Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cerita Anak Korban Tabrakan Kereta di Bekasi: Minim Pertolongan

Cerita Anak Korban Tabrakan Kereta di Bekasi: Minim Pertolongan
Kecelakaan KRL dengan KA Argo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Peristiwa ini terjadi pada Senin (27/4/2026) (IDN Times/Aryodamar)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Keluarga korban menyoroti minimnya pertolongan di dalam gerbong KRL saat tabrakan di Bekasi, membuat banyak penumpang terjebak tanpa sirkulasi udara dan pencahayaan.
  • Halimah menceritakan ibunya, Nuryati, tidak sempat menyelamatkan diri karena kondisi fisik, sementara penumpang lain keluar lewat jendela sebelum pintu berhasil dibuka.
  • Insiden tabrakan beruntun antara KRL Cikarang–Jakarta dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur menewaskan 14 orang serta melukai 84 lainnya pada 27 April 2026 malam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Minimnya pertolongan di dalam gerbong KRL saat tabrakan kereta di Bekasi menjadi sorotan keluarga Nuryati (62), korban meninggal dunia dalam insiden tersebut. Anak korban, Halimah, mengatakan, kondisi mencekam terjadi sesaat setelah kejadian di dalam kereta.

Hal tersebut berdasarkan cerita adiknya yang selamat. Sang adik saat itu tengah menemani ibunya menengok keluarga yang tengah sakit di Cikarang, Bekasi.

“Jadi kata adik, di kereta itu kan gelap ya, tidak ada sirkulasi udara pun. Jadi Mama tuh penolongannya terakhir, kata adik saya, gak ada yang nolongin. Jadi laki-laki yang ada saat itu pada menyelamatkan diri semua. Sedangkan kalau adik saya sama keponakan saya itu lewat jendela," kata Halimah di rumah duka di kawasan, Kemayoran, Jakarta Pusat (28/4/2026).

Menurut dia, sang ibu tidak bisa menyelamatkan diri melalui jendela seperti adiknya karena kondisi fisiknya.

“Kalau Mama kan gak mungkin lompat lewat jendela, karena kan berat, badannya besar. Jadi Mama cuma lewat pintu doang," ujar dia.

Saat pintu berhasil dibuka, kondisinya pun sudah sangat kritis.

“Nah itu pun kata adik, tinggal sisa berapa orang doang tuh yang masih di dalam kereta, termasuk Mama saya yang ada di situ," kata dia.

Diduga sang ibu mengalami kehabisan oksigen akibat terlalu lama terjebak di dalam gerbong.

“Nah kata adik, lewat pintu itu yang pas pintunya berhasil terbuka, tinggal sisa berapa orang doang yang ada di dalam. Mungkin karena Mama kehabisan oksigen di dalam. Karena kan udah lama, ya, terlalu lama di dalam. Jadi pas keluar itu udah lemes, kata adik," ujar dia.

Keluarga berharap, kejadian ini menjadi evaluasi besar bagi sistem transportasi, khususnya kereta api.

“Mudah-mudahan sih transportasi di Jakarta tuh lebih baik, ya! Jangan sampai nanti ada laka lantas lagi. Di udara, di darat, ataupun di air. Lebih baiklah transportasi yang ada. Jadi gak ada banyak korban yang berjatuhan," kata dia.

Diberitakan, tabrakan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden bermula saat KRL Cikarang arah Jakarta menabrak taksi yang melintas di perlintasan tanpa palang pintu. Akibat kejadian itu, perjalanan KRL lainnya arah Jakarta-Cikarang yang ada di Stasiun Bekasi Timur terhambat sehingga rangkaian KRL tersebut belum melaju. Nahas, rangkaian KRL itu ditabrak oleh Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi sehingga kecelakaan pun tak dapat dihindari.

Akibat kejadian tersebut, hingga Selasa (28/4/2026), pukul 08.45 WIB tercatat 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Related Articles

See More