Kala Anggota DPR Ajak Pelajar Temui Mendikdasmen Bahas Gerakan Anti-Bullying

Ahmad Doli Kurnia bersama pelajar dan mahasiswa menemui Abdul Mu'ti untuk membahas kekerasan dan bullying terhadap anak.
ADK Movement mendorong keterlibatan pelajar, keluarga, pemerintah, sekolah, dan masyarakat dalam mencegah kekerasan.
Abdul Mu'ti ingin sekolah menjadi rumah kedua yang aman, sementara pelajar meminta ruang untuk ikut melawan bullying.
Jakarta, IDN Times - Di tengah riuhnya gedung pemerintahan, ada suara yang datang membawa keresahan dari ruang-ruang kelas. Senin (26/10/2026), sejumlah pelajar bersama mahasiswa dan anggota DPR RI, Ahmad Doli Kurnia, menemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti di kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat.
Pertemuan itu berlangsung tak lama setelah Abdul Mu'ti menghadiri Taklimat Media Capaian 2 Tahun Kemendikdasmen di Gedung A. Seusai acara, sang menteri bergegas menemui Doli dan para pelajar yang sudah menunggunya.
Mereka datang membawa satu keresahan yang sama: kekerasan dan bullying yang masih menghantui anak-anak Indonesia. Bagi mereka, sekolah seharusnya menjadi tempat untuk tumbuh, bukan ruang yang meninggalkan luka.
Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong gerakan bersama untuk mencegah dan melawan bullying atau perundungan serta kekerasan terhadap anak.
1. Wajah masa depan Indonesia ada di anak-anak

Sejumlah pelajar dan mahasiswa bersama Anggota DPR RI, Ahmad Doli Kurnia, menemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat (26/10/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Doli mengatakan, pertemuan itu menjadi bagian dari kepeduliannya terhadap persoalan kekerasan yang dialami anak-anak. Dalam setahun terakhir, Doli berkeliling ke berbagai daerah untuk menerima pengaduan masyarakat.
"Saya ini bersama dengan teman-teman ini, ya, diterima oleh Pak Menteri Pendidikan Dasar Menengah dalam konteks membicarakan tentang soal kekerasan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini terhadap anak, bullying dan kekerasan," ujar dia.
Berdasarkan pengaduan yang diterima Doli, ada peningkatan kasus kekerasan terhadap anak. Karena itu, ia bersama pelajar dan pemuda membentuk ADK Movement, Anti Bully dan Kekerasan.
Gerakan tersebut melibatkan sejumlah kelompok pelajar dan pemuda, seperti Maju Bersama OSIS, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, GenRe, hingga Pelajar Anti Kekerasan.
"Jadi, sebuah gerakan yang mendorong semua warga Indonesia, baik pelajar, mahasiswa, keluarga, gitu ya, untuk kemudian sama-sama kita melawanlah kekerasan terhadap anak-anak ini. Karena anak-anak ini tentu harus kita jaga," katanya.
Menurut Doli, persoalan bullying dan kekerasan tidak bisa dilihat sebagai masalah sesaat. Luka yang ditinggalkan pada anak dapat terbawa hingga mereka dewasa, hingga pada akhirnya memengaruhi masa depan bangsa.
"Kalau bicara tentang masa depan Indonesia, sering kali saya pernah katakan wajah masa depan Indonesia itu ada di anak-anak kita itu. Jadi kalau anak-anak kita ini sekarang nanti menjadi trauma atau kemudian pemurung, mentalnya rusak, itu akan memengaruhi masa depan Indonesia," ucapnya.
Doli mengatakan ADK Movement akan melakukan roadshow ke sejumlah pemangku kepentingan. Sebelumnya, mereka telah mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Saat pertemuan dengan Mendikdasmen, Doli juga mendapat pandangan bahwa persoalan kekerasan terhadap anak membutuhkan koordinasi lintas sektor. Karena itu, ia akan mendorong komunikasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
Doli menyebut perkembangan teknologi dan kemudahan anak mengakses media sosial, juga menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan tersebut.
"Dan itu sangat memengaruhi mental, jiwa, otak, dan seterusnya, ya," kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu.
2. Abdul Mu'ti ingin sekolah menjadi rumah kedua bagi anak

