Australia Perketat Regulasi Tabir Surya, Kenapa?

- TGA Australia mengusulkan produsen menyerahkan hasil uji SPF sebelum pemasaran dan mengulang pengujian selama masa simpan, setelah produk populer gagal memenuhi klaim perlindungan.
- Investigasi Choice menemukan 16 dari 20 tabir surya populer tidak sesuai klaim SPF, termasuk produk SPF 50+ yang diuji hanya SPF 4, memicu penarikan produk.
- Reformasi mencakup uji in vitro dan akreditasi laboratorium lebih ketat, tetapi Choice mengkritik hasil uji yang tetap rahasia dan minim pemantauan rutin.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (Therapeutic Goods Administration/TGA) mengusulkan pengetatan regulasi produk sunscreen atau tabir surya. Ini setelah skandal pengujian mengungkap bahwa sejumlah merek populer gagal memenuhi tingkat perlindungan Sun Protection Factor (SPF) yang tercantum pada kemasan. Reformasi tersebut mencakup kewajiban pengujian berulang, peningkatan pengawasan laboratorium, serta pengetatan standar klaim perlindungan ultraviolet (UV) untuk memperkuat keamanan dan kepercayaan konsumen.
Berdasarkan usulan TGA yang diumumkan pekan lalu, produsen wajib menyerahkan hasil pengujian SPF kepada regulator sebelum produk dipasarkan. Pengujian juga harus dilakukan secara berkala selama masa simpan produk, guna memastikan tingkat perlindungan tetap sesuai dengan klaim pada label. Sebelumnya, perusahaan hanya diwajibkan menyerahkan data pengujian apabila diminta oleh regulator.
Di sisi lain, TGA berencana membatasi klaim SPF pada produk komestik yang memiliki fungsi perlindungan UV sekunder. Kebijakan ini bertujuan agar konsumen dapat membedakannya dari sunscreen yang secara khusus untuk melindungi kulit, dilansir BBC.
1. Skandal pengujian picu krisis kepercayaan konsumen

Ilustrasi lorong supermarket. (unsplash.com/Osarugue Igbinoba) Skandal keamanan ini bermula dari investigasi independen yang dilakukan oleh kelompok advokasi konsumen Choice pada tahun lalu, yang menemukan bahwa 16 dari 20 produk tabir surya populer gagal memenuhi tingkat SPF yang diiklankan. Temuan itu mencakup sejumlah merek premium, termasuk produk Lean Screen Skinscreen dari Ultra Violette yang mengklaim SPF 50+, tetapi hasil pengujian menunjukkan angka SPF 4.
Kasus tersebut memicu kemarahan publik dan mendorong penarikan sejumlah produk dari pasar Australia. Skandal ini menjadi perhatian serius mengingat Australia merupakan negara dengan tingkat prevalensi kanker kulit tertinggi di dunia. Oleh karena itu, perlindungan terhadap paparan sinar UV merupakan isu penting bagi kesehatan masyarakat.
2. Metode pengujian dan pengawasan laboratorium diperluas

Ilustrasi ruang laboratorium. (pexels.com/Edward Jenner) TGA juga mengusulkan perluasan metode pengujian dengan mengizinkan penggunaan pendekatan in vitro, yakni pengujian tabir surya pada permukaan buatan di laboratorium. Metode ini dapat menjadi alternatif bagi pengujian in vivo yang mengukur efektivitas produk melalui penerapannya pada kulit sukarelawan. Namun, pengujian pada manusia tetap diperlukan untuk formulasi tertentu, termasuk produk yang mengklaim tahan air.
Selain itu, regulator berencana memperkuat standar akreditasi internasional bagi laboratorium pengujian SPF. Langkah ini menyusul temuan investigasi ABC News bahwa lebih dari separuh produk yang gagal memenuhi klaim perlindungannya menggunakan laboratorium luar negeri. Hasil pengujiannya pun dipertanyakan para ahli.
3. Choice kritik minimnya transparansi hasil pengujian

Ilustrasi penggunaan tabir surya. (pexels.com/Kampus Production) Choice menyambut baik rencana reformasi tersebut, tetapi menilai kebijakan itu belum cukup menjamin akuntabilitas produsen. Direktur Dampak Konsumen Choice, Andy Kelly, mengkritik keputusan TGA yang tidak mewajibkan pemantauan dan evaluasi rutin terhadap data pengujian maupun publikasi hasilnya kepada masyarakat.
"Kami benar-benar berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang sangat penting yang harus dilakukan oleh TGA, terutama karena mereka juga mengusulkan agar hasil tes ini tidak dipublikasikan," ujar Kelly.
TGA menyatakan hasil pengujian akan diserahkan secara rahasia. Alasannya, mempertimbangkan kerahasiaan perusahaan, hak kekayaan intelektual, dan risiko kesalahpahaman terhadap data teknis. Meski demikian, pihak regulator memastikan akan terus memantau perkembangan industri secara bertahap melalui konsultasi lanjutan. Ini termasuk pembahasan kemungkinan perubahan sistem pelabelan SPF.






















