Ini SOP Marinir Ketika Calon Manajer Kopdes Sakit saat Latsar Militer

- Korps Marinir TNI AL menerapkan prosedur berjenjang untuk menangani peserta SPPI yang sakit, dengan fasilitas medis dan rumah sakit Marinir Cilandak siap siaga setiap saat.
- Dua peserta SPPI mengundurkan diri dari pelatihan dasar militer di Brigif 1 Marinir karena alasan kesehatan dan pekerjaan, setelah melalui proses pelaporan resmi ke komando atas.
- Sebanyak 674 peserta mengikuti latsar militer selama sebulan sebelum menerima pembekalan manajerial dari Kementerian Koperasi, tanpa keterlibatan langsung TNI dalam materi tersebut.
Jakarta, IDN Times - Korps Marinir TNI Angkatan Laut (AL) memaparkan prosedur medis yang diterapkan apabila peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) mengalami gangguan kesehatan. Langkah awal yakni peserta harus melaporkan kondisinya kepada komandan pleton. Kemudian dari komandan pleton melaporkan ke komandan kompi.
Prosesnya berjenjang dari komandan kompi ke ke komandan Batalyon latihan. "Baru kami melaporkan ke pimpinan kami ke Komandan Satuan Pendidikan," ungkap Komandan Batalyon Latihan SPPI KDMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Letnan Kolonel Marinir Agus Mutaqin pada Kamis (25/6/2026).
Ia mengatakan di saat pelaporan itu dilakukan berjenjang, peserta langsung diberikan penanganan medis dari fasilitas kesehatan yang tersedia di lingkungan satuan pendidikan. Selain itu, ambulans dan tenaga kesehatan juga menempel setiap saat.
"Kami sudah menyiapkan fasilitas kesehatan di sini seperti dokter, tenaga kesehatan dan obat-obatan. Namun, apabila dari pleton kesehatan atau dokter kami tidak mampu menangani, maka sudah disiapkan rumah sakit terdekat yaitu Rumah Sakit Marinir Cilandak yang segera melakukan penanganan hingga rawat inap," tutur perwira menengah itu.
1. Sudah ada dua peserta yang mengundurkan diri dari satdik Brigif 1 Marinir

Lebih lanjut, kata Agus, sudah ada dua peserta SPPI yang memilih mengundurkan diri usai mengikuti pendidikan dasar militer. Peserta pertama mundur karena kondisi kesehatan.
"Ada satu yang mundur karena kondisi vertigo. Itu sudah kami proses karena keinginan dari yang bersangkutan jadi kami mempersilakan. Namun, kami tetap laporkan ke atas," katanya.
Peserta kedua yang mundur disebabkan karena ada kepentingan di dalam pekerjaan. Agus menyebut telah berusaha memberikan masukan dan motivasi.
"Tetapi, karena kesadaran dari yang bersangkutan, prosesnya sama. Kami buat laporan khusus dan surat pernyataan dari yang bersangkutan. Kami laporkan ke pimpinan atau komando atas. Setelah diizinkan, kami persilakan untuk mengundurkan diri," tutur dia.
2. Latihan dasar militer disebut bekal untuk membentuk karakter peserta

Sementara, ketika ditanyakan soal persepsi yang berkembangan di media sosial bahwa latihan militer tak dibutuhkan dalam pendidikan calon manajer koperasi desa, Agus menilai sebaliknya. Latihan dasar militer justru sangat diperlukan.
"Latsarmil ini adalah bekal untuk membentuk karakter dari para siswa. Karena siswa ini nanti setelah mengikuti latsarmil, mereka akan ditempatkan di jabatan-jabatan strategis sebagai manajer dan posisi lainnya. Karena itu karakter harus dibangun," katanya.
Selain itu, latsarmil membentuk sikap disiplin. Nilai-nilai kedisiplinan dijadikan dasar di dalam pendidikan. Kemudian, nilai-nilai keagamaan dengan kegiatan ibadah rutin.
"Dengan dasar-dasar moral yang kami bangun ini, integritasm, loyalitas, kedisiplinan, kekompakan, empati, mereka akan terbawa saat nanti di penugasan baru," imbuhnya.
3. Peserta akan mendapatkan materi manajerial di satuan pendidikan TNI

Sementara, total peserta SPPI yang mengikuti latihan dasar militer di Brigif 1 Marinir, Cilandak mencapai 674 orang. Mereka terbagui ke dalam 4 kompi. Kemudian, dari satu kompi dibagi menjadi 6 peleton.
Komandan Batalyon Latihan SPPI KDMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Letnan Kolonel Marinir Agus Mutaqin mengatakan usai mengikuti latsar militer selama 30 hari, maka peserta SPPI akan diberikan pembekalan manajerial. Latsar militer akan berlangsung pada 16 Juni 2026 hingga 16 Juli 2026.
"Pembekalan manajerial akan dilaksanakan setelah latsarmil dari 17 Juli hingga 30 Juli. Kami hanya melakukan pengawasan saja. Jadi, tidak ada keikutsertaan TNI di dalam pemberian materi tersebut," kata Agus.
Ia mengaku belum mengetahui isi materi terkait manajerial. Namun, tim survei dari Kementerian Koperasi sudah mulai melakukan monitor kelas-kelas yang disiapkan oleh Brigif 1 Marinir.

















