Korea Selatan Kirim 44 Personel Penyelamat ke Nepal Pascabanjir

- Korea Selatan mengirim 44 personel tanggap darurat ke Nepal untuk misi pencarian dan penyelamatan selama sepuluh hari pascabanjir bandang dan longsor di Distrik Rasuwa.
- Pengiriman tim dilakukan setelah Nepal meminta tenaga ahli evakuasi internasional; sebelumnya, Korea Selatan menyalurkan bantuan darurat senilai 1 juta dolar AS melalui lembaga internasional.
- Operasi gabungan berfokus mencari sembilan warga Korea Selatan yang hilang di proyek hidroelektrik Sungai Trishuli, dengan dukungan pesawat militer KC-330 Cygnus dan koordinasi otoritas Nepal.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan resmi mengirimkan 44 personel tanggap darurat bencana ke Nepal pada Selasa (1/9/2026). Langkah kemanusiaan ini merespons bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Distrik Rasuwa di wilayah utara Nepal.
Rombongan bertolak menggunakan pesawat militer Angkatan Udara Korea Selatan untuk menjalankan misi kemanusiaan selama sepuluh hari. Operasi lapangan ini sepenuhnya difokuskan pada upaya pencarian dan penyelamatan korban.
1. Nepal minta tambahan tenaga ahli evakuasi
Kerusakan parah pada infrastruktur akibat terjangan banjir memaksa Nepal meminta bantuan internasional. Otoritas Kathmandu resmi mengajukan permohonan tenaga spesialis penyelamat yang langsung disetujui oleh Dewan Penanggulangan Bencana Luar Negeri Gabungan Korea Selatan di Seoul.
Sebelum memberangkatkan tim ahli, pemerintah Korea Selatan telah menyalurkan bantuan darurat senilai 1 juta dolar AS (Rp17,73 miliar) melalui lembaga internasional guna mempercepat ketersediaan logistik di wilayah terisolasi.
"Pemerintah Nepal telah meminta Korea Selatan mengirimkan tim untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan di wilayah terdampak," tulis keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, dilansir The Korea Herald.
2. Tim gabungan cari sembilan warga Korea Selatan yang hilang
Operasi evakuasi ini dipimpin oleh Direktur Jenderal Kerja Sama Pembangunan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Lee Kyu-ho. Pasukan darurat tersebut beranggotakan tenaga ahli lintas instansi dari Kementerian Luar Negeri, Badan Kerja Sama Internasional Korea (KOICA), serta Badan Pemadam Kebakaran Nasional.
Fokus operasi dititikberatkan pada pencarian sembilan warga Korea Selatan yang putus kontak setelah banjir menghantam proyek hidroelektrik di Sungai Trishuli. Kehadiran mereka melengkapi tim respons cepat yang sebelumnya telah melakukan penyisiran awal di Nepal.
"Penggabungan ahli dari berbagai lembaga ini dirancang agar operasi evakuasi medis dan penyisiran reruntuhan di lokasi bencana berjalan optimal," sebut perwakilan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
3. Armada udara militer dukung kelancaran evakuasi
Pesawat militer jenis KC-330 Cygnus disiagakan untuk mengangkut seluruh personel beserta peralatan penyelamatan. Penggunaan armada udara ini diprioritaskan untuk menjamin kelancaran distribusi logistik darurat ke kawasan bencana.
Setibanya di Nepal, tim penyelamat berkoordinasi intensif dengan badan penanggulangan bencana setempat guna memetakan koordinat pencarian secara akurat. Operasi kemanusiaan terpadu ini sekaligus menegaskan komitmen Korea Selatan dalam merespons krisis bencana alam di kawasan Asia.
"Kami akan terus menjaga komunikasi dengan pemerintah Nepal dan aktif mencari cara untuk menyalurkan bantuan yang dibutuhkan di lapangan," kata pihak Kementerian Luar Negeri.





















