Duh! Mayoritas Penderita COVID-19 di Jakarta Masih Sekolah dan Kuliah

Jakarta, IDN Times - Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Sonny Harry B Harmadi membeberkan fakta bahwa nyatanya di wilayah DKI Jakarta mayoritas penderita virus corona golongan usia sekolah.
"Saya sudah berdiskusi langsung dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, ternyata mayoritas penderita COVID-19 itu berusia 19 sampai 30 tahun," kata Sonny dalam Bincang Sore Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui aplikasi Zoom, Jumat (11/9/2020).
"Nah, 19 sampai 30 tahun kan baru lulus SMA atau kadang-kadang masih kelas tiga SMA atau dia sudah kuliah," sambung Sonny.
1. Warga usia muda cenderung abai dengan protokol kesehatan

Hal menariknya, menurut Sonny, yang dia lihat selama masa pandemik adalah semakin tinggi usia seseorang justru punya kecenderungan untuk semakin patuh pada protokol kesehatan.
"Semakin muda semakin tidak patuh," kata dia.
Sonny mengingatkan banyak warga usia sekolah atau pun kuliah yang justru menjadi penderita COVID-19. Padahal di masa pandemik pembelajaran hampir seluruhnya dilakukan secara daring.
"Karena ternyata mereka itu cenderung berkumpul, mengabaikan protokol kesehatan dan cenderung karena fisiknya yang mungkin kuat, jadi orang tanpa gejala," ucap dia.
2. Penularan COVID-19 di permukiman juga semakin tinggi

Sonny mengatakan kebiasaan anak muda yang memilih berkumpul dan tidak mematuhi aturan protokol kesehatan, juga berpengaruh terhadap tingginya angka penularan di permukiman.
"Akibat berkumpul, lalu pulang ke rumah, membawa virus dan dampaknya akhirnya terjadi penyebaran virus di dalam rumah. Ini juga terus terang cukup mengkhawatirkan dan kita harus bisa mendorong perubahan perilaku, terutama pada kelompok-kelompok berisiko tinggi," kata dia.
3. Perlu ada intervensi ke sektor pendidikan

Melihat maraknya masyarakat usia sekolah dan kuliah menjadi penderita COVID-19 hingga efeknya ke tingkat penularan di permukiman, menurut Sonny, perlu adanya upaya untuk mengubah perilaku dari sisi sektor pendidikan.
"Makanya, peran kita untuk intervensi ke sektor pendidikan itu menjadi sangat penting. Di Jakarta saja, survei Litbangkes, 30 persen responden menyatakan bahwa 'saya tidak mungkin berisiko terkena wabah ini'. Bayangkan, berarti kita sudah bisa menjawab kenapa banyak orang yang tidak patuh terhadap 3M (Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak)," kata Sonny.
Padahal, menurut Sonny, jika masyarakat mematuhi aturan 3M, maka dapat menurunkan risiko tertular virus corona hingga 85 persen.


















