Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ancaman Banjir Somalia, Hampir 874 Ribu Warga Berisiko Mengungsi

3 min read
Ancaman Banjir Somalia, Hampir 874 Ribu Warga Berisiko Mengungsi
ilustrasi bendera Somalia (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • IOM memperkirakan 874.319 warga Somalia berisiko mengungsi pada Oktober–Desember 2026, dengan banjir menyumbang 92 persen potensi perpindahan di tengah hujan di atas normal dan El Nino.
  • Sungai Jubba dan Shabelle meningkat, sementara hujan merusak rumah di Baidoa; Beletweyne dan Gaalkacyo menghadapi risiko tertinggi, termasuk ancaman wabah di lokasi pengungsian padat.
  • IOM baru menerima 14,4 persen dari kebutuhan dana 16,62 juta dolar AS, sehingga kesiapsiagaan, relokasi aman, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan terbatas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, International Organization for Migration (IOM), memperingatkan bahwa hampir 874 ribu orang di Somalia berisiko terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dalam tiga bulan ke depan akibat ancaman banjir. Peringatan ini muncul ketika kenaikan permukaan air sungai dan curah hujan lebat mengancam masyarakat yang telah terdampak kekeringan serta pengungsian berulang.

Peringatan tersebut disampaikan pada Rabu (21/10/2026) seiring masuknya Somalia ke musim hujan dengan prakiraan curah hujan di atas normal di tengah penguatan kondisi El Nino. Data proyeksi terbaru mencatat bahwa bencana banjir diperkirakan menjadi penyumbang 92 persen dari total potensi perpindahan penduduk tersebut.

  1. 1. Proyeksi perpindahan penduduk antara Oktober dan Desember

    ilustrasi pengungsi
    ilustrasi pengungsi (pexels.com/Sanjeev Kumar)

    Proyeksi baru yang disusun oleh IOM bersama Danish Refugee Council (DRC) memperkirakan sebanyak 874.319 orang dapat mengungsi antara Oktober dan Desember. Dari keseluruhan estimasi tersebut, faktor banjir menyumbang 92 persen dari total proyeksi perpindahan penduduk. Musim hujan di Somalia diprakirakan membawa curah hujan di atas normal bersamaan dengan kondisi penguatan fenomena El Nino.

    Kepala Misi IOM Somalia, Manuel Marques Pereira, memberikan keterangan resmi mengenai situasi tersebut. "Kami melihat kemungkinan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal hanya dalam hitungan pekan. Banyak dari keluarga ini telah mengungsi sebelumnya dan hanya memiliki sedikit bekal untuk bertahan hidup," kata Pereira. Kenaikan air banjir juga berpotensi merusak tanaman pangan, mengganggu mata pencaharian, mencemari sumber air, serta memutus akses ke layanan kesehatan dan fasilitas penting lainnya.

  2. 2. Wilayah dengan ancaman banjir dan kerentanan tertinggi

    ilustrasi banjir
    ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)

    Tanda-tanda banjir sudah mulai muncul di beberapa wilayah Somalia. Di Dollow, aliran Sungai Jubba dilaporkan mendekati ambang batas banjir, sementara permukaan Sungai Shabelle terus naik menuju puncak tanggul di kawasan Jowhar. Selain itu, curah hujan lebat di Baidoa telah merusak rumah warga dan memaksa sejumlah keluarga menyelamatkan diri dari beberapa kawasan permukiman.

    Wilayah Beletweyne dan Gaalkacyo termasuk daerah yang menghadapi ancaman terbesar, dengan masing-masing sekitar 229 ribu dan 82 ribu orang berisiko mengungsi. Keluarga yang tinggal di lokasi pengungsian padat dinilai sangat rentan karena hasil asesmen menemukan kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi. Kondisi keterbatasan fasilitas kebersihan tersebut memicu kekhawatiran timbulnya wabah penyakit apabila genangan banjir terus meluas.

  3. 3. Kekurangan dana operasional hambat kesiapsiagaan bencana

    kantor pusat IOM di Swiss
    kantor pusat IOM di Swiss (Guilhem Vellut from Annecy, France, CC BY 2.0, via Wikimedia Commnons)

    Di tengah ancaman banjir yang meluas, IOM baru memperoleh sekitar 14,4 persen dari total kebutuhan dana sebesar 16,62 juta dolar AS atau setara Rp299,89 miliar (kurs Rp18.044). Pendanaan tersebut dirancang untuk mendukung kesiapsiagaan dan respons bagi lebih dari 517 ribu orang di berbagai komunitas rawan banjir di Somalia. Kekurangan dana ini membatasi upaya penyediaan area relokasi yang aman, bantuan tempat tinggal darurat, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan.

    Pereira menyatakan bahwa kesempatan untuk meminimalkan dampak bencana kepada masyarakat masih terbuka meski waktu yang tersisa kian sempit. "Kami sangat membutuhkan pendanaan untuk membantu masyarakat melindungi rumah dan mata pencaharian mereka, mencapai tempat yang lebih aman jika diperlukan, dan menghindari siklus pengungsian berulang," tutur Pereira. IOM kini mendesak dukungan internasional darurat guna memperkuat sistem peringatan dini, memetakan rute evakuasi, dan menyiapkan bantuan sebelum air banjir memaksa lebih banyak warga mengungsi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More