat tangan saat di masjid

Anies juga meminta agar umat Islam yang akan menjalankan salat Jumat harus membawa sendiri sajadah maupun sapu tangan untuk alas sujud. Kemudian, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menjalankan salat.
"Ketiga, untuk sementara waktu hindari jabat tangan. Hindari cium pipi, gunakan metode lain untuk saling bersapa tanpa harus bersentuhan," kata dia.
Selanjutnya bila seseorang sedang mengalami flu dan batuk, maka harus menggunakan masker.
"Dan bila tiba-tiba akan batuk atau bersin, maka tutupi mulut dan hidung dengan tisu atau dengan lipatan siku tangan," ucapnya.
2. Proses pembersihan masjid harus ditingkatkan

Anies juga berpesan kepada seluruh pengurus masjid di Ibu Kota. Pertama, pada saat pengumuman, pengurus masjid diminta agar selalu menyelipkan pesan kewaspadaan tentang virus corona. Mereka juga harus mengingatkan para jemaah untuk rajin cuci tangan menggunakan sabun serta menghindari sentuhan fisik untuk sementara waktu. Kedua, para pengurus masjid diminta untuk menyediakan sabun di area-area wudhu.
"Yang ketiga, saya berpesan untuk mengingatkan, agar proses pembersihan masjid di tingkatkan. Ini amat penting sekali," ungkapnya.
3. WHO resmi menetapkan virus corona sebagai pandemik

Dengan semakin meluasnya virus corona, Badan Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menetapkan agar wabah virus corona atau COVID-19 sebagai pandemik pada Rabu (11/3). Dalam konferensi pers yang turut disiarkan lewat melalui akun Twitter resmi WHO, Tedros mengatakan status pandemik ditetapkan berdasarkan cepatnya tingkat penyebaran virus selama ini.
"WHO telah melakukan asesmen terhadap wabah ini sepanjang waktu dan kami sangat khawatir baik soal level penyebaran dan keparahan yang mencemaskan, dan juga tingkat ketiadaan aksi," kata Tedros.
Ia pun menegaskan pihaknya berhati-hati dalam menetapkan status ini. "Pandemik bukan kata yang bisa dipakai dengan enteng atau sesukanya. Ini adalah suatu kata yang, jika disalahgunakan, bisa melahirkan rasa takut tak beralasan atau penerimaan tanpa bukti bahwa perlawanan telah berakhir, menyebabkan penderitaan dan kematian yang tidak perlu," jelasnya.
Sejak kemarin, ada 121.564 kasus COVID-19 di seluruh dunia, sedangkan 4.373 orang meninggal dunia.


