Sejumlah pelajar dan mahasiswa bersama Anggota DPR RI, Ahmad Doli Kurnia, menemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat (26/10/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Menanggapi gerakan tersebut, Abdul Mu'ti mengapresiasi inisiatif Doli dan para pelajar, untuk mendorong pencegahan kekerasan terhadap anak. Ia mengatakan persoalan kekerasan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan lainnya. Sebagian besar pelaku maupun korban dalam kasus tersebut merupakan anak-anak.
"Kami mengapresiasi gerakan yang diinisiasi oleh Pak Doli Kurnia terkait dengan adanya gerakan untuk mencegah dan juga untuk mengatasi masih banyaknya kekerasan yang ada di sekolah maupun di rumah dan di tempat-tempat yang lainnya di Indonesia ini," kata dia.
Karena itu, Mu'ti menilai, penanganan kekerasan harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah, lembaga terkait, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu mengambil bagian untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
"Kami di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagaimana juga tadi disampaikan oleh Pak Doli, kita bersama-sama mengajak kementerian lembaga terkait dan juga seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah kekerasan ini secara humanis, secara edukatif, dan komprehensif," ujarnya.
Mu'ti mengatakan Kemendikdasmen juga memiliki kebijakan yang disebut budaya sekolah yang aman dan nyaman. Melalui kebijakan itu, sekolah diharapkan tidak sekadar menjadi tempat anak mengejar nilai dan pengetahuan.
Sekolah diharapkan dapat menjadi rumah kedua, tempat anak merasa terlindungi, dihargai, dan aman bersama guru maupun teman-teman sebayanya.
"Di dalamnya kami ingin agar sekolah itu dapat menjadi rumah kedua bagi anak-anak dan sekolah dapat menjadi tempat di mana mereka dapat belajar tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga hal-hal yang baik di mana sekolah menjadi lingkungan yang mereka merasa terlindungi oleh para gurunya dan juga merasa aman dengan teman-teman sebayanya," tuturnya.
Mu'ti menuturkan, upaya menciptakan sekolah yang aman juga membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah. Salah satunya melalui pembentukan kelompok kerja yang melibatkan pemerintah daerah.
Namun, ia mengingatkan, kekerasan yang terjadi di luar sekolah juga tidak boleh diabaikan. Sebab, apa yang dialami anak di luar lingkungan sekolah dapat memengaruhi kehidupan mereka ketika kembali ke ruang kelas.
"Karena juga apa yang terjadi di luar sekolah itu juga berdampak terhadap murid-murid kita," kata Mu'ti.
3. Belajar ingin berhenti jadi saksi bullying

Sejumlah pelajar dan mahasiswa bersama Anggota DPR RI, Ahmad Doli Kurnia, menemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat (26/10/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Setelah Doli dan Mu'ti menyampaikan pandangan, giliran pelajar bersuara. Luthfi Sakhi, perwakilan pelajar Indonesia yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengatakan keresahan terhadap bullying bukan hanya milik orang dewasa. Para pelajar, kata dia, juga ingin sekolah menjadi tempat yang bebas dari kekerasan.
"Terima kasih sebelumnya, perkenalan saya dari perwakilan pelajar dari Indonesia yang tentunya saya membawa suara dari seluruh anak-anak di Indonesia. Saya betul-betul mengapresiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah menerima aspirasi dari kami, bahwa kami itu anak muda, kami para pelajar itu resah dengan yang namanya bullying, kekerasan," ujar dia.
Luthfi menilai persoalan bullying tidak memiliki satu akar masalah. Kekerasan bisa tumbuh dari lingkungan keluarga, pergaulan, hingga penggunaan gawai. Karena itu, menurut dia, upaya menghentikan bullying tidak cukup jika hanya dibebankan kepada sekolah.
"Karena kasus bullying itu bukan hanya terjadi di sekolah, tapi dari sebuah pohon itu pasti ada akarnya, dan akarnya itu bisa terjadi di keluarga, bisa terjadi di lingkungan, dan juga bisa terjadi di gadget," katanya.
Luthfi juga menyoroti banyaknya kasus bullying yang belum tersorot. Bahkan, menurut dia, kasus yang sudah diketahui publik pun belum semuanya mendapatkan penanganan maksimal.
Ia berharap pelajar tidak hanya menjadi saksi ketika kekerasan terjadi. Mereka perlu memiliki ruang untuk ikut bergerak dan melawan kekerasan di lingkungan sekolah.
"Pelajar itu enggak bisa cuman menjadi saksi, tapi kita juga perlu membentuk suatu forum di sekolah itu sendiri untuk melawan kekerasan, karena saat ini banyak sekali bullying yang tidak tersorot," ujarnya.
Harapan itu kemudian bermuara pada satu cita-cita: Indonesia Emas 2045. Sebab, bagi Luthfi, masa depan bangsa tidak hanya dibangun dari gedung dan kebijakan, tetapi juga dari kondisi mental anak-anak yang kelak akan mengisinya.
"Karena anak muda adalah wajah masa depan Indonesia. Dan jika wajahnya sudah buruk, bagaimana masa depan Indonesia kita? Mari bersama-sama kita hilangkan kekerasan," kata Luthfi.
Di ujung pertemuan, pesan Doli kembali terasa sederhana tetapi panjang maknanya: menjaga anak bukan hanya tugas guru, bukan hanya pekerjaan pemerintah, dan bukan pula semata tanggung jawab sekolah.
"Jangan sampai jadi korban kekerasan dan juga jangan jadi pelaku kekerasan. Nah, itu tanggung jawab kita, ya, semua," ujar dia.
Sebab, sebelum menjadi angka dalam statistik atau berita di layar gawai, kata Doli, setiap anak adalah seseorang yang sedang tumbuh. Dan dari merekalah wajah Indonesia kelak akan terbentuk.






















