Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Curhatan Nelayan Kholid, Usai Viral Dapat Berbagai Intimidasi

Curhatan Nelayan Kholid, Usai Viral Dapat Berbagai Intimidasi
(dok. IDN Times)
Intinya Sih
  • Nelayan Kholid dari Banten mengalami intimidasi setelah viral karena membela nelayan terdampak pagar laut di acara televisi.
  • Kholid menerima ancaman telepon, diiming-imingi pekerjaan dengan syarat tidak lagi mengkritisi kasus pagar laut, dan ditawari uang oleh pihak pembebasan lahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Kholid, nelayan viral dari Desa Kronjo, Pontang, Serang, Banten mengaku mendapat intimidasi dari pihak tertentu usai dirinya jadi perbincangan hangat publik.

Kholid merupakan nelayan yang terdampak keberadaan pagar laut yang membentang di pesisir Pantai Kabupaten Tangerang, Banten.

Saat menghadiri salah satu acara televisi, ia tampil dengan berani membela nelayan. Penampilannya itu pun mendapat banyak pujian dan dukungan, terutama dari warganet.

1. Diintimidasi melalui sambungan telepon

(dok. IDN Times)
(dok. IDN Times)

Kholid mengatakan, dirinya mendapat berbagai intimidasi melalui sambungan telepon. Pihak tidak dikenal itu meminta agar Kholid tak ikut campur dalam polemik pagar laut.

"Ya memang kalau telepon, kemudian (peringatkan), 'jangan macam-macam lah urusan ini, sudah mendingan kamu fokus saja," ucap dia dalam wawancara khusus program 'Real Talk With Uni Lubis by IDN Times,' Jumat (31/1/2025).

2. Kholid ditawarkan pekerjaan hingga uang

(dok. IDN Times)
(dok. IDN Times)

Kholid juga diiming-imingi pekerjaan, tetapi dengan catatan ia tak lagi mengkritisi kasus pagar laut.

"Kalau memang ini (butuh) kerja, kalau butuh kerjaan tinggal bilang," ujar Kholid menirukan pihak yang menghubunginya.

Selain itu, kata Kholid, dirinya sempat ditawarkan uang dari pihak pembebasan lahan tersebut. Ia diberikan jatah sekian persen dari penjualan tanah milik masyarakat setempat. 

"Kalau kita hitung jumlah dari Tangerang sana dari Kampung Muara sampai Muncung sudah berapa (uang yang saya dapat). Minimal kan ratusan hektare, ribuan hektare kan," kata dia.

Ia tegas menolak tawaran tersebut karena tidak ingin semena-mena dan membiarkan masyarakat susah. Terlebih, Kholid menyoroti keberlangsungan anak-anak generasi mendatang yang bukan tidak mungkin akan terkena dampak dari oligarki.

"Tujuan saya adalah ini negara mau dibawa ke mana, sudah itu saja sih. Saya gak jadi masalah miskin. Tapi anak seluruh Indonesia, anak-anak generasi bangsa seluruh Indonesia ini mau diapakan? Negara ini mau diapakan? Oke lah saya miskin gak jadi masalah, cuma ini saya lihat mau dibawa ke mana ini negara dari siapa?" kata Kholid.

3. Teman-teman Kholid menjauh

Pagar laut terpasang di kawasan pesisir Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
Pagar laut terpasang di kawasan pesisir Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

Lebih lanjut, kata Kholid, ada pula intimidasi secara psikologis dengan cara membuat isu miring sehingga ia dijauhi teman-temannya.

Pihak yang mengintimidasi ini membuat narasi buruk tentang Kholid seakan-akan sebagai sosok yang jahat. Tujuannya untuk melemahkan perjuangan Kholid membela nelayan.

"Mereka ini (pihak yang intimidasi) tahu rumah saya, tahu kalau mau matiin saya juga sudah jelas gampanglah! Nah, tapi si pihak yang intimidasi ini, ke rumah ibunya kawan saya sehingga ibunya ini nanya, Kholid ini siapa gitu kan? Kemudian biar dijauhin teman-teman. Biar teman-teman tuh takut nemenin saya berjuang sama saya membela yang hak," ucapnya.

"Jadi masing-masing menjauhi takut risiko karena dianggapnya mungkin bagaimana supaya saya ini adalah penjahat," ucap dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
Yosafat Diva Bayu Wisesa
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More