KTT G7 Prancis Diwarnai Protes 20 Ribu Massa dan Bentrokan di Jenewa

- Lebih dari 20 ribu orang berunjuk rasa di Jenewa menentang KTT G7, memprotes kebijakan negara maju yang dianggap memperburuk ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan.
- KTT G7 di Evian-les-Bains membahas krisis Timur Tengah, konflik Ukraina, serta ketidakseimbangan ekonomi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.
- Otoritas Swiss dan Prancis memperketat pengamanan dengan lebih dari 13 ribu personel, menutup akses zona steril, dan mengantisipasi potensi kerusuhan selama konferensi berlangsung.
Jakarta, IDN Times – Sekitar 20 ribu orang turun ke jalan di Jenewa, Swiss, pada Minggu (14/6/2026) untuk memprotes penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (G7) di Evian-les-Bains, Prancis. Aksi tersebut digelar koalisi No-G7 yang menghimpun lebih dari 60 asosiasi, mulai dari aktivis lingkungan, kelompok feminis, hingga pembela hak Palestina. Demonstrasi berlangsung sehari sebelum pertemuan tahunan para pemimpin G7 dimulai.
Lokasi aksi dipilih di kawasan perbatasan Swiss-Prancis karena sebagian besar kepala negara anggota G7 diperkirakan tiba melalui Bandara Jenewa sebelum menuju lokasi konferensi. Juru bicara koalisi No-G7, Francoise Nyffeler, menyampaikan kekhawatiran kelompoknya terhadap arah kebijakan para pemimpin negara maju saat ini.
“Kami sangat takut dengan kebijakan dan politik Tuan Trump dan juga pemimpin-pemimpin G7 lainnya, karena mereka bertempur, membuat perang di mana-mana,” kata Nyffeler, dikutip Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa planet Bumi berada dalam bahaya dan kelompoknya sangat khawatir akan kondisi tersebut serta ingin menyampaikan protes bahwa rakyat dunia menentang kebijakan para pemimpin tersebut.
1. Massa merusak fasilitas publik saat bentrokan pecah

Menurut jurnalis Al Jazeera, Natacha Butler, para peserta aksi memandang G7 sudah tak lagi mewakili populasi dunia. Mereka menilai kebijakan negara-negara kaya justru memperlebar kesenjangan ekonomi serta berdampak negatif terhadap isu perubahan iklim, kesetaraan hak, dan pengentasan kemiskinan.
Ketegangan muncul ketika iring-iringan demonstran mendekati markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga malam hari. Sejumlah orang yang mengenakan pakaian hitam dan masker melempar batu, pecahan semen, botol, serta petasan ke arah aparat keamanan.
Polisi kemudian membalas dengan gas air mata dan meriam air. Bentrokan itu menyebabkan sejumlah properti publik dan swasta mengalami kerusakan, termasuk kaca gedung bank yang dihancurkan, mobil yang dibakar, kantor Uni Telekomunikasi Internasional PBB, serta gedung milik perusahaan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC).
2. Pemimpin G7 membahas krisis global di Evian

KTT G7 berlangsung selama tiga hari dan menjadi konferensi internasional besar pertama sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu blokade Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 persen pengiriman energi dunia, sehingga harga komoditas energi ikut melonjak.
Para pemimpin dari AS, Kanada, Jepang, Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris, termasuk Presiden AS Donald Trump, dijadwalkan bertemu di Evian-les-Bains. Agenda yang dibahas meliputi krisis Timur Tengah, perkembangan geopolitik di Ukraina, serta ketidakseimbangan ekonomi global.
3. Otoritas memperketat pengamanan KTT G7

Penolakan terhadap G7 telah muncul beberapa hari sebelum konferensi dimulai. Media Swiss melaporkan sekitar 20 demonstran diamankan, sedangkan sekitar 20 perahu membentangkan spanduk anti-G7 dan pro-Palestina di Danau Jenewa. Kritik terhadap G7 juga berkaitan dengan menurunnya kontribusi kelompok tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) global dari sekitar 70 persen menjadi sekitar 40 persen, sementara BRICS yang beranggotakan 11 negara, termasuk Rusia, India, dan China, terus memperluas pengaruhnya.
Data kepolisian Jenewa yang dikutip oleh Euro News menyebutkan sekitar 600 orang dari total demonstran diidentifikasi sebagai kelompok militan Black Bloc. Otoritas Swiss dan Prancis pun memperketat pengamanan untuk mengantisipasi potensi gangguan selama pertemuan berlangsung.
Prancis menyiagakan lebih dari 13 ribu polisi dan personel gendarmerie serta menambah lebih dari 800 petugas pengawas perbatasan. Akses menuju zona steril ditutup sepenuhnya dan pertemuan tidak resmi dilarang. Para pemilik toko di Evian-les-Bains juga menutup etalase mereka menggunakan panel kayu untuk mencegah penjarahan dan kerusakan seperti yang pernah terjadi pada pertemuan serupa pada 2003.

















